SerambiIndonesia/
Home »

Opini

KUPI BEUNGOH

Tarif PDAM Naik? Semoga Pemko Banda Aceh Tahu Malu

Kenaikan tarif belum menjamin membaiknya pelayanan. Sudah saatnya kebijakan tidak populer tersebut diganti, misalnya dengan perbaikan kinerja.

Tarif PDAM Naik? Semoga Pemko Banda Aceh Tahu Malu
ist
Nasir Nurdin 

ENTAH untuk maksud melihat reaksi publik atau memang serius akan diberlakukan, yang pasti berita bertema kenaikan tarif PDAM Tirta Daroy yang dilansir Harian Serambi Indonesia edisi Jumat, 11 Agustus 2017, tak urung memantik gumam sinis pelanggan "air bersih" di Kota Banda Aceh, termasuk saya.

Sebenarnya saya ingin sekali menulis "air bersih" produksi PDAM Tirta Daroy tanpa tanda kutip, tapi belum bisa karena faktanya air yang mengucur ke bak kamar mandi saya belum bisa dikatakan bersih. Maaf, masih keruh dan berlumpur.

(Baca: PDAM Tirta Daroy Suplai Air Keruh dan Berlumpur)

Soal air keruh dan berlumpur itu sudah saya laporkan ke Pak Direktur PDAM Tirta Daroy, baik pada kesempatan ngopi bareng maupun ketika kami saling teleponan dalam urusan pertemanan.

Beliau juga pernah turunkan petugas ke rumah saya, melihat sekaligus mengambil foto warna air termasuk endapan lumpur di dasar bak.

Nah, terkait berita tentang kenaikan tarif PDAM Tirta Daroy --yang menginspirasi tulisan ini-- tentu saja saya tidak dalam posisi setuju atau tidak setuju.

(Baca: Sibak Rukok Teuk, Tarif Air PDAM di Banda Aceh akan Naik)

Kalau saya tidak setuju (dan ketidaksetujuan saya itu ternyata disetujui oleh pemilik perusahaan) sungguh saya akan menjadi orang yang sangat berdosa kalau sampai PDAM Tirta Daroy bangkrut (ratusan karyawan dirumahkan) gara-gara tak menaikkan tarif air.

Lalu, bagaimana pula kalau saya memposisikan diri sebagai orang yang setuju? Ini lebih celaka lagi. Semua pelanggan, termasuk anak binik saya akan menghardik sambil bilang begini, "Pak Dewan saja menentang (kenaikan), pakon droen lagee ureueng mumang."

Begitulah (imajinasi saya bermain). Tapi, sebagai pelanggan, saya juga berhak menyampaikan sesuatu.

Halaman
1234
Penulis: Nasir Nurdin
Editor: Safriadi Syahbuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help