SerambiIndonesia/

Profesor Adlim Ungkap Penyebab Ledakan di Lab

Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (FKP Unsyiah), Prof Dr Adlim MSc

Profesor Adlim Ungkap Penyebab Ledakan di Lab
GETTY IMAGES

BANDA ACEH - Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (FKP Unsyiah), Prof Dr Adlim MSc yang menjadi korban ledakan di Laboratorium (Lab) FKIP Kimia Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Senin (17/7) lalu, akhirnya mengungkap penyebab kecelakaan yang menimpa dirinya dan seorang mahasiswi, Nurul Agustina yang sedang ia bimbing.

Ketidaksesuaian alat, yaitu gelas labu leher tiga dalam eksperimennya itulah yanag menjadi penyebab utama ledakan. Menurut Adlim, penelitian yang dilakukannya di dalam lemari asam (fume hood) itu bukanlah praktikum biasa. Tapi sebuah riset untuk menyerap uap merkuri, guna mengurangi pencemaran merkuri terhadap penambang emas.

Selama ini, katanya, penambangan emas dilakukan dengan cara memisahkan emas dari merkuri melalui proses penyulingan dan pembakaran. “Penelitian seperti ini tidak biasa dilakukan dan kalau dilakukan harus dengan alat yang canggih,” katanya.

Ia menyebut alat canggih tersebut berupa reaktor dengan baja tebal, tahan bahan kimia, serta dilengkapi barometer dan sumber api. Namun, berhubung alat seperti itu belum ada di Unsyiah, lalu dia menggunakan labu leher tiga berbahan kaca yang tidak cukup kuat menahan tekanan, sehingga meledak.

Prof Adlim mengatakan, teknik penyerapan uap merkuri dari hasil penyulingan sudah ditemukan tahun lalu. Kali ini, dirinya melakukan teknik baru yaitu dengan cara menyerap uap merkuri dari hasil pembakaran. Dengan demikian, pembakaran harus dilakukan di dalam wadah tertutup agar semua uap bisa diarahkan pada satu celah yang dilengkapi penyerap.

Menurutnya, eksperimen yang dilakukan tersebut masih pada tahap simulasi. Jadi, tim riset hanya menggunakan air sebagai bahan penelitian, tanpa mengandung unsur kimia berbahaya. “Luka yang saya alami itu karena terkena serpihan kaca tabung yang terbang dalam kecepatan tinggi. Jadi, bukan karena reaksi zat kimia yang berbahaya,” ujar Adlim.

Dia juga menuturkan, sejak dulu semua eksperimen berisiko dilakukan sendiri. Sedangkan mahasiswi yang terlibat dalam riset yang berujung nahas itu hanya membantu sekadarnya. “Eksperimen tersebut sementara ini dihentikan dulu. Teknik penyerapan hasil pembakaran akan dilakukan menunggu alat yang lebih aman,” ucap ilmuwan asal Simeulue itu.

Sebagaimana diberitakan terdahulu, ledakan di Laboratorium FKIP Kimia Unsyiah Senin lalu mengakibatkan Prof Adlim terluka di bagian telinga, lengan, dan wajah. Sedangkan mahasiswinya Nurul Agustina terluka di bagian dahi.

Mereka sempat dilarikan ke Rumah Sakit Prince Nayef (RSPN) Unsyiah di Darussalam, Banda Aceh. Kondisi kesehatan Prof Adlim kini semakin membaik. Sementara Nurul Agustina diperbolehkan pulang pada hari kejadian karena luka yang dideritanya tergolong ringan. (fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help