SerambiIndonesia/

Tafakur

Haji Hati

Setiap orang diharapkan untuk mendahulukan yang wajib, ketimbang yang sunat. Seperti ibadah Haji yang kewajibannya

Haji Hati
AFP PHOTO / MOHAMMED AL-SHAIKH
Ribuan umat Islam shalat berjamaah di Masjid Namira, Padang Arafah, dekat kota suci Mekah, Saudi Arabia, 23 September 2015. Umat Islam berkumpul di Padang Arafah pada puncak ibadah haji, tepatnya 9 Dzulhijjah pada penanggalan Islam 

Oleh: Jarjani Usman

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang
menghardik anak yatim dan tidak mendorong untuk memberi makan
orang-orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang
lalai dalam shalatnya, yang berbuat riya’ dan enggan memberi bantuan”
(QS. Al Ma’un: 1-7).

Setiap orang diharapkan untuk mendahulukan yang wajib, ketimbang yang
sunat. Seperti ibadah Haji yang kewajibannya hanya sekali seumur
hidup, setelah itu menjadi sunat hukumnya. Namun tak sedikit di
antara orang yang berhaji malah ingin melakukannya berkali-kali
walaupun jutaan orang lain sudah lama menunggu giliran untuk
menunaikan kewajiban berhaji sekali saja. Dan bahkan banyak orang
sekitarnya sedang memerlukan bantuan, tapi tak dibantu. Haji seperti
ini bisa jadi sudah berhaji secara fisik, tetapi belum sepenuhnya
berhaji secara hati.

Maksudnya, fisik atau badannya sudah dibawa untuk melakukan segala
rukun haji, tetapi hati masih belum diajak untuk menghayati hak dan
kewajiban orang lain. Hak dan kewajiban orang lain untuk memperoleh
kesempatan yang sama untuk menuju Baitullah masih dihalang-halangi
oleh keinginan kita untuk berhaji berkali-kali, walaupun bukan
kewajiban lagi. Kita mungkin puas dan bangga hati karena bisa berhaji
berkali-kali, tetapi banyak orang lain menderita menunggu puluhan
tahun hanya untuk berhaji sekali saja.

Jika cahaya Haji sudah bersinar di dalam hati, maka akan muncul rasa
kasih sayang terhadap sesama yang sudah lelah menunggu. Lebih baik
uang dan tenaga yang sudah dipersiapkan untuk berhaji berkali-kali
disumbangkan untuk kewajiban-kewajiban lain, seperti membantu fakir
miskin, membantu makanan dan pendidikan anak yatim, dan lain-lain.
Itu juga kewajiban, yang bila diabaikan bisa digolongkan sebagai
pendusta agama.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help