SerambiIndonesia/

Meski Titik Api Hilang, tapi Tetaplah Waspada

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Meulaboh-Nagan Raya, Edi Darlupti mengatakan, titik api

Meski Titik Api Hilang, tapi Tetaplah Waspada
SERAMBINEWS.COM/DEDI ISKANDAR

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Meulaboh-Nagan Raya, Edi Darlupti mengatakan, titik api (hot spot) kebakaran lahan di Aceh Barat dan Nagan Raya sudah hilang pada Sabtu lalu, sebagaimana diberitakan Serambi Indonesia, Minggu kemarin. Sebelumnya, di Aceh Barat terdeteksi 15 titik api.

Kebakaran lahan di kabupaten itu dikabarkan telah mencapai 200 hektare dalam wilayah Kecamatan Johan Pahlawan, Kaway XVI, Woyla, dan Samatiga. Lahan yang terbakar itu merupakan lahan milik masyarakat, baik lahan kosong maupun kebun sawit.

Kepala UPTD Kehutanan Wilayah IV Aceh, Usman, memastikan bahwa penyebab kebakaran hebat yang melanda Aceh Barat kali ini karena pembakaran lahan yang dilakukan para pekebun. Situasinya semakin parah karena lahan gambut ikut terbakar dan lahan gambut Aceh Barat merupakan yang terluas di Aceh.

Kalau hujan tak segera turun dua hari lalu dan dua helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tak ikut dilibatkan untuk mengguyurkan berton-ton air dari udara, kemungkinan kobaran dan titik api di Aceh Barat belum padam hingga kini.

Dampak dari kebakaran kali ini terbilang dahsyat. Kota Meulaboh dan sekitarnya disungkup kabut asap siang malam, bahkan pada hari tertentu asapnya sampai ke Aceh Jaya dan sebagian Aceh Besar hingga Banda Aceh. Sejumlah sekolah di Aceh Barat pun terpaksa diliburkan karena kabut asap tersebut. Warga cukup menderita karena jarak pandang terganggu, mata teritasi, bernapas tak lega, dan beberapa orang harus masuk rumah sakit.

Nah, petaka akibat kabut asap ini hendaknya cukup sekali ini saja terjadi di Aceh Barat dan Aceh umumnya. Kejadian ini haruslah benar-benar menjadi pelajaran. Apalagi kebakaran yang eskalasinya meluas itu semata-mata disebabkan oleh faktor human error. Yakni, karena ada pekebun, seperti dikatakan Kepala UPTD Kehutanan Wilayah IV Aceh, yang membakar lahan saat membuka kebun. Tradisi buruk ini yang harus kita antisipasi ke depan, supaya kebakaran lahan tak terulang.

Untuk itu, pihak Kehutanan dan BPBD Aceh Barat maupun BPBD lainnya di Aceh harus gencar menyosialisasikan larangan pembakaran lahan saat membuka kebun/ladang serta dampak yang ditimbulkannya.

Di luar semua itu, penegakan hukum harus pula dipertegas untuk memastikan bahwa tidak boleh ada pelaku pembakaran lahan yang dibiarkan tanpa dimintai pertanggungjawaban hukum. Setiap pelaku harus diproses dan diseret ke meja hijau, serta dijatuhi hukuman yang setimpal dengan tingkat kesalahan atau kelalaian yang ia lakukan.

Dengan penegakan hukum yang tegas dan tanpa pandang bulu kita harapkan akan timbul efek jera, sehingga pekebun atau peladang tak seenaknya lagi membakar lahan saat ia membuka kebun baru atau memperluas kebun, ladang, ataupun sawahnya.

Bagaimanapun, tindakan yang dilakukan seseorang terhadap lahan, sekalipun itu miliknya pribadi, tetap tak boleh menimbulkan mudarat dan bencana kepada orang lain. Fikih lingkungan tak membolehkan kemudaratan seperti ini terjadi. Sebagai khalifah di bumi kita harus ikut aktif mencegahnya dengan segenap daya dan upaya. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help