SerambiIndonesia/

Mirisnya Kehidupan Nek Beriah yang Menderita Tumor Leher

SUNGGUH malang nasib Beriah (65), nenek asal Dusun Darul Aman, Desa Jambi Baru, Kecamatan Sultan Daulat

Mirisnya Kehidupan Nek Beriah yang Menderita Tumor Leher
Nek Beriah (65) penderita Tumor di leher, penduduk Dusun Darul Aman, Desa Jambi Baru, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam. Foto direkam, Minggu (16/7). SERAMBI/KHALIDIN

SUNGGUH malang nasib Beriah (65), nenek asal Dusun Darul Aman, Desa Jambi Baru, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam. Betapa tidak, di usia senja, ia hanya dapat berbaring dengan menahan sakit akibat digerogoti tumor di bagian leher.

”Sudah tiga bulan ini dia sakit parah,” kata Sabaria, kerabat dekat sang nenek kepada Serambi, Senin (17/7). Parahnya penyakit tumor yang dideritanya, membuat sang nenek tidak dapat banyak beraktivitas. Setiap hari dia hanya berbaring di sebuah rumah kecil. Kalaupun duduk hanya mampu beberapa saat saja. Menurut Sabaria, penyakit tumor yang diderita Beriah merupakan diagnosa dari dokter saat dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam.

Dikatakan, beberapa bulan lalu, Nek Beriah pernah dirawat di RSUD Subulussalam dan dari sanalah diperoleh informasi kalau sang nenek didera tumor. Namun, perawatan tidak berlangsung lama, karena Beriah meminta pulang setelah merasa tidak ada perubahan selama di rumah sakit tersebut. Kini, Nek Beriah hanya berobat dengan mengandalkan asam dicampur kapur sirih (salah satu obat tradisional khas setempat).

Akibat tidak ada pengobatan medis, penyakit tumor yang diderita Nek Beriah kondisinya kian hari kian memburuk. Hingga saat ini Beria belum juga melakukan pengobatan kembali secara medis karena terbentur masalah biaya. Biaya yang dibutuhkan menyangkut belanja keluarga pendamping serta obat-obat lain di luar tanggungan BPJS.

Kini, setiap hari kondisi tumor yang menggelayut di leher perempuan renta itu semakin menonjol dengan kondisi kulit mengelupas. Rasa denyut sakit, bercampur perih dan ngilu menjadi rasa yang saban hari dialami sang nenek tua ini. Bahkan, jangankan untuk tidur, makan dan minum saja kini mulai kesulitan.”Jangankan tidur dan makan, minum air saja sakit, perih dan mengilu,” ujar Nek Bariah dengan suara parau dan pelan karena tak mampu lagi banyak beraktivitas walau sekadar berucap.

Padahal, lanjut Sabaria sewaktu masih sehat, Beriah merupakan salah satu ‘dewa’ penolong bagi kaum ibu di daerah tempat tinggalnya. Sebab, saat masih sehat walafiat, profesi Nek Beriah adalah dukun bersalin/beranak sehingga menjadi rujukan bagi kaum ibu yang hendak melahirkan. Jika sebagian wanita sebayanya hidup dengan bercengkrama bersama cucu, Beriah terpaksa menjalani masa tua menahan tumor yang dia derita.

Kondisi Nek Beriah saat ini, memang sangat berat untuk dijalani. Apalagi, kehidupannya yang serba miskin tanpa memiliki harta benda. Dia juga memiliki saudara yang mampu membiaya pengobatan secara maksimal sehingga tidak bisa berbuat banyak. Sabaria berharap jika ada pembaca Serambi yang tersentuh hatinya dapat mengulurkan bantuannya untuk pengobatannya. Setidaknya Ne Beriah tidak lagi menanggung rasa sakit berkepanjangan di ujung usianya.(khalidin)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help