SerambiIndonesia/

Tafakur

Kesedihan Akhir Ramadhan

Sekiranya umatku mengetahui kebajikan-kebajikan yang bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan

Kesedihan Akhir Ramadhan

Oleh: Jarjani Usman

“Sekiranya umatku mengetahui kebajikan-kebajikan yang bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada sepanjang tahun” (HR. Abu Ya’la, ath-Thabrani, & ad-Dailami).

Berakhirnya Ramadhan, bagi sebahagian orang, adalah berakhirnya penderitaan. Kebebasan kembali diperoleh, tanpa harus menahan diri. Tapi tak demikian dengan orang-orang yang benar-benar beriman, berakhirnya Ramadhan adalah suatu kesedihan.

Bahkan dikatakan dalam suatu hadits, di malam terakhir Ramadhan, langit dan para malaikat menangis karena berlalunya bulan penuh keistimewaan. Bahkan, hal itu dikatakan Rasulullah SAW sebagai suatu musibah bagi umatnya.

Saat ditanya mengapa hal itu disebut musibah, Rasul SAW menjelaskan: “Dalam bulan itu segala doa mustajab, sedekah makbul, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur terkecuali, maka apakah musibah yang terlebih besar apabila semua itu telah berlalu?”

Sepatutnya semua kita bersedihn. Lebih-lebih lagi, kita tak tahu apakah akan bisa bertemu kembali dengan Ramadhan selanjutnya. Mungkin ada yang meninggalkan dunia ini selama-lamanya. Kalaupun masih hidup dan bertemu dengan Ramadhan selanjutnya, mungkin tak sesehat pada Ramadhan kali ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help