SerambiIndonesia/

Citizen Reporter

Seriusnya Pendidikan Islami di Brunei

ADA beberapa lembaga pendidikan tinggi Islam terkemuka di Brunei Darussalam

Seriusnya Pendidikan Islami di Brunei

OLEH FAISAL MA, Dosen Tetap Non-PNS pada STIT Al-Hilal Sigli, melaporkan dari Brunei Darussalam

ADA beberapa lembaga pendidikan tinggi Islam terkemuka di Brunei Darussalam. Di antaranya: Universiti Bandar Seri Begawan, Universitas Sultan Syarif Ali (Unissa), Insitut Teknologi Brunei Darussalam, dan Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan (KUPU SB). Tapi saya dan kawan-kawan dari Aceh lebih memilih mendaftar di KUPU SB, karena di kampus yang didirikan tahun 2007 ini lebih banyak program studi keilmuan agama Islam yang ditawarkan.

Selain itu, kolej (college) ini dikhususkan mencetak tenaga pengajar di bidang agama Islam, hal yang selaras dengan cita-cita saya.

Adapun program studi yang ditawarkan di kampus ini mencakup: Tiga fakultas dan enam pusat studi, yaitu Ushuluddin, Syariah, Pendidikan, Pusat Ilmu Teras, Pusat Bahasa, Pusat Pengajian Lepas Ijazah dan Penyelidikan, Pusat Pengkajian Kefahaman Ahlussunnah wal Jamaah, Pusat Multimedia dan Teknologi, serta Pusat Penerbitan.

Kerajaan Brunei Darussalam memberikan perhatian sangat serius terhadap pengembangan pendidikan Islam. Hal ini terbukti ketika saya mewawancarai salah satu pelajar tingkat menengah di sini. Dia katakan bahwa biaya pendidikan di Brunei, khususnya untuk rakyat Brunei, seluruhnya ditanggung oleh kerajaan. Mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Kerajaan juga memberikan uang makan dan jajan kepada siswa/mahasiswa yang menuntut ilmu di negeri kaya ini.

Kurikulum pendidikan Brunei jelas berbasis Islam. Hal ini terlihat dari buku-buku seluruh pelajaran umum tingkat menengah pertama, kajian pembahasannya selalu memuat referensi Islam. Kemudian, bahasa pengantar di lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi menggunakan bahasa Melayu, bahasa Arab, dan Inggris.

Hebatnya lagi, hampir semua buku mata pelajaran umum, seperti biologi, matematika, geografi, kimia, fisika, dan ilmu agama Islam yang saya lihat di sini lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dan Arab. Penerapan bahasa Melayu hanya pada mata pelajaran muatan lokal saja, seperti pada buku mata pelajaran Melayu Islam Beraja (MIB) dan Buku Pelajaran Bahasa Melayu (Bahasa Kerajaan Resmi).

Islam secara ideologi dalam buku Melayu Islam Beraja mengandung pengertian bahwa Brunei adalah kerajaan Islam dan bukanlah negara sekuler, seperti sebagian negara Islam lainnya di belahan dunia.

Penerapan nilai-nilai ajaran agama Islam dirujuk kepada Islam golongan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), yaitu mengikut kepada mazhab Imam Syafii. Seperti diketahui, kelompok Aswaja adalah golongan agama Islam yang menjadikan Quran dan sunah Nabi Muhammad saw sebagai sumber utama dan mengakui kekhalifahan Rasulullah (Khulafaur Rasyidin), yaitu Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Golongan Aswaja ini dipelopori oleh Imam Al Asyhari dari Irak. Rakyat Brunei tidak menganut mazhab lain, dikarenakan mereka mengikut kepada titah resmi kerajaan. Mereka merasa hidup lebih tertib, tenteram, dan nyaman dengan menganut paham Aswaja-nya Syafii.

Lebih lanjut dalam Buku Melayu Islam Beraja dijelaskan bagaimana pemimpin dan rakyat Brunei senantiasa takwa kepada Allah dan taat kepada Rasulullah, serta patuh kepada pemimpin/sultan. Dalam buku itu juga dijelaskan bagaimana kasih sayang antara sultan/raja dengan rakyat, serta bagaimana akhlak rakyat/masyarakat Brunei terhadap pemimpin. Terutama dalam hal sebutan atau panggilan dengan sebutan yang sesuai aturan Islam atau anjuran peraturan dari kerajaan untuk masyarakat. Hal ini sangat teratur.

Sebagian isi dari buku tersebut hampir sama dengan isi kitab tentang etika/akhlak, kajian adab seseorang dengan pemimpin dan adab seorang murid dengan guru, juga mengatur berbagai macam adat lainnya dalam menuntut ilmu, seperti termaktub dalam kitab Ta’limul Muta’allim, karya Syaikhul Islam Azzarnuji.

Saking seriusnya menghargai pola pendidikan yang islami, Kerajaan Brunei Darussalam menetapkan libur pendidikan pada hari Jumat dan Minggu. Pelajar diliburkan Jumat karena hari ini merupakan hari sangat mulia untuk tidak melaksanakan aktivitas selain ibadah di rumah dan di masjid. Setiap Jumat selepas shalat Subuh berjamaah di masjid, dilanjutkan dengan wirid subuh dan tausiah hingga matahari terbit.

Seperti yang saya amati, seusai wirid subuh dan tausiah pada salah satu masjid di Kampung Pula Ie, beralamat di Jalan Pulaie, Bandar Seri Begawan, BB4313, Brunei Darussalam, seluruh jamaah melakukan makan bersama, persis seperti makan bersama pada acara maulid di Aceh. Di meja tersedia berbagai macam khas masakan Brunei plus minuman dan berbagai jenis kue yang lezat.

Dalam komplek Gedung Pusat Dakwah Islamiah, ada sebuah perpustakaan khusus yang di dalamnya terdapat koleksi mengenai ajaran Islam yang sudah ada lisensi dari Pusat Dakwah Islamiah. Perpustakaan ini bertujuan untuk mengumpul, menyimpan, dan menyebarluaskan segala maklumat mengenai Islam dan memberi pengetahuan/perkhidmatan kepada pengguna dalam kalangan pegawai-pegawai dan kaki tangan Pusat Dakwah Islamiah dan Kementerian Hal Ehwal Agama juga kepada pengguna-pengguna atau para pengunjung dari luar yang ingin mencari referensi/rujukan di perpustakaan dimaksud. Begitulah, antara lain, seriusnya Kerajaan Brunei Darussalam mengelola pendidikan islami. Dalam hal ini, tak salahnya Aceh merujuk Brunei.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help