SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Suap dalam Perspektif Islam

La’ana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam al-rasyi wal murtasyi wa al-ra-isy - Rasulullah saw melaknat penyuap, penerima

Suap dalam Perspektif Islam

Oleh Abdul Gani Isa

La’ana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam al-rasyi wal murtasyi wa al-ra-isy - Rasulullah saw melaknat penyuap, penerima suap, dan perantara dari keduanya. (HR. Ahmad dan Thabrani)

KATA suap dalam bahasa Arab disebut rasywah atau rasya, yang secara bahasa bermakna memasang tali, mengambil hati. Menurut istilah sebagaimana ditulis oleh Ibnu ‘Abidin dalam bukunya Hasyiyah Ibnu Abidin, Juz 5, “Suap adalah sesuatu yang diberikan kepada hakim atau lainnya supaya orang itu mendapatkan kepastian hukum atau memperoleh keinginannya.”

Dari definisi tersebut, secara konkret dapat dipahami bahwa suap adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada hakim atau pejabat lainnya dengan segala bentuk dan caranya. Sesuatu yang diberikannya itu adakalanya berupa harta atau sesuatu yang bermanfaat bagi si penerima, sehingga keinginan penyuap terwujud, baik secara hak maupun batil. Dalam Islam, memberi/menerima, memakan harta orang lain dengan cara batil ialah rasywah (suap-menyuap, sogok-menyogok, uang pelicin, pungli, dan seumpamanya).

Dengan rasywah tersebut diharapkan agar pejabat, penguasa tertentu dapat memutuskan atau menjatuhkan hukuman yang menguntungkan penyuap dan atau merugikan lawannya penyuap sesuai keinginannya. Juga dengan rasywah ini diharapkan agar mendahulukan urusan dan keperluan penyuap atau menundanya karena ada suatu kepentingan. Sogokan atau suapan ini dapat berupa uang, jabatan, dan atau keluarga (QS. al-Nisa’: 10, 91; dan al-Taubah: 34).

Faktor pendorong
Mudahnya seseorang melakukan rasywah (suap-menyuap), atau mengambil dan memakan harta orang lain secara batil (seperti korupsi), baik melawan hukum Allah Swt maupun hukum negara, disebabkan banyak faktor, antara lain: Pertama, karena penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan hidup primer bagi keluarganya, dan peluang untuk berbuat penyimpangan pun ada. Atau, bisa jadi penghasilan seseorang itu cukup bahkan melebihi dari kebutuhan, namun memiliki kesempatan dan peluang dengan mudah untuk melakukan penyimpangan dalam jabatan tertentu;

Kedua, barangkali juga, karena praktek suap, pungli, korupsi itu sudah menjadi kebiasaannya, menjadi tradisi atau budaya dan hobbinya. Ia merasa gelisah hidupnya bila praktik tersebut tidak melakukannya, atau dipengaruhi lingkungan tempat dia bekerja dan hidup yang sudah terbiasa dan membudaya praktik haram itu, dia akan menyesal bila kesempatan tersebut tidak digunakannya;

Ketiga, tindak suap, sogok dan sejenisnya menjadi sebuah keniscayaan, kemestian, atau keterpaksaan dan atau ikut-ikutan, karena lingkungan atas-bawah, kanan kiri, dan muka belakang memberi cukup angin segar. Bahkan, ia terlegitimasi oleh isteri dan anaknya serta keluarga besarnya, dan; Keempat, karena mereka yang melakukan penyimpangan itu “rawan iman”. Dalam dirinya tak ada lagi rasa malu dan keyakinan bahwa Allah Swt mengetahui dan menyaksikan perbuatan haram dan kezaliman tersebut.

Rasulullah saw, pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke pemukiman orang Yahudi untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dilunasi, kemudian mereka menyodorkan sejumlah uang. Apa reaksi Abdullah kepada orang Yahudi, lalu ia mengatakan, “Suap yang kamu sodorkan kepadaku itu haram, karena itu kami tidak akan menerimanya.” (HR. Malik).

Dari hadis tersebut jelas bahwa apabila penerima suap itu menerimanya, justru tindakan itu sebuah kezaliman, maka sungguh berat sekali dosanya. Dan andaikan kita berkehendak pada mencari keadilan, maka sewajarnyalah uang atau imbalan apapun bentuknya patut kita tolak. Barangkali suap, dan sogok semacam ini telah membudaya di negeri kita, wallahu a’lam.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help