Perburuan Harimau Sumatera Meningkat

Perburuan Harimau Sumatera di kawasan hutan lindung pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong

Perburuan Harimau Sumatera Meningkat
Honolulu Zoo

* Diduga Dijual di Pasar Gelap

SUKA MAKMUE - Perburuan Harimau Sumatera di kawasan hutan lindung pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya dilaporkan meningkat.

Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah IV Aceh Usman kepada Serambi kemarin mengatakan fakta ini diperoleh setelah tim pengawas hutan bersama LSM Forum Konservasi Leuser pada Selasa (20/6) lalu menemukan dua perangkap harimau tidak jauh dari ruas jalan di lintasan Nagan Raya-Takengon.

“Kita menduga, pelakunya warga sekitar. Karena perangkap ini terpasang sangat dekat dengan badan jalan,” kata Usman. Pihaknya mensinyalir perburuan harimau dengan memasang perangkap di kawasan hutan lindung tersebut telah berlangsung lama. Sebab, tim pengawas juga menemukan sejumlah tengkorak kera dan kucing di kawasan tersebut.

Menurut Usman KPH Wilayah IV Aceh dalam waktu dekat segera berkoordinasi dengan BKSDA Aceh untuk melakukan pencegahan sekaligus memastikan siapa pelaku yang selama ini kerap memburu Harimau Sumatera di kawasan hutan lindung Gunung Singgah Mata, Nagan Raya.

Seperti diberitakan KPH Wilayah IV Aceh bersama aktivis Forum Konservsi Leuser, Selasa (20/6) lalu sekira pukul 13.30 WIB menemukan dua perangkap yang diduga digunakan untuk menjerat harimau di kawasan hutan lindung di Pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya.

Temuan perangkap ini berada tidak jauh dari ruas jalan nasional lintasan Nagan Raya-Aceh Tengah atau sekira 10 meter dari pinggir jalan dengan jarak sekitar 6-7 kilometer dari Ulee Jalan, Ibukota Kecamatan Beutong.

Saat ditemukan petugas bersama Field Wilayah III Forum Konservasi Leuser (FKL) Istafan Najmi, perangkap harimau tersebut terbuat dari besi dan diduga kuat telah lama ditempatkan di lokasi tersebut. Tak hanya itu, petugas juga menemukan sejumlah tengkorak dan tulang belulang yang diduga merupakan tengkorak kera dan kucing.

Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah IV Aceh Usman juga menambahkan perburuan Harimau Sumatera diduga turut melibatkan pihak lain. Biasanya kulit harimau yang telah ditangkap warga lalu diawetkan, dijual di pasar gelap. Selain itu, kata Usman, sejumlah organ tubuh harimau juga dijual pelaku di pasar gelap dengan harga tinggi. “Kita berharap aksi perburuan Harimau Sumatera ini bisa segera dihentikan, dan pelakunya ditangkap,” tegasnya.(edi)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved