SerambiIndonesia/

Polisi Periksa Anggota DPRK Pemilik Lahan Terbakar

Polisi telah memanggil dan memeriksa seorang anggota DPRK Aceh Barat selaku pemilik lahan gambut yang terbakar

Polisi Periksa Anggota DPRK Pemilik Lahan Terbakar
Warga melintasi di lokasi titik api yang telah padam yang membakar lahan gambut akibat disiram hujan di kawasan Kayee Lhon, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya Minggu (30/7/). 

* Gubernur: Tangkap dan Hukum Pembakar Lahan

MEULABOH - Polisi telah memanggil dan memeriksa seorang anggota DPRK Aceh Barat selaku pemilik lahan gambut yang terbakar di Kecamatan Arongan Lambalek.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Teguh Priyambodo Nugroho SIK kepada Serambi, Minggu (30/7) mengatakan timnya masih terus mendalami kasus kebakaran lahan gambut yang telah memunculkan berbagai persoalan lingkungan. “Penyidik juga sudah memeriksa seorang anggota DPRK Aceh Barat selaku pemilik lahan. Kita juga akan panggil pemilik lainnya,” kata AKBP Teguh.

Kapolres Aceh Barat memastikan kasus kebakaran lahan akan diusut tuntas termasuk memanggil semua pemilik lahan gambut untuk membuat pernyataan bahwa lahan yang akan dibuka tidak dibakar.

Terkait enam warga Aceh Barat yang diamankan pihaknya karena disebut-sebut terkait pembakaran lahan measih berstatus terperiksa dan masih didalami keterlibatan mereka. “Masih terperiksa. Nanti akan kita lakukan pendalaman dan berkoordinasi dengan jaksa. Bila memenuhi unsur akan ditingkatkan status menjadi tersangka,” kata Teguh.

Tangkap dan hukum
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf meminta penegak hukum menangkap dan menghukum pembakar lahan yang telah memunculkan berbagai persoalan lingkungan. “Polisi harus mengungkap dan menindak tegas pelakunya agar jangan terulang lagi,” kata Irwandi kepada wartawan usai menghadiri peresmian musalla dan TPA Nurul Iman di Desa Suak Ribee, Meulaboh, Minggu (30/7) siang.

Irwandi tidak percaya penyebab kebakaran lahan karena terpantik dengan sendirinya. “Yang jelas ada pembakaran,” tegasnya.

Gubernur Aceh mengatakan dirinya sudah memantau langsung kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aceh Barat dengan pesawat pribadinya, Eagle One bersama Ketua DPD I Golkar Aceh, TM Nurlif pada Minggu siang, kemarin. “Pantauan dari udara, masih ada asap tapi sedikit,” kata Irwandi.

Dampak pembakaran lahan harus dibayar mahal termasuk untuk penyiraman dari udara dengan melibatkan dua heli bom air dari BNPB. “Biaya operasional heli BNPB sejam, mahal sekali,” tuturnya.

Menurut penilaian Gubernur Aceh, upaya pemadaman sudah efektif dilakukan Satgas Udara BNPB bersama TNI, Polri, Tim Reaksi Cepat (TRC), BPBD Aceh Barat, dan tim yang dikerahkan dari provinsi.

Kayee Lhon
Lahan gambut di kawasan Kayee Lhon, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya, menurut pemantauan Minggu (30/7) pukul 18.30 WIB tidak berasap lagi setelah wilayah tersebut diguyur hujan.

“Alhamdullillah, setelah diguyur hujan deras, untuk sementara hingga Minggu sore pukul 18.30 WIB tidak terlihat lagi titik api yang membakar lahan gambut di Kayee Lhon dan titik lainnya di Aceh Jaya,” kata Bupati Aceh Jaya, Drs T Irfan TB menjawab Serambi, Minggu (30/7).

Menurutnya, kebakaran lahan di Aceh Jaya terjadi di kawasan Kayee Lhon Desa Lueng Gayo, Kecamatan Teunom seluas 10 hektare dan 5 hektare di Seuneubok Padang. Selain itu, 1,5 hektare di Desa Dayah Baro, Kecamatan Krueng Sabe.

Ia menambahkan, pemadaman dilakukan Tim Reaksi Cepat (TRC), BPBK Aceh Jaya bersama Polri, TNI, RAPI, Tagana dan masyarakat dengan menggunakan mesin pompa air dan armada pemadam.

Kabid Kesiapsiagaan BPBD Aceh Barat, Dodi B Saputra yang ditanyai Serambi, Minggu kemarin mengatakan penyiraman dari udara oleh Satgas BNPB mulai dikurangi. Sebelumnya BNPB mengerahkan dua hel bom air, namun pada Minggu kemarin hanya satu heli. “Fokus penyiraman di kawasan Desa Peunia, Kecamatan Kaway XVI,” katanya.(edi/riz/c45)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help