SerambiIndonesia/

Tanpa Kawan

ini pagi tak seperti kemarin aku tanpa kawan menikmati segelas kopi angin mati

Tanpa Kawan
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA

Karya Isbedy Stiawan ZS

ini pagi tak seperti kemarin
aku tanpa kawan
menikmati segelas kopi
angin mati
di antara garisgaris dinding
pepohonan kaku
sebatang rokok
membawa tiap kata
yang aku dermakan
untuk sebuah puisi
— mungkin esok
baru jadi —
sebagai tumbuhan baru
tegak ke langit,
bercabang rantingnya
layaknya seribu tangan
menari; Tuhan, kaucipta
tangan-tangan indah itu
untuk memelukku ketat
dalam irama Puisi

lalu matahari menjemput
puisi tak pernah luput
menerangi bumi
menyuburkan hati
agar kelak tak mati
oleh segala deru

Lamban Sastra, 8 April 2017

Pagi ini

hanya mengulang
pagi ini baca matahari
melangkah dari titik
yang samar ke cahaya
atau ia mengira
bahwa diam
sebagai pulang
dari jarak dekat
ke paling jauh
embun luruh
daun segar
tanah menerima
detak yang sesak

buku telanjang
kalimat gelinjang
berlompatan
dari kisi, jendela,
dan pintu
— kita tak tahu
hendak ke mana
selain pergi
atau ke dalam rumah —
menggali makna
langit menganga

tapi, kita ulang lagi
duduk di meja ini
seperti angin
melepas pagi
agar benar-benar telanjang
dan memenjara tiap kata
sebelum jadi kalimat

: kita ucapkan

Lamban Sastra, 6 April 2017

* Isbedy Stiawan ZS, sastrawan asal Lampung. Sampai kini ia masih menetap di kota kelahirannya. Menulis puisi, cerpen, dan esai dipublikasikan berbagai media cetak dan online. Buku puisinya antara lain Menampar Angin; Aku Tandai Tahilalatmu; Kota Cahaya; Dongeng Adelia; Taman di Bibirmu; Menuju Kota Lama; November Musim Dingin; Melipat Petang ke Dalam Kain Ibu; Kita Hanya Pohon; dan Kota, Kita, Malam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help