Opini

Menyikapi Kebijakan ‘Full Day School’

KONSEP sekolah sehari penuh (full day school/FDS) yang telah diwacanakan tahun lalu oleh Menteri Pendidikan

Menyikapi Kebijakan ‘Full Day School’

Oleh Zamzami Zainuddin

KONSEP sekolah sehari penuh (full day school/FDS) yang telah diwacanakan tahun lalu oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Muhadjir Effendy, kini kembali mencuat setelah rencananya akan kembali diterapkan secara bertahap sampai menyeluruh di seluruh Indonesia mulai tahun ajaran baru Juli 2017. Menurut pemerintah, sampai saat ini sudah ada sekitar 8.000 sekolah yang menerapkan konsep ini secara sukarela. Dalam kebijakan ini, kegiatan belajar-mengajar di sekolah akan berlangsung selama delapan jam sehari dan dua kali libur dalam seminggu (Sabtu dan Minggu).

Pemerintah beralasan bahwa kebijakan FDS akan membuat belajar lebih efektif dan lebih banyak waktu dengan keluarga ketika hari libur. Jika disikapi secara bijak dan ditelaah secara komprehensif, alasan tersebut bisa diterima dan juga bisa tidak. Permasalahan ini tentunya kompleks dan tidak bisa hanya dengan simpel menolak atau menerimanya. Artinya, kebijakan ini sangat bagus dan efektif jika implementasinya tepat sasaran dan sebaliknya tidak efektif jika salah sasaran.

Di satu sisi memang konsep ini menguntungkan para orang tua yang sibuk bekerja sampai seharian penuh. Namun di sisi lain perlu diingat bahwa tidak semua orang tua di Indonesia bekerja di sektor formal, perkantoran atau pemerintahan dari pagi sampai sore. Masing-masing keluarga memiliki kondisi yang berbeda, terutama antara masyarakat urban (perkotaan) dengan non-urban (pedesaan).

Jika dilihat dari alasan kesibukan orang tua siswa dalam bekerja, maka konsep sekolah penuh waktu ini lebih sesuai untuk diterapkan pada sekolah-sekolah di kota (urban school) yang kebanyakan orang tua siswa bekerja di sektor pemerintah atau perkantoran, dan cenderung hanya memiliki waktu luang di hari sabtu dan minggu saja (weekend).

Namun, perlu juga diperhatikan bahwa tidak semua masyarakat urban bekerja di sektor perkantoran, banyak juga yang bekerja serabutan dan tidak mengenal waktu weekend. Kemudian, sekolah berasrama (boarding school) juga lebih sesuai untuk diterapkan konsep ini karena kegiatan siswa dipantau selama 24 jam dan didukung oleh fasilitas seperti kamar asrama untuk istirahat sejenak, kamar mandi dan dapur umum.

Masih kurang layak
Banyak yang setuju bahwa konsep FDS ini masih kurang layak jika diterapkan di sekolah non-urban, di mana kebanyakan orang tua memiliki jadwal kerja fleksibel, adaptis dan memiliki lebih banyak waktu bersama anak-anak mereka di rumah. Oleh karenanya, tidak bisa digeneralisasikan bahwa sekolah sehari penuh bisa menyelesaikan masalah secara komprehensif di seluruh Indonesia dalam hal interaksi siswa dengan orang tua. Konsep ini juga kurang mendukung jika diterapkan pada sekolah non-asrama yang tidak memiliki fasilitas seperti kamar istirahat, kamar mandi, atau dapur seperti yang ada di sekolah asrama, pesantren atau dayah di Aceh.

Untuk sekolah non-urban, masih sangat banyak siswa di daerah pedalaman atau terpencil yang harus menempuh jarak ke sekolah puluhan kilometer atau berjam-jam lamanya melewati laut, sungai, gunung dan hutan. Tanpa program FDS pun mereka akan sampai di rumah pada sore hari dan jika kebijakan ini dipaksakan, maka para siswa akan sampai di rumah pada malam hari, dan justru ini akan menambah lagi beban berat bagi siswa dan orang tua.

Kemudian, kegiatan siswa selepas pulang sekolah juga beragam dan tidak bisa dipaksakan seragam antara anak kampung dengan anak kota atau anak-anak yang hidup di gunung dengan di laut. Ada siswa misalnya setelah pulang sekolah diajarkan berbisnis dengan menjaga took atau kios, berkebun di ladang, mengembala sapi di sawah dan menangkap ikan di laut. Ada juga yang menghabiskan waktu sore untuk mengaji, bermain dan berinteraksi bersama teman-teman di lingkungannya.

Selain belum cocok diterapkan di sekolah non-urban dan non-asrama, model FDS ini juga belum efektif diimplementasikan di sekolah yang fasilitasnya belum mendukung dan lingkungan yang menyenangkan. Misalnnya ketiadaan komputer, internet, ruangan ber-AC, toilet bersih, lapangan olahraga, dan sarana bermain, ditambah lingkungan sekolah yang tidak nyaman, panas, dan berdebu. Bayangkan saja jika kondisi sedemikian rupa, tanpa program full day sekalipun akan membuat peserta didik stress dan cepat-cepat ingin pulang.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved