SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Taushiyah untuk Calon Jamaah Haji

HAJI, yaitu mengunjungi Baitullah untuk melakukan thawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah. Kewajiban haji hanya

Taushiyah untuk Calon Jamaah Haji
SERAMBI/ABDULLAH GANI
Tgk H Usman Ali atau lebih akrab disapa Abu Kuta Krueng, Pimpinan Dayah Darul Munawwarah Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya, Selasa (8/8) melakukan tepung tawar (peusijuek) para jamaah calon haji (JCH). 

Oleh Abdul Gani Isa

“... Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)

HAJI, yaitu mengunjungi Baitullah untuk melakukan thawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah. Kewajiban haji hanya diperuntukkan bagi orang Islam yang mampu (istita’a), sesuai isyarat Alquran, Walillahi ‘alannasi hijjul baiti manistata’a ilaihi sabila (QS. Ali Imran:97). Istitha’a mencakup kemampuan biaya, sehat jasmani dan rohani, aman dalam perjalanan, dan memiliki bekal ilmu manasik. Karena beratnya ibadah yang dilakukan, maka haji juga disebut dengan jihad, maksudnya diperlukan kesungguhan dari setiap orang yang berhaji.

Rasulullah saw juga memberi stresing bagi umat Islam untuk melakukan safar kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha di Palestina (HR. Muttafaqun ‘alaih, Abu Daud dari Abi Hurairah). Ketiga masjid tersebut, memiliki keutamaan masing-masing: Barang siapa shalat di Masjidil Haram, mendapat kebaikan atau pahala 100 ribu kali; Barang siapa yang shalat di masjid Nabawi mendapat pahala 1.000 kali; Demikian juga yang meakukan shalat di Masjidil Aqsha memperoleh pahala 500 kali (HR. Ahmad dari Jabir bin Abdillah, dengan sanad shahih).

Tidaklah berlebihan, bila dikatakan safar untuk haji merupakan rihlah muqaddasah (perjalanan yang suci). Perjalanan haji tidaklah sama dengan rekreasi, tour atau wisata biasa. Tetapi haji adalah perjalanan suci dengan tujuan untuk menemukan fitrah dirinya, di hadapan Zat yang suci, yaitu Allah Swt. Untuk itu pula biaya haji harus suci/bersih, niatnya ikhlas semata-mata mengharapkan ridha Allah Swt, yang akhirnya meraih haji mabrur.

Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi umat Islam yang tahun ini berkesempatan dan diberi kemudahan oleh Allah Swt menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Kebahagiaan di sini dimaksudkan, dengan niat dan cita-cita yang tulus, sekalipun merasa dirinya kurang mampu, tapi bisa sampai ke rumah Allah (Baitullah). Namun banyak pula orang-orang kaya, memiliki kekayaan lebih, dan berkecukupan (istita’a), namun belum tergerak hati dan niatnya untuk berangkat haji. Ketika kepadanya ditanyakan, mengapa belum berhaji, jawaban polos, “belum ada panggilan Nabiyullah Ibrahim as”.

Pesan buat jamaah
Banyak hal yang harus dipersiapkan oleh para jamaah calon haji, agar ibadahnya diterima, yang disebut dengan haji mabrur. Di antara hal-hal yang perlu diperhatikan sbb: Pertama, niat ikhlas. Kesempurnaan ibadah tentu tidak bisa lepas dari sebuah prosesi awalnya, yaitu niat yang ikhlas. Rasulullah bersabda, “Innamal a’malu binniyati - Hanya s anya suatu amal ada karena niatnya.” (HR. Bukhari Muslim). Tanpa niat, maka amalan itu sia-sia. Niat itu pun harus ikhlas, semata-mata mengharapkan ridha Allah, sebagaimana bunyi satu hadis qudsi: Al-ikhlashu sirrun min sirri istauda’at qalbahu man ahbabtu ilayya (Ikhlas sebuah rahasia dari rahasiaku, ditempatkan di dalam hati bagi siapa yang mencintai Aku).

Ikhlas memberi makna ridha Allah, semata-mata ber-taqarrub kepada-Nya. Ikhlas itu pula yang membuat seseorang tenang dan tidak merasa berat dalam setiap tugas dan amaliahnya. Dalam ungkapan bahasa Aceh disebutkan, Beget niet dengan qashad, pebuet ibadah hati nyang suci. Keudeh u Makkah laju tujuan, penuhi panggilan Allah Ta’ala.

Kedua, jauhi riya, bid’ah, dan syirik. Riya identik dengan pamer, ingin dipuji orang. Rasulullah saw menjelaskan bahwa riya termasuk syirik khafi. Sifat ini sangat ditakutinya karena disadari atau tidak banyak umatnya digandrungi syirik khafi, karena riya. Selain riya juga perlu dihindari bid’ah, yaitu menambah-nambah dalam ibadah yang tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah saw.

Mengerjakan sesuatu yang tidak ada nash-nya berdampak kepada dua hal, yaitu bid’ah dan merusak akidah. Bid’ah karena kita menambah-nambah waktu dan tempat beribadah seperti shalat sunat di Jabal Nur, Jabal Tsur, dan Jabal Rahmah. Sedangkan bisa merusak akidah karena beranggapan tempat itu berkah.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help