SerambiIndonesia/

Polisi Usut Korupsi Pengadan Lembu

Penyidik Satreskrim Polres Lhokseumawe, Kamis (13/7), meningkatkan kasus dugaan korupsi pengadaan lembu

Polisi Usut Korupsi Pengadan Lembu

* Anggaran Rp 14,5 Miliar, Kerugian Negara Rp 6 Miliar

LHOKSEUMAWE - Penyidik Satreskrim Polres Lhokseumawe, Kamis (13/7), meningkatkan kasus dugaan korupsi pengadaan lembu pada Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian (DKPP) Lhokseumawe senilai Rp 14,5 miliar, dari penyelidikan ke penyidikan. Hasil audit investigasi BPKB Banda Aceh, kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 6 miliar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, dana Rp 14,5 miliar tersebut diplot Pemko Lhokseumawe melalui DKPP setempat untuk pengadaan lembu. Lembu tersebut diserahkan kepada puluhan kelompok masyarakat di kota itu. Namun, pada akhir 2015, pihak kepolisian menemukan indikasi korupsi pada pelaksanaan proyek itu.

Lalu polisi memulai penyelidikan dengan memintai keterangan para penerima manfaat, pihak rekanan, dan pihak dinas terkait. Selain itu, penyidik juga meminta BPKP melakukan audit investigasi. Hasil pemeriksaan polisi dan audit BPKP, ditemukan data bahwa pengadaan sebagian lembu tersebut fiktif.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman menyebutkan, pada Selasa 11 Juli 2017, tim Reskrim Polres Lhokseumawe yang dipimpin Kasat Reskrim, AKP Budi Nasuha, menggelar perkara di Direktorat Reskrimsus Polda Aceh. “Hasil gelar perkara, kami mendapatkan rekomendasi bahwa kasus ini layak ditingkatkan statusnya menjadi penyidikan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kasus itu akan menjadi prioritas dan targetnya harus selesai tahun ini. Setelah peningkatan status ke tahap penyidikan, penyidik akan memulai pemeriksaan para saksi, dan diupayakan penetapan tersangka bisa dilakukan dalam waktu dekat.

“Sejauh ini kita belum bisa jelaskan siapa saja yang akan menjadi tersangka. Nanti akan terungkap berdasarkan hasil penyidikan yang akan terus kita lakukan,” pungkas Kapolres Lhokseumawe.

Sementara itu, Kepala DKPP Lhokseumawe drh M Rizal, sampai berita ini diturunkan kemarin sore belum berhasil dikonfirmasi. Dua nomor handphone yang dihubungi Serambi, satu dalam kondisi tidak aktif, dan satu lagi selalu bernada sibuk. Sementara SMS yang dikirimkan Serambi ke nomor telepon yang bernada sibuk, belum mendapatkan respons.

Koordinator LSM Masyarakat Anti Korupsi (MaTA), Alfian mengatakan, kasus ini sudah lama ditangani Polres Lhokseumawe. Informasi yang diterima pihaknya, sudah cukup banyak saksi yang diperiksa dan mereka sudah membeberkan seluruh fakta. “Jadi sudah sepantasnya kasus ini diusut tuntas, karena terindikasi pengadaan lembu fiktif,” ujarnya.

Ia menyambut baik peningkatan kasus itu ke tahap penyidikan. “Perlu dicatat bahwa kami akan mengawal penyidikan kasus ini. Jangan sampai nanti ada upaya penegak hukum untuk melindungi orang-orang tertentu yang seharusnya bisa dijadikan tersangka. Artinya, dalam penetapan tersangka, jangan orang-orang yang berperan kecil yang dijadikan tumbal,” demikian Alfian.(bah)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help