SerambiIndonesia/

Mengajarkan Perilaku Baik Kepada Anak Melalui Dongeng

Dongeng merupakan dunia penuh cerita yang sarat dengan imajinasi. Dongeng begitu akrab dengan kehidupan

Mengajarkan Perilaku Baik Kepada Anak Melalui Dongeng
bahasa Indonesia 

Oleh: Nurhaida, S.Pd., S.Psi. Pengkaji Kebahasaan di Balai Bahasa Aceh

Dongeng merupakan dunia penuh cerita yang sarat dengan imajinasi. Dongeng begitu akrab dengan kehidupan anak-anak. Penulis atau pengarang dongeng bermunculan untuk menghibur anak-anak dengan cerita hasil kreasi mereka. Selain menjadi sarana hiburan, dongeng juga dapat menjadi sarana untuk mengajarkan anak mengenai berbagai peristiwa dalam kehidupan ini.

Dongeng dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan dan mengajarkan perilaku baik kepada anak. Perilaku baik perlu diajarkan dan dibiasakan kepada anak sejak dini agar ketika anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang dewasa ia terbiasa melakukan berbagai kebaikan dalam hidupnya. Pendongeng Kusumo Priyono Ars atau Kak Kusumo (dalam Kak Mal, 2012) menjelaskan bahwa “Kegiatan mendongeng sebenarnya tidak bersifat hiburan belaka, melainkan memiliki tujuan yang lebih luhur, yakni pengenalan alam lingkungan, budi pekerti dan mendorong anak berperilaku positif.”

Sekarang ini banyak bermunculan berbagai buku, majalah atau media daring (online) yang berisi berbagai dongeng yang sarat dengan muatan positif yang bermanfaat sebagai sarana untuk mengajarkan anak. Dongeng berikut ini yang berjudul “Rio Si Bus Sekolah” karya Friska Julia Trg merupakan salah satu dongeng yang dapat dijadikan sarana mengajarkan perilaku baik kepada anak.

Dongeng tersebut dimuat di Majalah Bobo 04, terbit 4 Mei 2017. Tokoh utama dalam dongeng tersebut bernama Rio. Ia merupakan bus sekolah yang biasa saja dan ketinggalan zaman. Kaca dan warna catnya juga sudah tidak mengilap lagi. Meskipun Rio berbeda dari mobil-mobil lainnya yang masih baru dan bagus, Rio tetap semangat mengantar danmenjemput siswa sekolah seperti digambarkan dalam kutipan di bawah ini.

Rio berjalan meninggalkan tempat parkir. Grebak...grebuk...suara mesinnya ribut, tidak sehalus mesin Didi. Namun Rio tidak pernah mengeluh dan membandingkan keadaannya dengan teman-temannya yang lain. Ia memang hanya bus sekolah yang biasa-biasa saja. Namun, ia selalu bersemangat, bersyukur, dan bahagia dengan tugasnya mengantar dan menjemput murid-murid sekolah.

Dongeng tersebut dapat menjadi sarana mengajari anak untuk bangga terhadap kelebihan yang dimiliki dirinya dan dapat menerima kekurangan yang dimilikinya tanpa perlu merasa berbeda dan membanding-bandingkan dirinya dengan teman-temannya yang lain yang memiliki berbagai kelebihan lainnya.

Dongeng tersebut dapat menjadi sarana bagi anak untuk memahami bahwa setiap individu dianugerahi keistimewaan yang berbeda-beda oleh Tuhan. Anak dapat belajar untuk terus melakukan berbagai hal baik sesuai dengan potensi dirinya seperti tokoh Rio yang bersemangat, bersyukur, dan bahagia dalam melakukan tugasnya meskipun ia hanya mobil yang ketinggalan zaman dibandingkan dengan teman-temannya.

Contoh dongeng lainnya yang dapat digunakansebagai sarana untuk mengajarkan perilaku baik kepada anak adalah dongeng yang berjudul “Jendela Kamar Kurcaci Kuri” karya Okie Noor. Dongeng tersebut dimuat di Majalah Bobo, terbit 30 Maret 2017. Tokoh utama dalam dongeng tersebut bernama Kuri. Ia selalu melihat langit mendung dari jendela kamarnya yangberpengaruh terhadap suasana hatinya seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini.

“Yuhuuu...! Aku akan ke pantai hari ini! Sudah setinggiapa matahari pagi ini?” Kuri mengintip dari jendela. “Ah...mengapa mendung?” keluhnya. Kuri melihat langit yang berwarna abu-abu. Seketika hatinya ikut kelabu. Pemandangan di luar sangat tidak menarik. Hilang sudah semangatnya pagi ini. “Sepertinya aku mendadak sakit,” dengan lesu Kuri kembali rebahan di tempat tidurnya, lalu menarik selimut hingga menutup kepalanya. Kuri yang menjadi tokoh utama dalam dongengtersebut baru menyadari bahwa ternyata selama ini hari selalu cerah, hanya saja Kuri yang selalu memandangnya dari kaca jendela kamarnya yang kotor tertutup debu seperti terdapat dalam kutipan di bawah ini.

“Lihat, Kuri! Bukan langit yang mendung, tapi kaca jendelamu debunya tebal sekali. Hmm, kamu tidak pernah membersihkannya ya?” tanya Kak Kulila. Sekarang, Kuri baru tahu. Mengapa dia selalu melihat langit yang kelabu. Tetesan air yang dia lihat pun bukan air hujan, melainkan embun. Hampir saja Kuri gagal lagi bersenang-senang hari ini, hanya gara-gara dia malas membersihkan kaca jendelanya.

Kuri lalu mengusap kaca jendela dengan kain yang dibawakan Kak Kulila. Benar sekali, sinar matahari sekarang leluasa memasuki kamarnya dengan terang benderang. Sungguh hari yang cerah dan membuat Kuri ceria. Dongeng di atas dapat menjadi sarana belajar bagi anak untuk lebih emerhatikan kebersihan kamarnya. Anak dapat belajar untuk memahami bahwa kamar yang kotor ikut berpengaruh terhadap perasaan si anak seperti yang terjadi pada tokoh Kuri. Jendela kamar yang kotor dan berdebu membuat Kuri kehilangan semangat dan keceriaan.

Hal tersebut menyebabkan Kuri menjadi enggan untuk pergi berekreasi bersamasaudara-saudaranya. Kuri menyangka bahwa langit mendung dan suasana tidak mendukunguntuk pergi berekreasi. Sementara itu, saudarasaudaranya terlihat senang dan riang setelah kembali pulang dari pantai. Mereka melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan di sana. Melalui dongeng tersebut anak dapat belajar untuk membiasakan diri membersihkan kamarnya sendiri. Suasana kamar yang bersih akan membuat anak lebih bersemangat untuk melakukan berbagai aktivitas dalam hidupnya dengan penuh semangat dan keceriaan.

Selain dua dongeng yang di atas, masih banyakdongeng-dongeng lainnya yang dapat menjadi pendorong munculnya perilaku positif pada anak. Oleh karena itu, orang tua atau guru hendaknya dapat membantu anak untuk memilihkan dongeng-dongeng yang memiliki nilai-nilai positif yang dapat membentuk perilaku yang baik dalam diri si anak.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help