Seunicah Oen Khas Nagan Hanya Ada di Bulan Ramadhan

BAGI masyarakat Nagan Raya, Seunicah Oen (Nicah Daun) bukanlah sesuatu yang asing terdengar

Seunicah Oen Khas Nagan Hanya Ada di Bulan Ramadhan
Salamah (80) seorang penjual Seunicah Oen yang merupakan makanan khas Ramadhan di Nagan Raya, merajang aneka dedaunan sebelum dijual ke konsumen di Kompleks Pasar Induk Jeuram, Kecamatan Seunagan, Nagan Raya, Selasa (21/6) siang. 

BAGI masyarakat Nagan Raya, Seunicah Oen (Nicah Daun) bukanlah sesuatu yang asing terdengar. Pasalnya, makanan yang berkomposisi aneka dedaunan hutan tersebut memang hanya bisa didapatkan dan dinikmati khusus pada bulan suci Ramadhan.

Konon, menurut kepercayaan sebagian masyarakat, dengan mengkonsumsi makanan tradisional tersebut, diyakini sangat baik untuk kesehatan. Dedaunan yang digunakan berkhasiat membuang racun di dalam tubuh, serta mengeluarkan angin di dalam badan.

Serambi yang penasaran dengan makanan khas ini mencoba mendatangi salah satu sudut pasar tradisional di kawasan Jeuram, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, Selasa (20/6). Tidak sulit menemukan pedagang yang menjual Seunicah Oen, meski hanya ada dua hingga tiga pedagang yang menjajakan makanan tersebut.

Adalah Salamah, nenek yang selalu setia menjual Seunicah Oen setiap bulan Ramadhan tiba. Nek Salamah mengaku telah berpuluh-puluh tahun menjajakan makanan khas tersebut. “Saya jualan Seunicah Oen ini khusus bulan puasa saja, selebihnya saya tak perna jualan,” katanya.

Mengenakan kerudung serba putih, ia melayani pembicaraan sambil merajang aneka dedaunan untuk memenuhi pesanan konsumen. “Rata-rata saya ambil dedaunan ini di sekitar hutan atau kebun, semuanya berkhasiat untuk kesehatan,” tambah Nek Salamah.

Ia juga mencampur racikannya dengan kelapa gongseng, batang serai, serta cabe rawit yang ia rajang bersamaan, sebagai penambah cita rasa. Setelah selesai, makanan tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang yang sebelumnya telah ia bakar di atas api. Harga per porsinya ia jual Rp 5.000.

Meski diminati masyarakat, namun terlihat bahwa hampir semua penjual dan perajang makanan tersebut merupakan kalangan perempuan paruh baya. Inilah yang dikhawatirkan, akankah makanan khas Nagan Raya ini terus lestari sepanjang masa? Semoga kelak ada generasi muda yang meneruskan keahlian Nek Salamah dalam meracik Seunicah Oen.(teuku dedi iskandar)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved