SerambiIndonesia/

Puisi

Angin Pagi Koetaradja

angin pagi Aidul Fitri disini dahulu angin segar meneguk gurih asap penganan

Angin Pagi Koetaradja
Fikar W Eda, seniman nasional Buya Kopi dari Sanggar Matahari Jakarta, tampil pada acara festival Leuser 2016 di Lapangan Jenderal Ahmad Yani Kutacane SERAMBI/ASNAWI 

Karya Hasbi Burman

angin pagi Aidul Fitri disini dahulu
angin segar meneguk gurih asap penganan
kicau burung merdu
bahasa bahasa penghulu
aku dan sejumlah anak muda tamasya
yang sering disebut hari raya
lebaran kata orang sekarang
entah yang lebar apa?
yang nyata kita orang pandai berbasa basi
berdagang dengan ilusi.

Kutaraja, 2017

Malam Takbiran 1970

sekali sekali tabuh beduk dikejauhan
dan malam takbiran
Diperkampungan riuh rendah meriam bambu
suara derai angin dirumpun bambu
yang perawan.

sekali sekali aku memandang
kembang api bertebaran dibawah awan
ada pacar pacar kadang kadang antar makanan
lupis lemang tapai
dan rendang.

wahai kapan itu terulang lagi.

Koetaradja, 2017

Dari Wedana

Aidul Fitri di enam puluhan
aku masih Sekolah Rakyat
penguasa mengerti tentang anak negeri
rakyat tidak mengeluh
berlabuh dalam kemewahan.

Aidul Fitri 5

sebaris angin pagi Aidul Fitri
ada yang bingung
di kampung kampung
tanpa kuweh muweh seperti dahulunya.
tanpa lemang tapai. ada yang teriak takbir di atas lumbung.

Kami hanya takbiran tanpa apa apa.
memuji Tuhan di persawahan. Bersama kicau burung burung.

Kutaradja, 2017

Aidul Fitri 1

situasi yang terkoyak koyak
anak anak menagih baju baru pada ayahnya
tanpa meriam bambu dan petasan mainan
seperti dahulu kala saat raja masih adil dan bijaksana

Kutaradja, 2017

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help