SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Ruang Laktasi Publik Mungkinkah Terwujud?

BEBERAPA waktu yang lalu Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Aceh mengadakan Diskusi Publik tentang Advokasi

Ruang Laktasi Publik Mungkinkah Terwujud?
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi Anak 

Oleh Aslinar

BEBERAPA waktu yang lalu Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Aceh mengadakan Diskusi Publik tentang Advokasi dan Sosialisasi Penyediaan Fasilitas Publik Responsif Gender dan Ramah Anak dalam Bentuk Ruang Laktasi dan Tempat Penitipan Anak (TPA) di Tempat Kerja. Patut diacungi jempol atas inisiatif Dinas tersebut mengadakan kegiatan ini, memulai kembali membahas bersama hal yang sangat perlu saat ini.

Wacana tentang penyediaan ruang laktasi bukanlah hal yang baru. Hal tersebut sudah diatur sejak 2009. Akan tetapi pelaksanaannya yang sama sekali belum memadai, khususnya di Aceh. Menurut pengamatan penulis, ada beberapa kantor yang sudah menyediakan ruang laktasi. Akan tetapi letak ruangan yang tidak sesuai standar, juga fasilitas yang terdapat di dalamnya sama sekali tidak memenuhi syarat. Bahkan, terkesan seperti “gudang kebersihan” yang berarti dijadikan ruang penyimpanan sapu, kain pel dan sebagainya.

Juga terdapat ruang laktasi di instansi publik pelayan masyarakat, akan tetapi ruangannya dalam keadaan selalu terkunci. Dan sebagian besar kantor malah tidak memilikinya sama sekali. Apalah lagi di berbagai tempat umum seperti terminal, pusat perbelanjaan, tempat wisata, hotel, gedung kegiatan. Miris!

Menyusui adalah kodrat alamiah seorang ibu yang baru melahirkan dan ini juga merupakan perintah Allah Swt, sebagaimana firman-Nya dalam Alquran, “Dan hendaklah para ibu menyusukan bayinya hingga dua tahun...” (QS. Al-Baqarah: 233). Air Susu Ibu (ASI) merupakan minuman yang tidak tergantikan bagi bayi. Tidak ada satu pun susu formula yang bisa menyamai isi kandungan ASI. Allah sudah menciptakan ASI untuk mencukupi kebutuhan bayi selama dua tahun.

Pada enam bulan pertama perlu diberikan ASI secara eksklusif, yang berarti si bayi hanya diberikan ASI saja tanpa ada makanan dan minuman lain termasuk susu formula, madu, air tajin juga air putih. ASI mampu mencukupi 100% kebutuhan bayi sampai usia 6 (enam) bulan. Jadi tidak diperlukan adanya penambahan makanan/minuman lain termasuk tidak diperlukan tambahan susu formula.

Pemberian susu formula pada bayi baru lahir hanya atas beberapa alasan yaitu atas indikasi medis, ibu tidak ada dan ibu terpisah dari bayi (PP No.33 Tahun 2012, Pasal 7). Bagaimana halnya bila para ibu menyusui ingin bekerja atau bepergian keluar rumah, sedangkan kebutuhan ASI harus terpenuhi?

Fasilitas khusus
Dalam UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 3 disebutkan bahwa penyediaan fasilitas khusus menyusui diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. Selanjutnya PP No.33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, pada Pasal 30, 31, 32 disebutkan tentang tempat kerja dan sarana umum harus mendukung program pemberian ASI dengan menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan memerah ASI.

Tempat sarana umum yang dimaksud adalah fasilitas pelayanan kesehatan, hotel, tempat rekreasi, terminal, stasiun, bandara udara, pelabuhan, tempat perbelanjaan, gedung olahraga dan termasuk juga lokasi pengungsian. Pengaturan tentang ruang laktasi tersebut juga dicantumkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh No.49 Tahun 2016 yang disahkan tahun lalu (Agustus 2016).

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.15 Tahun 2013 tentang Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah ASI, Pasal 10, 11 bahwa persyaratan berupa: Tersedianya ruangan khusus dengan ukuran minimal 3x4 m, ada pintu yang dapat dikunci, mudah dibuka/ditutup; lantai keramik/semen/karpet; memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang cukup; bebas potensi bahaya di tempat kerja termasuk bebas polusi; lingkungan cukup tenang jauh dari kebisingan; penerangan dalam ruangan cukup dan tidak menyilaukan; kelembaban berkisar antara 30-50%, maksimum 60%; dan tersedia wastafel dengan air mengalir untuk cuci tangan dan mencuci peralatan.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help