SerambiIndonesia/

Aceh Masih Kurang Pupuk Bersubsidi

Pupuk bersubsidi yang diberikan Pemerintah Pusat untuk Aceh tahun ini masih jauh kurang dibanding

Aceh Masih Kurang Pupuk Bersubsidi
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN

BANDA ACEH - Pupuk bersubsidi yang diberikan Pemerintah Pusat untuk Aceh tahun ini masih jauh kurang dibanding kebutuhan petani. Hal ini hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, pupuk subsidi masih sering langka di Aceh, terutama saat musim tanam padi rendeng dan gadu, sehingga petani harus membeli pupuk jenis sama, tapi nonsubsidi yang tentunya harga lebih mahal, seperti pupuk urea, SP-36, ZA, Organik, dan NPK.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Aceh, Drs Hasanuddin Darjo menyampaikan hal ini ketika menjawab Serambi seusai menghadiri acara pelantikan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh di Gedung DPRA, Rabu (5/7).

“Kelangkaan itu terjadi karena kuota pupuk bersubsidi yang diberikan pusat untuk Aceh baru mampu memenuhi 33 persen dari kebutuhan petani. Selain itu, penggunaan pupuk di sektor tanaman pangan setiap tahun terus meningkat,” kata Hasanuddin Darjo.

Hasanuddin mencontohkan kebutuhan pupuk jenis urea di Aceh untuk musim tanam gadu dan rendeng 196.539 ton (sekitar 522.000 hektare lahan). Tetapi kuotanya hanya berkisar 66.400 ton atau baru mampu memenuhi 33,78 persen dari rencana definitif kegiatan kelompok (RDKK) petani.

Jenis SP-36 kuota yang diberikan malah lebih kecil dari kuota pupuk bersubsidi jenis urea. Kebutuhannya sekitar 133.191 ton, kuotanya hanya 20.743 ton atau baru mampu memenuhi 15,57 persen. Begitu juga jenis ZA. Kebutuhannya 84.017 ton, kuota 10.877 ton, NPK kebutuhannya mencapai 187.246 ton, kuota hanya 42.100 ton atau baru memenuhi 22,498 persen, pupuk organik kebutuhannya 466.806 ton, kuotanya 14.200 ton atau baru 3,04 persen.

Sedangkan Kabid Sarana dan Prasarana Pertanian/Perkebunan, Fakhrurrazi SP MSc mengatakan kelangkaan pupuk subsidi juga terjadi lantaran perbedaan harga dengan pupuk nonsubsidi sangat jauh. Untuk subsidi Urea Rp 90.000/50 Kg, SP-36 Rp 100.000/50 Kg, ZA Rp 70.000/50 Kg, NPK Rp 115.000/50 Kg, dan Organik Rp 20.000/40 Kg. Sementara harga nonsubsidi, Urea Rp 250.000/50 Kg, SP36 Rp 250.000/50 Kg, ZA Rp 160.000/50 Kg dan NPK Rp 450.000/Kg.

“Apalagi varietas padi petani sekarang ini umumnya beproduktivitas tinggi, yaitu antara 6-8 ton/hektar. Jadi kalau mereka beli pupuk nonsubsidi yang harga tidak terlalu mahal, petani masih bisa menerima untung besar saat panen. Tapi karena harga pupuk nonsubsidi cukup mahal, petani bisa rugi besar pada saat panen, kendati harga gabah di Aceh tergolong tinggi Rp 4.500-5.500/Kg,” sebut Fakrurrazi.

Untuk mengurangi kelangkaan selama ini, kata Hasanuddin Darjo, pihaknya antara lain menarik jatah bulan depan yang belum terpakai untuk disalur langsung pada bulan berjalan. Selain itu, mengalihkan jatah pupuk subsidi daerah yang kebutuhannya masih rendah ke daerah yang sedang banyak membutuhkan.

Menurutnya, kebijakan itu mereka lakukan setelah tim pengawas pupuk di bawah kendali Kabid Sarana dan Prasarana Pertanian/Perkebunan, Fakhrurrazi SP MSc bersama tim Distan Kabupaten terlebih dahulu memantau ke lapangan.

Fakhrurrazi menambahkan cara lainnya mengeluarkan kuota cadangan pupuk bersubsidi yang diberikan pusat untuk Aceh pada 2017 ini 15.000 ton, yaitu pupuk Urea 6.430 ton, NPK 6.370 ton, SP-36 sebanyak 857 ton dan ZA 1.493 ton. “Penyaluran pupuk cadangan bersubsidi ini dilakukan jika kuota pupuk bersubsidi untuk satu kawasan areal tanaman padi sudah habis dipakai untuk dua musim tanam, yaitu rendeng dan gadu. Kalau belum habis, tidak bisa dipakai,” jelas Fakhrurrazi. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help