8 Pengurus Inti Perindo Aceh Mundur

Sebanyak delapan orang pengurus inti Dewan Pengurus Wilayah Partai Persatuan Indonesia Raya (DPW Perindo)

8 Pengurus Inti Perindo Aceh Mundur
SERAMBINEWS.COM/MASRIZAL

BANDA ACEH - Sebanyak delapan orang pengurus inti Dewan Pengurus Wilayah Partai Persatuan Indonesia Raya (DPW Perindo) Aceh dikabarkan mengundurkan diri jabatan yang selama ini diemban. Kedelapan orang pengurus itu terdiri atas sekretaris, wakil sekretaris umum, dan enam wakil ketua yang membidangi beberapa bidang pada partai berlambang rajawali tersebut.

Kabar mundurnya delapan pengurus eksekutif DPW Perindo itu dikatakan oleh Rahmat ST MT yang selama ini menjabat sebagai Sekretaris Umum DPW Perindo Aceh, dalam konferensi pers di Banda Aceh, Minggu (2/7). Rahmat sendiri dengan tegas mengatakan, bahwa dirinya telah mengundurkan diri dan sudah melayangkan surat ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perindo di Jakarta.

“Saya pribadi selaku sekretaris umum sudah mengajukan surat pengunduran diri ke DPP sebelum puasa dan Sekjen DPP merespons hal itu, beliau datang ke Aceh. Kalau teman-teman lain belum mengajukan surat, tapi sudah menyatakan mengundurkan diri,” kata Rahmat dalam konferensi pers kemarin.

Rahmat mengatakan, alasan dirinya dan rekan-rekan hengkang dari kepengurusan, disebabkan manajerial dari seorang ketua umum yang dinilai tidak bisa mengakomodir para pengurus di bawahnya selama ini. Sosok Ketua Umum DPW Partai Perindo Aceh dinilai terlalu menunjukkan sikap egoisnya dalam menahkodai partai dan tidak kooperatif dalam memimpin, hal itu yang membuat ia dan tujuh rekannya hengkang.

“Semua teman yang keluar disebabkan kepribadian ketua itu sendiri, ia tidak bisa memanage dengan baik, ego dan sikap one man show-nya terlalu tinggi. Dalam rapat diputuskan begini, tapi keluar ruang rapat berubah 180 derjat, ia menjalankan ide-ide pribadinya tanpa menghargai apa yang telah digagas bersama,” kata Rahmat.

Sehingga apa yang diwacanakan oleh pengurus tidak sesuai dan tidak ada manfaat sama sekali. Menurut Rahmat, hal-hal seperti itu terus terjadi selama ini dan terjadi akumulasi sehinggi membuat dirinya dan rekan-rekan berang. “Lalu kita memutuskan untuk mundur saja, rekan-rekan kecewa. Persoalannya itu, bukan masalah yang lain, memang soal manajerial seorang pimpinan yang menurut kami kurang baik,” ujarnya.

Rahmat mengatakan, kondisi seperti itu sudah terjadi sejak pembentukan awal partai besutan Hary Tanoesoedibjo itu di Aceh. Hal tersebut yang membuat kepengurusan DPW Perindo Aceh sering gonta-ganti kepengurusan. “Kurang lebih sejak kepengurusan ini terbentuk, sudah ada tiga kali yang mengundurkan diri lalu diganti lagi. Biasanya sekretaris tinggal, tapi kali ini sekretaris ikut mundur yang tinggal hanya ketuanya saja,” ujar Rahmat.

Ia menambahkan, persoalan tersebut sebenarnya sudah disampaikan ke DPP. Namun, Rahmat dan kawan-kawan menilai, DPP tidak merespons positif hal tersebut sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan pengurus. Padahal, kata Rahmat, semua mereka menginginkan perubahan dari puncak kepemimpinan. “Sekarang kami yang keluar ini ada yang kembali ke partai induk ada juga yang hijrah ke partai baru. Intinya kita tegaskan, pengunduran diri ini disebabkan soal sosok ketua umum, bukan persoalan lain,” pungkasnya.

Ketua Umum DPW Perindo Aceh, Hamdani Hamid yang dikonfirmasi Serambi kemarin, mengatakan, hingga saat ini dirinya mengaku belum menerima surat pengunduran diri dari delapan orang pengurus tersebut. Namun, jika memang benar mereka mengundurkan diri, ia mengatakan itu adalah hak mereka.

“Kalau ada yang mengundurkan diri, itu hak prerogatif mereka, hak prerogatif seseorang. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk bertahan dalam kepengurusan ini,” kata Hamdani Hamid.

Seharusnya, jika memang ada persoalan di tingkat internal, kata Hamdani Hamid, diselesaikan di tingkat internal. Untuk hal-hal yang mencuat di internal DPW Partai Perindo, sebenarnya sudah diselesaikan saat Sekjen DPP Perindo datang ke Aceh beberapa waktu lalu. “Saat itu sudah disampaikan unek-uneknya, puncaknya saat sekjen datang dan sudah diminta pendapat masing-masing pengurus,” sebutnya.

Terkait tudingan dirinya yang tidak kooperatif dan tidak mengakomodir pendapat para pengurus, Hamdani menyebutkan, ia selaku pimpinan sudah bekerja profesional dan sesuai aturan partai. Dalam kebijakan apapun, ia selalu membuka ruang bagi semua pengurus untuk menyampaikan usulan.

“Tapi hal itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk menyampaikan usulan. Begitu selesai rapat, baru dia bicara, mengoceh, ini tidak beres itu tidak beres. Mereka duduk di warung kopi lalu mendeskreditkan kepemimpinan saya,” ujarnya.

Hamdani Hamid juga menegaskan, jika ada yang menghendaki dirinya untuk mundur dari jabatan sebagai ketua, itu adalah hak DPP Perindo. Karena jabatan yang ia emban selama ini adalah amanah dari DPP untuk dirinya. “Saya selaku pimpinan menyadari betul bahwa saya bukan dipilih, tapi ditunjuk. Kapan saja mau diganti itu adalah hak prerogatif DPP,” demikian Hamdani Hamid, Ketua DPW Perindo Aceh. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved