Longsor Isolir Tujuh Desa

Longsor terjadi di Jalan Kecamatan Sekrak yang menghubungkan tujuh desa, tepatnya di Dusun Lubuk Berteh

Longsor Isolir Tujuh Desa
KONDISI badan jalan yang menghubungkan tujuh desa tertimbun material longsor di Dusun Lubuk Berteh, Kampong Lubuk Sidup, Kecamatan Sekrak, Aceh Tamiang, Jumat (30/6). 

KUALASIMPANG - Longsor terjadi di Jalan Kecamatan Sekrak yang menghubungkan tujuh desa, tepatnya di Dusun Lubuk Berteh, Kampong Lubuk Sidup, Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat (30/6) siang. Material longsor menutupi seluruh badan jalan sepanjang 20 meter dengan ketebalan hingga tiga meter.

Datok Tanjong Gelumpang Syahlan kepada Serambi, Jumat (30/6) mengatakan, longsor terjadi pada pukul 14.30 WIB sesaat setelah seorang warga Tanjong Gelumpang melintasi jalan tersebut. Akibat langsor ini, tujuh desa terisolasi akses transportasinya, karena jalan aspal ini merupakan satu-satunya jalan yang dilintasi warga selama ini.

Di lokasi longsor, tambah Syahlan, tumpukan tanah longsor menutupi badan jalan sepanjang 20 meter dengan ketebalan tiga meter. Kondisi ini membuat pengguna jalan yang rata-rata berkendaraan sepeda motor terpaksa berantrean, baik dari arah Tanjong Gelumpang menuju Kualasimpang maupun sebaliknya. “Kejadian ini sudah saya sampaikan kepada camat dan BPBD agar segera diatasi, apalagi saat ini masih suasana Lebaran. Warga menggunakan akses jalan ini untuk menyambung silaturahmi,” kata Syahlan.

Jalan ini merupakan jalan utama yang dilintasi warga tujuh desa, yakni Gampong Tanjong Gelumpang, Sikumur, Pematang Durian, Juar, Sulum, Gampong Suka Makmur, dan Gampong Baleng Karang. Selama ini lintasan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, terutama mengangkut hasil pertanian dan perkebunan.

Memang ada jalan alternatif lain menuju ibu kota Kabupaten Karang Baru, yakni dengan menggunakan penyeberangan getek alias rakit Sungai Tamiang ke Kecamatan Bandar Pusaka, lalu melintasi jalan darat. Akan tetapi, jaraknya lebih jauh.

Jalan alternatif lainnya menggunakan jalan kebun milik PT PPP, tetapi kondisinya juga rusak parah, bahkan sudah lama tidak dilewati warga. “Namun untuk penyeberangan getek tidak dapat digunakan, karena arus sungai yang kuat. Pengelola getek tidak berani ambil risiko,” ujarnya.

Pihaknya berharap BPBD, Dinas PU, dan unit alat berat di bawah DPKA Aceh Tamiang segera mengirimkan alat berat untuk memindahkan material longsor tersebut, sehingga transportasi kembali lancar di jalan utama tersebut.

Setelah menerima laporan dari Datok, Tim SAR Aceh Tamiang bergerak cepat. Puluhan personel dikirimkan ke lokasi, Jumat siang. Mereka bekerja secara manual, membuat jalan alternatif untuk sepeda motor dengan mencangkul tanah yang menutupi sebagian badan jalan tersebut. “Ada satu meter dari pinggir jalan yang dibuat jalan alternatif,” ujarnya. Namun, jalan alternatif tersebut sangat rawan, karena berada persis di pinggir Sungai Tamiang yang airnya sangat dalam. “Kondisinya sangat rawan dan berisiko, karena kedalamannya lebih dari 30 meter, “ tambah Datok Syahlan.(md)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved