Keharuman Socolatte yang Menggoda

JIKA anda ke Aceh, jangan lupa mampir di Kabupaten Pidie Jaya, tepatnya di KM 136 Desa Musa Baroh, Kecamatan

Keharuman Socolatte yang Menggoda
Outlet Socolate di Gampong Musa Baroh, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. SERAMBI/NUR NIHAYATI 

JIKA anda ke Aceh, jangan lupa mampir di Kabupaten Pidie Jaya, tepatnya di KM 136 Desa Musa Baroh, Kecamatan Bandar Baru. Di sana lah outlet sekaligus dapur produksi socolatte. Cokelat khas yang menawarkan citarasa unik. Rasakan bedanya saat lelehan cokelat lumer ke dalam mulut. Mau makan di tempat atau membawa pulang? Bisa.

Menggunakan bahan baku berupa bijih cokelat dari petani lokal, socolatte menawarkan rupa-rupa olahan yaitu permen cokelat, bubuk cokelat, minuman cokelat, brownies cokelat, hingga timphan cokelat. Timphan merupakan kudapan tradisional yang kerap hadir dalam hari besar atau perayaan seperti tatkala Lebaran.

Pimpinan Socolatte, Irwan Ibrahim ditemui Serambi, Minggu (4/6) mengaku memiliki 32 tenaga kerja yang berasal dari desa setempat. Cokelat bernama Socolate itu semuanya dibuat langsung dari tangan terampil wanita Aceh. Irwan menuturkan, sebetulnya peluang pemasarannya besar. Namun ia mengaku tak sanggup memenuhi permintaan sampai ke luar daerah kerena keterbatasan mesin.

“Kami pasarkan sampai ke Banda Aceh dan ke arah timur sampai ke Kuala Simpang, jadi produksi dilakukan hanya untuk lokal saja,” tutur Irwan.

Tempat pengolahan cokelat memiliki beberapa ruang. Terdiri atas ruang pemasaran di bagian paling depan, lalu di bagian belakang ada ruang bahan mentah, ruang pengolahan, hingga ruang pengemasan. Di outlet itu selain menawarkan kuliner untuk ditenteng sebagai oleh-oleh, juga tersedia 25 seat meja untuk pengunjung. Lokasinya yang terletak di sisi lintas Jalan Nasional Banda Aceh-Medan, membuatnya pas untuk tempat rehat bagi pemudik.

Riwayat socolatte
Tak mudah bagi Irwan memperkenalkan socolatte. Sebagai produk olahan cokelat pertama di Aceh, ia harus memikirkan mengelola bisnis kuliner itu dari hulu ke hilir. Socolatte mulai diproduksi sejak tahun 2010, namun usaha ini sudah dirintis sejak tahun 2003. Penjajakan pasar terus dilakukan hingga tujuh tahun kemudian atau tepatnya 2010, socolatte berproduksi.

“Bahan baku juga dipetik dari hasil kebun petani Aceh. Sekira 1 ton per bulan buah cokelat dibeli dari petani sekitar,” beber Irwan. Diakui Irwan, awalnya ia banyak mendapat kritikan terkait usaha yang diretasnya itu. Namun kesabarannya berbuah manis. Dibantu tenaga teknis dan tenaga ahli cokelat dari Jepang, lahirlah cikal bakal produk-produk Socolatte yang memiliki citarasa dan aroma khas Aceh.

Irwan yang merupakan putra asli daerah setempat mengaku, ide lahirnya pabrik cokelat berawal karena Pidie Jaya merupakan salah satu lumbung penghasil cokelat. “Saya menginginkan coklat di sini bisa dihasilkan dan diolah di sini (di pedesaan),” tuturnya.

Menurut Irwan, menjelang Hari Raya Idul Fitri biasanya permintaan Socolatte bisa naik tiga kali lipat dari biasanya. Sehingga ia menyetok permintaan cokelat dan dikemas dalam bungkus warna warni dalam aneka rasa. Sebut saja rasa kacang, kismis, kopi, jahe, dan juga rasa madu. Selain rasanya yang lezat, cokelat juga mempunyai khasiat kesehatan yaitu mencegah penyakit seperti stroke dan jantung.

Untuk minuman cokelat panas dan dingin ditawarkan dalam berbagai pilihan harga, mulai Rp 13.000 hingga Rp 20.000. Sementara untuk Socolatte cokelat batangan dan cokelat dalam bentuk padat lainnya juga disediakan dengan varian harga, mulai Rp 8.000-35.000 per batang atau pak. Socolatte menebar wangi kekayaan alam Aceh. Datang dan buktikan sendiri. (Nurnihayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved