SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

KNPI Sebagai Rumah Solusi

TANGGAL 29-31 Juli 2017 akan tercatat sebagai satu momen penting dalam kalender pemuda Aceh

KNPI Sebagai Rumah Solusi
IST

Oleh Muhammad Syuib Hamid

TANGGAL 29-31 Juli 2017 akan tercatat sebagai satu momen penting dalam kalender pemuda Aceh. Karena pada tanggal ini mereka yang bernaung dalam organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh akan memilih ketua baru untuk menakhodai organisasi tersebut selama tiga tahun mendatang (2017-2020). Panitia pun telah menetapkan empat calon yang akan berkompetisi menjadi ketua. Mereka adalah Fadhil Rahmi, Khalid, Wahyu Saputra, dan Zulfan Effendi.

Jika melihat track record, keempat kandidat tersebut dipandang cukup kapabel untuk memimpin organisasi ini. Adu visi dan misi serta program kerja akan menjadi kunci dalam menyakinkan setiap pemilik suara (OKP dan DPD-II KNPI) agar memilih mereka.

Masalah narkoba
Terlepas siapapun yang terpilih nantinya, ketua baru akan dihadapkan pada banyaknya problematika yang melibatkan kawula muda saat ini, serta butuh aksi nyata mengatasi problem tersebut. Dua di antaranya yang butuh perhatian serius adalah: Pertama, masalah narkoba. Peredaran narkoba di Aceh sudah cukup marak dan pada taraf mengkhawatirkan. Direktorat Narkoba Polda Aceh pada 2016 pernah merilis data yang menyatakan bahwa dalam setahun, tersangka yang terjerat kasus narkoba bisa mencapai seribu lebih.

Fakta di lapangan pun menunjukkan jika sebagian besar pelakunya adalah kawula muda. Yang fenomenal, baru-baru ini munculnya surat kaleng dari masyarakat di satu gampong di kawasan Aceh besar yang meminta Polda Aceh agar turun tangan mengatasi maraknya peredaran narkoba di gampong mereka. Jika surat itu benar adanya (dibutuhkan penelusuran lebih lanjut), maka hal ini cukup meresahkan kita.

Fakta-fakta ini cukup bagi kita untuk sependapat dengan statemen yang pernah disampaikan BNN bahwa Aceh sedang darurat narkoba. Untuk itulah, siapapun yang terpilih sebagai ketua, maka harapannya adalah bagaimana organisasi KNPI Aceh ini dapat berperan dalam mengurangi tingkat ketergantungan pemuda-pemuda Aceh terhadap narkoba. Tentu saja kita tidak bicara penindakan, karena memang hal itu bukan kewenangan KNPI, tetapi upaya-upaya preventif apa saja yang dapat dilakukan agar pemuda Aceh selamat dari bahaya ini. Berharap lahirnya pemuda yang kreatif dan inovatif sebagaimana tema Musda kali ini mustahil terjadi jika mereka masih dalam pengaruh narkoba.

Problem yang kedua adalah kurangnya skill. Ini pula yang menyebabkan kebanyakan pemuda, terutama di kampung-kampung menjadi penggangguran. Mereka tidak tahu harus mengerjakan apa karena bimbingan dan pengembangan skill hampir tidak pernah mereka dapatkan. Itu pula yang membuat mereka menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi, karena memang tidak tahu harus mengerjakan apa. Selain itu, banyak juga diantara mereka yang terseret ke dalam dunia kriminal efek dariketiadaan skill ini, karena di sisi lain kebutuhan biaya operasional hari-hari terus berjalan, sehingga tidak ada pilihan lain yang tersedia.

KNPI yang memiliki relasi dengan pemerintah dan dunia usaha memungkinkan untuk melakukan pengembangan skill para pemuda ini. Namun begitu, kita sadar betul bahwa KNPI bukanlah Balai Latihan Kerja (BLK) yang akan berperan langsung sebagai pihak yang mengasah skill para pemuda. Tetapi peran yang diharapkan adalah memfasilitasi akses pemuda ke instansi-instansi yang mempersiapkan dan mempertajam skill tersebut. Jika keahlian sudah dimiliki, penulis yakin mereka pun tidak lagi tertarik untuk nongkrong berjam-jam di warung kopi.

Karakter keacehan
Selain dua permasalahan di atas, nakhoda baru KNPI Aceh juga akan ditantang untuk memupuk kembali karakter keacehan yang sudah mulai memudar belakangan ini di kalangan anak muda kita. Prof Syahrizal Abbas MA dalam sebuah perbincangan dengan penulis pernah mengungkapkan hal ini. Jika kondisi tersebut terus terjadi, maka bukan tidak mungkin, karakter ini akan menghilang. Apalagi saat ini anak-anak muda kita lebih suka mengadopsi dan meniru gaya hidup pemuda Barat ketimbang mempertahankan budaya kita sendiri.

Walaupun pernyataan ini masih membutuhkan survei dan bahkan debatable, tetapi kita dapat merasakan aroma tersebut. KNPI dengan jaringan yang dimiliki dan dukungan pemerintah cukup mungkin melakukan pembenahan disektor ini. Untuk itu, ketua baru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mendesain program pemupukan karakter ini. Dengan demikian kita masih memiliki asa jika pemuda Aceh ke depan adalah pemuda yang berkarakter keacehan, seperti berintegritas tinggi, tidak banyak ulah, etos kerja yang kuat, serta bersikap santun, dan islami.

Hal penting berikutnya adalah mejadikan KNPI sebagai rumah aspirasi pemuda. Sebisa mungkin semua pemuda Aceh itu merasakan eksistensi KNPI sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi mereka dan berharap hal itu diadvokasi kepada pihak terkait. Selama ini, KNPI terkesan seperti dimiliki oleh kelompok pemuda tertentu saja, para elite dan mereka yang berduit. Hal itu pula yang membuat KNPI kurang terasa kehadirannya dalam menyampaikan aspirasi pemuda. Padahal jauh dari itu KNPI adalah rumahnya semua pemuda.

Menutup tulisan ini, penulis menyadari bahwa tidak mudah memang bagi ketua baru menjadikan KNPI Acehsebagai problem solverterhadap semua problematika anak muda Aceh saat ini, tetapi besar harapannya secara pelan tapi pasti hal itu dapat diwujudkan, terutama dalam menangani dua permasalahan utama di atas. Dan sesuai dengan namanya juga yaitu komite pemuda, maka KNPI Aceh hendaknya benar-benar dapat menjadi instrumen bagi pemuda dalam mengadvokasi hak-hak mereka.

Dengan demikian hakikat KNPI sebagai perpanjangan tangan anak muda dapat dirasakan oleh mereka. Apresiasi yang tinggi bagi pengurus KNPI saat ini dan sebelumnya yang telah berusaha untuk mewujudkan hal itu, tetapi kita masih membutuhkan aksi yang lebih nyata lagi. Selamat ber-Musda, bravo aneuk muda Aceh.

* Muhammad Syuib Hamid, MH, MlegSt., Dosen muda Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: mosyumid@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help