SerambiIndonesia/

Eufemisme, Salah Satu Cara Menghindari Tabu Nama Binatang dalam Masyarakat Aceh

Eufemisme secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu euphemismos. Kata eu yang berarti

Eufemisme, Salah Satu Cara Menghindari Tabu Nama Binatang dalam Masyarakat Aceh

Oleh: Junaidi, S.Pd., M.Pd. Pengajar di Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh

Eufemisme secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu euphemismos. Kata eu yang berarti ‘baik’ dan pheme berarti perkataan. Eufemisme adalah menggantikan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan katakata lain yang lebih pantas atau dianggap halus (Keraf dalam Sudarsana, 2007:67).

Eufemisme merupakan ungkapan yang berbentuk kata atau frasa yang dianggap lebih halus, sopan, dan aman untuk menggantikan ungkapan lain yang dianggap tidak sopan atau dipercaya dapat mendatangkan bahaya. Kebiasaan menghaluskan kata sudah menjadi bagian budaya masyarakat dari berbagai daerah dengan beragam karakteristiknya, termasuk masyarakat Aceh, khususnya masyarakat Aceh yang B1-nya menggunakan bahasa Aceh. Eufemisme muncul sebagai bentuk kebutuhan kata-kata untuk menggantikan ungkapan-ungkapan yang dianggap tabu dalam masyarakat. ufemisme hanya digunakan pada jenis tabu kata-kata, sedangkan tabu sumpah serapah tidak berlaku eufemisme.

Tabu nama binatang adalah larangan mengucapkan secara langsung terhadap binatang yang ditabukan namanya. Menyebutkan secara langsung terhadap bintang tertentu dianggap dapat mengundang bencana atau ketakutan. Binatang atau hewan tertentu yang ditabukan dalam masyarakat Aceh diyakini memiliki sesuatu kekuatan yang suci dan berhubungan dengan sesuatu yang “magi”.

Ada dua hal yang menyebabkan masyarakat Aceh tabu menyebutkan nama binatang yang ada di sekitarnya. Pertama, binatang tersebut dianggap memiliki kekuatan yang dahsyat dan menakutkan. Binatang itu adalah binatang buas. Kedua, binatang yang ditabukan namanya karena kepercayaan masyarakat terhadap binatang tersebut. Binatang tersebut dianggap “suci” dan memiliki pemahaman yang halus terhadap manusia, sehingga harus disakralkan.

Binatang tersebut di atas apabila dijumpai oleh seseorang pada tempat atau situasi tertentu tidak boleh disebutkan namanya secara langsung. Hal ini dilakukan masyarakat Aceh agar terhindar dari serangan kebuasan binatang tersebut. Misalnya, seseorang yang sedang berada di hutan, apabila bertemu dengan binatang buas tersebut akan menyulih nama binatang tersebut dengan sebutan lebih halus. Bentuk halus sebutan yang digunakan masyarakat Aceh terhadap binatang itu sebagai bentuk rasa hormat.

Misalnya, gajah disulih dengan sebutan po meurah atau teungku rayeuk, rimueng disulih dengan sebutan nèk, uleu disulih dengan sebutan ukheu kayèe, dan cagèe disulih dengan ungkapan meutuwah. Jika seseorang sedang berada di air, seperti di kali atau muara yang diyakini ada buayanya, seseorang dilarang menyebut secara langsung buya, karena ditakuti buaya akan datang dan menyerangnya.

Untuk menghindari penyebutan nama langsung reptil itu, seseorang dapat menyulihnya dengan sebutan teungku waki. Memarahi tikus dalam masyarakat Aceh juga dilarang, apalagi sampai memakinya. Misalnya, apabila seorang petani melihat tanamannya diserang tikus atau pemilik rumah melihat tikus merusak barangnya, orang tersebut dilarang memarahinya dengan mengatakan tikôh paleh ‘tikus celaka’. Jika terjadi hal demikian, tikus harus disemangati dengan sebutan po ti, nyak ti, atau meutuwah agar tikus pergi dan tidak mengganggunya lagi.

Jika seseorang sedangberada di bibir pantai; di air beriak, tidak boleh seseorang menyebut-nyebut keutuka. Hal ini ditakuti keutuka akan datang dan menyerang mereka. Sebutan yang halus untuk bintang air yang disakralkan itu adalah meutuwah. Jika sedang di air berlumpur, seseorang dilarang mengatakan lintah. Ditakuti lintah akan datang menyerang orang yang menyebut namanya secara langsung itu. Jika melihat lintah di air, orang harus menyemangatinya dengan sebutan meutuwah agar lintah menjauh.

Selain itu, jika melihat kerumunan lebah yang sedang berdiam di suatu tempat, masyarakat Aceh dilarang menyeru unoe kleueng tak ‘lebah disambar elang’. Seruan tersebut ditakuti akan membuat lebah marah dan menyerang orang yang menyeru demikian. Apabila bertemu serangga atau binatang yang disakralkan itu, masyarakat Aceh dianjurkan menyemangatinya dengan sebutan meutuwah, agar kumpulan lebah tersebut menjauh.

Perlu diketahui bahwa, sebutan meutuwah kadangkala juga lazim digunakan sebagai panggilan halus yang umum untuk semua jenis binatang buas dan sakral tersebut. Nama-nama binatang yang ditabukan di atassebenarnya akan menjadi tabu dalam masyarakat Aceh, tergantung dalam konteks siapa, apa, bagaimana, di mana, dan kapan ujaran tersebut diujarkan. Hal ini sesuai pendapat Purwo (1990:21) yang menyatakan unsur-unsur konteks adalah siapa yang mengatakan kepada siapa, tempat, dan waktu diujarkannya suatu kalimat.

Oleh sebab itu, ujaran yang dianggap tabu pada konteks tertentu belum tentu dapat menjadi tabu pada konteks lainnya. Selain bentuk eufemisme atau penghalusan untuk menggantikan tabu binatang buas dan disakralkan di atas, masyarakat Aceh juga kadangkadang menggunakan bentuk lain untuk menghindari tabu nama binatang tersebut, yakni dengan cara diam atau berbisik.

Eufemisme terhadap penyebutan langsung nama binatang buas dan disakralkan merupakan salah satu fenomena budaya yang telah lama berkembang dalam masyarakat Aceh maupun masyarakat lainnya di Nusantara. Bukan mengajak untuk percaya pada hal tahayul yang dapat menyebabkan syirik.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help