Ramadhan Mubarak

Idul Fitri dan Psikologi Kebahagiaan

HANYA dalam hitungan jam, umat Islam di berbagai belahan bumi akan merayakan Hari Raya Idul Fitri yang merupakan

Idul Fitri dan Psikologi Kebahagiaan
AHMAD HUMAM HAMID e 

Oleh Ahmad Humam Hamid, Tenaga Pengajar Fak. Pertanian Universitas Syiah Kuala. Email: humamhamid@yahoo.com

HANYA dalam hitungan jam, umat Islam di berbagai belahan bumi akan merayakan Hari Raya Idul Fitri yang merupakan anti klimaks dari sebuah ujian besar dari Allah Swt. Tidak ada waktu lain yang relatif panjang bagi umat Islam untuk masuk dan menyelam dalam samudra empati yang paling dalam dan dasyhat untuk pengendalian diri, dan mencoba menjadi kaum miskin selain dari pada menjalani puasa bulan Ramadhan.

Sekolah empati yang diperintahkan oleh Allah Swt mempunyai hakikat yang sangat luar biasa, karena menyangkut ikhtiar “merasakan” penderitaan mereka yang tidak berpunya, yang selalu berpuasa setiap hari sepanjang tahun.

Kalaulah Idul Fitri disebut dengan hari kemenangan sesungguhnya, itu tidak lain dari perayaan kemenangan individu dalam menjalankan perintah Al-Khaliq, sehingga ia telah menjadi manusia baru yang semakin dekat dengan Allah Swt dan semakin mampu merasakan “penderitaan” saudaranya yang kurang beruntung. Ketika zakat fitrah dibayarkan, itu adalah pertanda formal awal empati, yang mungkin selama Ramadhan telah didahului dengan menyantuni anak yatim, fakir miskin, dan kerabat dengan sedaqah.

Dari empati ke simpati
Kehidupan yang tidak memiliki simpati, terutama kepada mereka yang kurang beruntung adalah kehidupan yang kering dan bebal, karena memang manusia pada hakekatnya mempunyai naluri mengasihi. Kepekaan untuk mengasihi hanya akan terawat jika dipraktikkan dalam kehidupan keseharian, dan akan bertambah jika ada upaya sengaja untuk terus menerus mengasahnya. Hanya dari empati, rasa simpati akan muncul dan bertambah, dan dengan dengan demikian, ketika puasa dan hari raya berlalu setiap tahun, idealnya “kadar” simpati umat terhadap mereka yang miskin semakin bertambah.

Perhatian Islam terhadap orang miskin dan kemiskinan luar biasa besarnya. Perhatian ini bukanlah sesuatu yang bersifat random, karena konsekuensi miskin dan kemiskinan dalam sejarah umat manusia, selalu melahirkan bencana untuk manusia dan kemanusiaan. Tidak kurang kitab suci Alquran menyebutkan 33 ayat yang menyangkut dengan miskin, baik dengan sebutan tunggal maupun jamak, yang secara jelas memberikan definisi dan menyerukan perhatian dan perlindungan dan terhadap orang miskin.

Sebutan “revolusi petani” pada judul tulisan ini, tidak lain dari sebuah representasi dan abstraksi tentang pergolakan sosial yang berlangsung dari abad ke abad yang berakar dari kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan. Statistik mencatat dalam sejarah, sejak 210 tahun sebelum Masehi sampai dungan pertengahan tahun sembilanpuluhan, telah terjadi lebih dari 130 revolusi petani yang berskala besar, tidak terhitung jumlahnya yang beskala sedang dan kecil (Wikipedia).

Namun dalam kacamata sejarah yang lebih besar, hanya pergolakan dan perang sajalah yang mampu meredam ketidakadilan. Tidaklah berlebihan kiranya jika Scheidel (2016) menyebutkan, sejak zaman batu sampai dengan hari ini hampir seluruh perang dan pergolakan di dunia bermula dari ketimpangan dan ketidakadilan, yang berhulu pada kemiskinan.

Seharusnya bukti empirik dan kesimpulan sejarah tentang bahaya kemiskinan untuk ummat manusia tidaklah terlalu baru untuk kita, karena Allah Swt telah memberikan sinyal antisipatif bencana lanjutan dari kemiskinan. Alquran juga dengan tegas menempatkan posisi kemiskinan, cara untuk memperoleh empati dan bersimpati terhadap orang miskin, dan pola dasar pemerataan yang terstruktur. Disebutkan dalam Alquran, “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Mereka itu yang mencerca anak-anak yatim dan tidak memberi makan orang-orang miskin.” (QS. al-Maun: 1-2).

Psikologi kebahagiaan
Ketika ada sebutan kebahagiaan pada hari raya Idul Fitri ,banyak orang lupa tentang esensi bahagia dan kebahagiaan. Panggilan agama untuk berpihak dan memberi kepada orang miskin secara tidak disadari adalah cara memperoleh kebahagiaan yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt kepada kita. Memberi, sesungguhnya menjadi manusia aktif,bukan pasif, karena kita berbahagia bukan dengan kebanggaan dengan apa yang kita miliki, tetapi karena apa yang kita lakukan untuk orang lain. Aksi memberi, membuat harta dan ilmu bukan lagi menjadi kebanggaan indentitas yang melekat, melainkan hanya menjadi sarana untuk membantu orang lain.

Memberi dan berbagi adalah cara manusia meniru dan mengerjakan sifat Ilahiah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Tindakan ini akan menciptakan arus balik energi yang menciptakan kebahagian kepada individu pemberi. Sampai disini terlihat sudah bahwa kebahagian yang hakiki hanya akan datang ketika kita mampu membuat pihak lain merasakan kebahagian akibat dari perbuatan kita. Dengan berbagi kita tidak pernah kehabisan kebahagian, bahkan kebahagiaan akan terus mengalir tiada henti. The more you give the more you get.

Ketika kita menyatakan esensi kehidupan Islami adalah mencari ridha Allah Swt, maka sepatutnya pula kita mencari tahu tentang pekerjaan-pekerjaan yang dicintai oleh Nya. Rasulullah saw menyebutkan satu kebahagian ia peroleh ketika membantu kaum papa. Baginda bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Thabrani “Amal yang paling dicintai Allah yaitu rasa senang yang engkau masukkan ke dalam hati seorang muslim, atau engkau hilangkan rasa laparnya, atau engkau lunaskan hutang-hutangnya, atau engkau hilangkan kesulitannya. Sungguh, aku menemani saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku sukai dari pada i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.”

Jika kita bertekad untuk mencari Ridha Allah dan ingin mencapai kebahagian yang hakiki, maka sikap berbagi dan memberi harus menjadi kebiasaan dan kebutuhan sehari-hari. Sekolah empati akan segera kita lalui. Luncuran formal simpati dalam bentuk zakat fitrah akan kita penuhi. Kini, saatnya kita betekad menggapai kebahagiaan, mencari ridha Allah Swt dengan saling berbagi dan memberi. Insya Allah.

Selamat menyambut dan merayakan Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir dan batin!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved