SerambiIndonesia/

Pansus Temukan Kejanggalan

Komisi C DPRK Aceh Barat Daya (Abdya) menemukan kejanggalan dalam pembangunan Pasar Modern senilai Rp 58,68 miliar

Pansus Temukan Kejanggalan
SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA
Sekretaris Komisi C DPRK Abdya Zulkarnaini didampingi anggota dan perwakilan konsultan pengawas dan perwakilan Dinas Perkim dan LH Abdya melihat buku perencaan pembangunan Pasar Modern Abdya, Jumat (28/7). SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA 

* Besi Proyek Pasar Modern tak Sesuai Spek

BLANGPIDIE - Komisi C DPRK Aceh Barat Daya (Abdya) menemukan kejanggalan dalam pembangunan Pasar Modern senilai Rp 58,68 miliar di Desa Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie. “Ini kok cuma empat batang besinya, seharusnya ini enam, besar besinya digambar, ini 16 mili ulir, kenapa dipasang 12 mili polos,” ujar Sekretaris Komisi C DPRK Abdya Zulkarnaini di depan konsultan pengawas dan perwakilan Dinas Perkim dan LH saat meninjau lokasi bersama anggota Komisi C DPRK Abdya kemarin.

Mendengar penjelasan tersebut seorang tim pengawas mengaku khilaf, dan pihaknya akan meminta rekanan untuk membongkar balok gantung yang tidak seuai spesifikasi. “Iya pak, akan kami bobok (hancurkan-red ) lagi,” ujar, Reza, konsultan pengawas. Namun, saat Zulkarnaini bersama anggota Syamsul Bahri dan Agusri Samhadi menuju ke titik lain, ia kembali naik pitam saat melihat tiang dan balok gantung yang tidak sesuai spesifikasi.

“Kalau ini dikatakan khilaf ini tidak mungkin lagi, karena sudah ada beberapa titik yang salahnya seperti ini. Menurut saya ini sudah main-main. Ini coba lihat, saya yang salah atau siapa yang salah,” ujar politikus Partai Gerindra itu. Karena, sambungnya, dalam gambar diminta besi 16 milimeter (mm) ulir, namun yang dipasang 12 mm polos di beberapa titik.

“Ini sudah mark-up dan cari keuntungan besar ini. Janganlah seperti ini,” ujar Ukra sapaan Zulkarnaini dengan nada tinggi. Dia sebutkan dewan menghargai kinerja konsultan pengawas yang berani meminta untuk merobohkan 35 tiang yang tidak sesuai spek. Namun, pihaknya juga meminta konsultan pengawas dan pengawas dari dinas terkait untuk berani membongkar, dan meminta memasang sejumlah besi yang kurang tersebut.

“Ini sudah main-main kalau seperti ini, tapi saya tidak menyalahkan kontraktor, karena kami belum mendengar penjelasan dari kontraktor, mungkin saja ini atas sepengetahuan konsultan pengawas,” sebutnya.

Atas sejumlah temuan itu, Ukra menegaskan Komisi C akan memanggil Dinas Perkim dan LH Abdya, Dinas PU dan Konsultan Pengawas. “Persoalan tiang dirobohkan itu, kita hanya melihat tiang diroboh, tapi kita tidak melihat dan periksa cakar atau pondasi tiang, bisa saja itu tidak sesuai spek juga, tapi pihak dinas akan kita panggil,” ungkapnya.

Inspektorat Klarifikasi Temuan
Sementara itu Kepala Inspektorat Abdya Jufridani meluruskan informasi terkait hasil audit Inspektorat Abdya pada akhir Desember 2016 lalu tentang pasar modern yang terjadi kelebihan pembayaran sebesar Rp 3,5 miliar.

“Perlu kami luruskan kelebihan pembayaran yaitu pada akhir Desember 2016 lalu, namun setelah dilakukan pengerjaan, karena ini proyek multiyears, maka sampai bulan Juli 2017, menurut konsultan pengawas, realisasi fisik sudah mencapai 25 persen,” katanya kepada Serambi kemarin. Dia sebutkan jika realisasi anggaran yang dulunya telah dilakukan mencapai 23 persen atau sebesar Rp 13,49 miliar, dengan realisasi fisik pekerjaan pada Juli 2017, maka terjadi kekurangan pembayaran terhadap pihak rekanan sebesar 2 persen.

“Karena sampai saat ini pihak rekanan belum menarik uang untuk tahap kedua. Kalau tiang yang dirobohkan itu, kita bersyukur, karena daerah tidak menerima barang yang tidak bagus,” ungkapnya.(c50)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help