SerambiIndonesia/

Menghapus Kutukan Penalti

Stadion Citramas, Kabil, Batam, petang nanti, menjadi perjuangan Persiraja ketika melakoni partai tandang

Menghapus Kutukan Penalti
PEMAIN Persiraja berfoto bersama setelah melakukan uji coba lapangan Stadion Citramas, Kabil, Batam, petang kemarin. Sore nanti, Persiraja akan dijamu tuan rumah 757 Kepri Jaya FC dalam lanjutan kompetisi Liga 2 Indonesia. FOTO/IST 

757 Kepri Jaya FC vs Persiraja

BANDA ACEH - Stadion Citramas, Kabil, Batam, petang nanti, menjadi perjuangan Persiraja ketika melakoni partai tandang menantang tuan rumah 757 Kepri Jaya FC dalam lanjutan kompetisi Liga 2 Indonesia.

Bagi kedua kesebelasan, ini merupakan pertandingan pertama setelah kompetisi liburan selama dua bulan. Kini, selepas libur puasa plus lebaran, konsestan di Grup 1 Pulau Sumatera bakal kembali terlibat perseteruan dalam menjaga eksistensi di kasta kedua ini.

Jujur saja, prestasi besutan Anwar ketika melakoni partai tandang kurang meyakinkan. Ya, dari tiga pertandingan away, Agus Suhendar dkk hanya mampu mengoleksi satu angka. Sementara dalam dua partai lain, Lantak Laju harus pulang tertunduk lemas di tangan tim tuan rumah.

Hanya saja, dari tiga pertandingan tandang musim ini, sepertinya Rafsanjani dkk selalu menjadi langganan hadiah penalti. Ya, dari tiga laga away, Persiraja harus dihukum dengan tiga kali penalti.

Teranyar adalah hukuman 12 pas ketika bertemu tim PSPS Pekanbaru, di Stadion Rumbai. Penalti Ananias Fringkreuw pada menit 77 sudah cukup untuk menekuk Persiraja.

Hadiah 12 pas juga diterima ketika dijamu PSBL Langsa dalam derby Aceh. Hukuman tersebut memicu protes keras dari Mukhlis Nakata cs. Bukan hanya membayar denda Rp 20 juta, Persiraja juga kehilangan Ferry Komul yang diberi sanksi dua bulan larangan bermain selama putaran pertama. Beruntung, gol Farizal Dillah membuat perlagaan berakhir imbang 1-1.

Kini, kutukan penalti tentu saja akan selalu membayangi Khunaifi dkk. Berpijak dari tiga pertandingan tandang sebelumnya, Hidayat, Zulfadli, dan Dian Ardiansyah harus bermain disiplin. Mereka pun perlu berhati-hati ketika berada dalam kotak terlarang. Jika ini tak bisa dilakukan, maka penalti pasti kembali akan menghukumnya.

Bukan rahasia lagi, para punggawa 757 Kepri Jaya FC berada dalam situasi tertekan. Terlebih, arsitek asal Brasil, Jaino Matos pun dalam sorotan tajam publik Batam. Memiliki materi berlabel pilar bintang, Liga 1, dan Alumnis SAD Uruguay, ternyata Kepri Jaya FC masih terseok-seok di papan bawah.

Klub milik dari Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Nurdin Basirun berdalih mereka tak pantas berada di peringkat bawah. Karenanya,

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help