SerambiIndonesia/

UMARA Komit Perkuat Syariat

Pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Langsa, Usman Abdullah SE dan Dr M H Marzuki Hamid MM (UMARA) menegaskan

UMARA Komit Perkuat Syariat
SERAMBI/M ANSHAR
Foto dari kiri ke kanan, Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia H Sjamsul Kahar, Wakil Wali Kota Langsa H Marzuki Hamid MM, Rektor Universitas Samudera (Unsam) Langsa Drs Bachtiar Akob MPd, Rektor IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa Drs H Zulkarnaini MA, dan Pemimpin Perusahaan Mohd Din, berbincang dalam kunjungan silaturahmi ke Kantor Harian Serambi Indonesia, Meunasah Manyang PA, Aceh Besar, Jumat (4/8/2017). SERAMBI/M ANSHAR 

BANDA ACEH - Pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Langsa, Usman Abdullah SE dan Dr M H Marzuki Hamid MM (UMARA) menegaskan, pihaknya komit untuk memperkuat penegakan syariat Islam di Kota Langsa dalam lima tahun ke depan. Sebelumnya, selama satu periode memimpin (2012-2017), pasangan ini juga sudah menunjukkan eksistensinya dalam hal penegakan syariat Islam.

“Insya Allah penerapan syariat Islam ini menjadi nomor satu visi-misi kita. Dalam kampanye kemarin juga sudah kita sampaikan hal ini. Sudah banyak yang kita lakukan untuk penegakan syariat di Kota Langsa,” kata Wakil Wali Kota Langsa, Marzuki Hamid saat berkunjung ke kantor Serambi Indonesia, di Meunasah Manyang PA, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Jumat (4/8).

Marzuki mengaku, selama lima tahun memimpin Kota Langsa, ia bersama Usman Abdullah (Toke Seuem) telah melakukan upaya-upaya untuk menegakkan syariat, meski harus menghadapi berbagai macam tantangan. Para petugas wilayatul hisbah di Langsa sering sekali mendapat perlawanan dari sebagian masyarakat, dicaci maki, bahkan dilempar saat melakukan penegakan syariat.

“Kami tidak tahu siapa backing-nya, siapa orang di belakang mereka sampai berani melempar petugas dengan batu, padahal di situ juga ada polisi dan PM. Tapi saya sudah sampaikan, ini memang tantangan bagi kita di Langsa, masa nabi dulu lebih dari ini,” katanya.

Selain itu, tantangan untuk menegakkan syariat di Langsa juga berat, karena Langsa merupakan kota yang heterogen, yaitu kota yang didiami oleh masyarakat yang multkultural dan etnis. Letaknya yang berdekatan dengan Sumatera Utara, juga membuat Kota Langsa berartikulasi dari segi budaya, sikap, dan tingkah laku masyarakatnya.

Untuk mendukung penerapan syariat, pasangan UMARA selama lima tahun lalu sudah melakukan berbagai program, di antaranya memisahkan siswa dan siswi saat belajar di sekolah, kemudian saat penerimaan wajib menghafal atau membaca ayat-ayat Alquran, hingga belajar full day. “Pagi sampai siang belajar sekolah, kemudian siang sampai sore belajar agama bersama teungku dari dayah. Tujuannya untuk membentengi anak-anak kita,” sebutnya.

Selanjutnya, penegakan hukum syariat sebagaimana yang telah dilakukan selama ini, walaupun penuh tantangan yakni perlawanan dari sebagian pihak, namun aparatur penegakan syariat di Langsa juga akan melawan demi menegakkan syariat di sana. “Kota Langsa akan sejahtera dan makmur jika syariat Islam berjalan dengan baik. Tapi, kalau maksiatnya banyak, maka barkah dannikmat Allah akan jauh dari kita,” katanya.

Kemarin, Marzuki datang bersama Rektor Universitas Samudra (Unsam) Langsa, dan Rektor IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Drs Bachtiar Acob MPd, dan Rektor IAIN Zawiyah Cot Kala Lngsa, Dr H Zulkarnaini MA. Kedatangan mereka disambut Pemimpin Umum Serambi Indonesia H Sjamsul Kahar, Pemimpin Perusahaan Mohd Din, Redaktur Pelaksana Yarmen Dinamika, Wakil Redaktur Pelaksana Zainal Arifin, Manager Iklan Hari Teguh Patria, Redaktur Politik Yocerizal, dan Redaktur Liputan Khusus Said Kamaruzzaman.

PNS Harus Beri Contoh
Tidak hanya para siswa, aparatur negara di Kota Langsa juga diajak untuk ikut berdakwah dengan program syiar Islam melalui safari Subuh dan Magrib. Kata Marzuki, penegakan syariat tidak hanya lewat instruksi, perintah, dan regulasi yan dikeluarkan. Jajaran aparatur negara juga harus menujukkan contoh nyata terlebih dahulu, dalam segala segi kehidupan. “Jadi, kita harus beri contoh dulu. Kalau mengajak orang lain shalat, kita harus shalat terlebih dahulu. Warga pasti akan protes kalau semua aturan itu untuk mereka. Kiban neuyue seumbahyang kamoe, droeneuh tan neu seumbahyang (Kok Anda menyuruh kami shalat, Anda sendiri tidak shalat),” tandas Marzuki.

Di samping itu, pengajian di kalangan masyarakat juga digalakkan. Perlahan tapi pasti, warga Kota Langsa yang terdiri atas berbagai etnis, bagaikan miniatur Nusantara, kata Marzuki, akan mengikuti dan menghormati syariat yang sudah menjadi komitmen bersama. “Jadi, program-program seperti ini akan terus kita lakukan dan kita tingkatkan untuk mewujudkan penerapan syariat Islam di Kota Langsa, insya Allah,” pungkasnya.(dan)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help