SerambiIndonesia/

Musikalisasi Puisi: Antara Festival dan Eksibisi

Minat masyarakat Indonesia untuk mengenali dan memahami puisi tampaknya semakin intens

Musikalisasi Puisi: Antara Festival dan Eksibisi

Oleh: Ibrahim Sembiring (Peneliti Bidang Sastra di Balai Bahasa Aceh

Minat masyarakat Indonesia untuk mengenali dan memahami puisi tampaknya semakin intens. Hal ini dibuktikan dengan kian berkembangnya wujud pengapresiasian terhadap puisi.

Jika pada awal pemunculannya — sebagai salah satu bentuk karya sastra yang mengekspresikan gagasan dan pemikiran penyair — puisi sekadar ditulis kemudian dibacakan di hadapan khalayak. Namun dalam perkembangannya, puisi diapresiasi dengan berbagai konsep pemanggungan, di antaranya melalui pertunjukan musikalisasi puisi.

Secara wujud, menurut Salad (2015:115), musikalisasi puisi merupakan sebagai bentuk pembacaan, pelantunan atau pelisanan puisi yang dilakukan secara bersamaan dengan media bunyi, irama, dan nada yang ditata sedemikian rupa sehingga bisa disebut lagu, melodi atau sebuah komposisi musik.

Ditinjau secara substansi, unsur utama dalam musikalisasi puisi adalah rangkaian bunyi yang ditata sesuai dengan konvensi musik, yang diolah dari makna puisi tanpa menghilangkan teks puisi itu sendiri. Karena itu, kedudukan puisi sebagai teks sastra dalam musikalisasi puisi harus tetap dimunculkan, dibacakam, disuarakan atau diperdengarkan melalui cara-cara tertentu sesuai dengan kreativitas para pelakunya.

Tentang pemunculan musikalisasi puisi ini sesungguhnya tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali dilakukan pemusikalisasian terhadap puisi di Indonesia. Namun pada permulaan tahun 1970, kelompok musik Bimbo dari Bandung, berupaya memusikalisasikan puisi-puisi karya penyair Taufik Ismail.

Sejumlah puisi Taufik Ismail digubah menjadi lagu dan hingga saat ini lagulagu yang bernuansa islami itu sering kita dengar mengisi suasana bulan Ramadan. Keberhasilan kelompok Bimbo ini ternyata diikuti oleh sejumlah musisi di Tanah Air, seperti: Ebiet G. Ade, Untung Basuki, Ulli Sigar Rusady, Leo Kristi, Franky Sahilatua, Emha Ainun Nadjib, dan Iwan Fals.

Mereka menampilkan karyanya sendiri dan ada juga yang mengaransemen puisi penyair Indonesia menjadi lagu. Setelah itu, upaya pemusikalisasian puisi-puisi penyair Indonesia ternyata mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari para musisi dan peminat sastra di Indonesia. Saat ini kegiatan berupa pelatihan, eksibisi, dan festival musikalisasi puisi telah dilaksanakan oleh berbagai institusi, lembaga, sanggar, dan sekolah.

Hal ini memperlihatkan bahwa apresiasi terhadap puisi melalui kegiatan musikalisasi puisi kian meningkat, terutama di kalangan generasi muda dan pelajar. Bahkan, kegiatan festival dan eksibisi musikalisasi puisi terus mewarnai panggung-panggung kesastraan dan kesenian di Indonesia. Melihat antusiasme peminat musikalisasi puisi tersebut maka antara satu festival musikalisasi dengan festival musikalisasi lainnya terkadang waktu pelaksanaannya hampir berdekatan. Agar festival musikalisasi puisi lebih menarik dan bergengsi, tidak jarang panitia pelaksana memberikan hadiah kepada para pemenang dengan jumlah yang menggiurkan.

Dalam pelaksanaan festival musikalisasi puisi, antara panitia pelaksana yang satu dengan panitia lainnya terkadang menerapkan persyaratan yang berbeda-beda. Misalnya, Balai/Kantor bahasa se- Sumatra melalui festival musikalisasi puisi se- Sumatra (pada kegiatan pekan sastra), telah menerapkan pedoman yang baku dan permanen.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help