Opini

Mempertahankan Kefitrahan

RAMADHAN telah berlalu, hari nan fitri pun tiba. Hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa dalam

Mempertahankan Kefitrahan
Umat muslim melaksanakan Shalat Idul Fitri 1438 Hijriah, di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (25/6). SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Zarkasyi Yusuf

RAMADHAN telah berlalu, hari nan fitri pun tiba. Hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa dalam ramadhan dengan berbagai macam tantangan, satu harapan yang pasti bahwa Allah Swt menerima segala amal perbuatan kita serta mengampuni setiap dosa dan kealpaan yang kita lakukan, sehingga meraih kefitrahan (kesucian).

Dalam buku Wawasan Al-Qur’an, Quraish Shihab memberikan makna Idul Fitri; kembali keadaan asal penciptaan manusia, yaitu terbebas dari dosa dan noda, sehingga ia kembali berada dalam kesucian. Bahkan, populer diucapkan ketika Hari Raya Idul Fitri adalah minal ‘aidin wal faizin (orang yang kembali dan beruntung).

Kembali fitri, adalah sebuah keberuntungan yang perlu dipertahankan dalam kehidupan. Sebab, hari hari yang dilalui manusia penuh dengan halang-rintang yang mencemari dan mengotori asal penciptaan manusia itu sendiri (fitrah). Orang-orang yang beruntung dalam kehidupan ini, tentu akan diganjar dengan balasan yang setimpal oleh Allah, yaitu mendapatkan surga sebagaimana firman-Nya, “Penghuni surga adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr: 59). Tidak hanya itu, Allah juga akan melepaskannya dari api neraka, “Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185).

Sebagaimana dimaklumi, bahwa setan tentu tidak akan pernah senang jika manusia menjadi makhluk yang beruntung dengan tetap menjaga kefitrahan, ia pasti akan melancarkan manuver-manuver untuk merusak kefitrahan manusia dengan berbagai macam cara dan strategi. Jika manusia tidak teliti dan jeli melihat perangkap-perangkap setan, maka pastilah kefitrahan akan ternodai, berubahlah kondisi manusia dari suci menjadi berdosa. Apa sebenarnya yang harus kita lakukan agar dapat mempertahankan kefitrahan?

Taubat kepada Allah
Pertama, taubat. Allah Swt berfirman, “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang orang yang beriman, supaya kamu menjadi orang yang beruntung (menang).” (QS. An-Nur: 24). Perlu dicatat, bahwa taubat adalah kewajiban bagi setiap manusia (fardhu `ain), sebab setiap orang pasti ada dosanya.

Ada beberapa unsur pokok taubat yang harus dijalani ketika manusia menyatakan dirinya untuk bertaubat, yaitu: Pertama, menyesali perbuatan dosa, menyesal adalah bahagian dari taubat, demikian sabda Rasulullah (Ibnu Majah (4252), Ahmad; 1/376 dan Baihaqi; 10/154). Salah satu ciri orang yang telah benar-benar menyesali perbuatannya adalah lewat kucuran air matanya ketika mengenang masa lalunya yang kelam, serta hatinya menjadi lembut;

Kedua, menjauhkan diri dari segala dosa, di mana pun dan kapan pun. Penyesalan yang timbul akan melahirkan tekad untuk tidak mengulangi setiap kesalahan yang telah diperbuat, serta mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa dosa adalah penghalang besar dan terjal antara hamba dan Rabb-nya;

Ketiga, bertekad tidak akan mengulangi melakukan dosa kembali. Tekad orang yang menyatakan dirinya bertaubat akan terlihat dari usahanya dalam menjauhkan setiap hal yang mampu menjerumuskannya melakukan kembali perbuatan dosa, dan; Keempat, jika kesalahannya itu berkaitan dengan manusia lain, memohon maaf dan izin kepada yang bersangkutan.

Cara mempertahankan kefitrahan selanjutnya adalah takwa. Orang takwa adalah orang yang mulia, sebagaimana firman Allah, “Di sisi Allah, orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling takwa.” (QS. al-Hujurat: 49). Secara sederhana, taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik ketika dilihat orang ataupun tidak. Satu jalan mendapatkan ketakwaan adalah dengan ibadah puasa Ramadhan (QS. al-Baqarah: 183). Ibadah tersebut sudah kita lalui beberapa waktu yang lalu, satu harapan kita semua adalah puasa yang kita jalani diterima Allah dan ketakwaan dapat kita raih.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved