Mewarisi Nilai-nilai Puasa di Luar Ramadhan

PUASA Ramadhan adalah ibadah penting, merupakan satu dari lima rukun Islam

Mewarisi Nilai-nilai Puasa di Luar Ramadhan

Oleh Prof. Dr. H. Al Yasa’ Abubakar, MA . Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh Email: yasa.abubakar@gmail.com

PUASA Ramadhan adalah ibadah penting, merupakan satu dari lima rukun Islam. Secara sederhana, ibadah puasa bermakna menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami isteri mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Secara lughawiah, puasa (dalam bahasa Arab; shawm) bermakna menahan diri dalam arti yang luas.

Dalam Alquran, ketika menceritakan kelahiran Isa as, Allah menyuruh Maryam berpuasa, dalam arti tidak akan berbicara dengan orang lain (menahan diri dari berbicara). Ketika orang bertanya, mengapa dia mempunyai anak, Maryam memberi isyarat bahwa dia berpuasa, sehingga tidak boleh menjawab pertanyaan tersebut.

Sebagai ibadat, di samping menahan diri atas tiga hal di atas, orang berpuasa juga sangat diingatkan untuk secara lebih sungguh-sungguh menjaga lidah dari bergunjing, mengumpat, bertengkar dan memfitnah. Kalau perbuatan ini dilakukan, maka pelaku akan meperoleh dosa (karena melakukan pekerjaan yang dilarang) dan lebih dari itu akan kehilangan pahala dari ibadah puasanya.

Jadi, orang yang berpuasa di samping dilatih untuk menahan diri dari makan dan minum serta hubungan suami isteri, juga dilatih untuk tidak bergunjing dan memfitnah atau dalam arti yang lebih luas dilatih menhaan diri agar tidak melakukan sesuatu yang akan melanggar hak orang lain.

Puasa sebagai ibadah wajib yang rutin hanyalah dalam bulan Ramadhan. Di luar bulan Ramadhan ada beberapa macam puasa yang wajib dikerjakan sebagai denda (kaffarat) atas berbagai kesalahan, seperti kaffarat atas sumpah yang tidka dapat dipenuhi dan kaffarat atas pelanggaran-pelanggaran dalam ibadah haji. Adapun puasa sunat, ada beberapa yang diajarkan Rasulullah, seperti puasa Senin dan Kamis pada setiap pekan, puasa tiga hari setiap pertengahan bulan kamariah (tanggal 13, 14 dan 15), puasa Syawal, puasa Zulhijjah, dan beberapa macam puasa lainnya.

Berpikir jernih
Rasulullah saw juga menyuruh para pemuda yang sangat berkeinginan untuk menikah, tetapi tidak mampu memenuhi persyaratannya untuk berpuasa sebagai jalan keluarnya. Mungkin puasa yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan teratur akan menjadikan si pemuda mampu menahan diri dan berpikir jernih, sehingga tidak memaksakan diri untuk menikah ataupun mampu menjaga diri sehingga tidak tergelicir ke jalan yang salah.

Makna bahwa puasa berisi perintah dan latihan untuk menahan diri dari melakukan sesuatu yang dilarang, akan lebih terlihat lagi kalau keringanan (rukhshah) untuk puasa dibandingkan dengan rukhshah untuk shalat. Keringanan untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan diatur di dalam Alquran, diberikan kepada orang yang sakit, musafir, atau tidak sanggup berpuasa (misalnya karena menjadi pekerja berat, atau ibu yang hamil dan melahirkan).

Orang sakit atau musafir boleh tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan tetapi wajib menggantinya dengan berpuasa di luar bulan Ramadhan. Sedang orang yang tidak sanggup berpuasa karena pekerjaannya sangat berat, diberi izin untuk menggantinya dengan fidyah yaitu memberi makan satu orang miskin selama satu hari, untuk satu hari tidak berpuasa.

Namun Alquran menyatakan kalau orang tersebut mengganti puasa yang dia tinggalkan dengan berpuasa di luar Ramadhan, maka hal itu akan sangat baik, karena dalam puasa ada manfaat yang besar. Sedang perempuan yang sedang haidh atau nifas yang tidak boleh berpuasa, ini wajib mengggantinya setelah bulan Ramadhan usai.

Adapun rukhshah untuk shalat, diatur oleh hadis dalam bentuk pengurangan rakaat, serta peringanan dan pengubahan pekerjaan. Orang yang sedang musafir diberi izin mengurangi jumlah rakaat dari empat menjadi dua, dan mengerjakan dua shalat dalam satu waktu. Orang yang sakit diberi keringanan untuk mengerjakan shalat sambil duduk, bahkan berbaring. Sedang orang yang dalam keadaan takut diberi izin untuk mengerjakan shalat sambil berjalan ataupun berkenderaan.

Sekiranya pemberian rukhshah pada dua ibadat di atas dibandingkan, akan terlihat perbedaan penekanan antara pengamalan shalat dengan puasa. Shalat fardhu musti dikerjakan lima kali setiap hari, dengan cara semampunya dan sebisanya. Kelihatannya mengerjakan shalat lima kali setiap hari dengan cara seadanya adalah lebih penting dari pada mengerjakannya secara sempurna, tetapi dilakukan pada hari yang lain.

Sangat dianjurkan
Sedangkan ibadah puasa sangat dianjurkan untuk dikerjakan secara sempurna, walaupun harus dikerjakan di luar bulan Ramadhan. Ketika puasa tidak dapat dikerjakan secara sempurna (menahan diri dari makan dan minum, serta hubungan suami isteri selama siang hari), maka tidak diberi izin untuk dikerjakan secara seadanya (misalnya dengan berpuasa setengah hari saja, atau berpuasa atas makanan atau minuman tertentu saja). Orang tersebut disuruh menukar puasanya dengan pekerjaan lain, yaitu memberi makan orang miskin.

Dari uraian di atas, barangkali dapat ditarik kesimpulan bahwa hikmah dan nilai yang sepatutnya kita petik dari pengamalan ibadah puasa wajib dalam bulan Ramadhan dan bahkan semua puasa yang kita lakukan, baik yang wajib atau yang sunat adalah semangat dan kemampuan untuk berteguh hati ketika mengamalkan ibadah atau melakukan sesuatu pekerjaan. Bahwa kita tidak boleh mengerjakan sesuatu secara setengah hati. Puasa yang kita lakukan hendaknya dapat menanamkan keyakinan pada diri kita bahwa kita mampu mengerjakan pekerjaan yang telah kita mulai tersebut sampai selesai dengan kualitas yang baik.

Begitu juga kita harus berteguh hati dan tidak mudah tergoda dengan iming-iming ataupun janji-janji yang menyerempet bahaya, yang dapat menjerumuskan kita ke dalam perbuatan salah (yang syubhat ataupun yang haram) atau perbuatan yang secara langsung atau tidak akan merugikan orang lain secara tidak sah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help