SerambiIndonesia/

Tafakur

Dosa Warisan

Ada di antara kita yang begitu mudah mengabaikan perilaku buruk diri sendiri setiap hari. Seakan-akan keburukan

Dosa Warisan

Oleh Jarjani Usman

“Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka
sedikit pun” (HR. Muslim).

Ada di antara kita yang begitu mudah mengabaikan perilaku buruk diri sendiri setiap hari. Seakan-akan keburukan yang dilakukan tak memberi pengaruh apa-apa terhadap orang lain. Padahal sangat besar pengaruhnya, terutama terhadap anggota keluarga sendiri dan orang lain di sekitar kita. Akibatnya tentu tak sulit difahami, yaitu kita memperoleh dosa warisan akibat ditiru secara berkelanjutan oleh (banyak) orang lain.

Di sebuah kantor, misalnya, seorang pimpinan sangat berharap memperoleh kekayaan berlimpah dalam hidupnya. Lalu diperlakukan para bawahannya untuk bekerja dengan mengambil uang lebih pada setiap kesulitan yang dialami masyarakat dalam menyelesaikan urusannya setiap hari. Lalu bekerjalah para bawahan dengan cara mempersulit orang-orang yang dilayaninya. Bila ada 100 orang yang merasa ingin dipermudah atau diperlicin urusannya setiap hari, maka akan ‘panen’ uang pelicin untuk orang-orang di kantor tersebut, terutama untuk atasannya. Bayangkan jumlahnya kalau dalam waktu sebulan, setahun, atau sepanjang karir di sana.

Merasa enak dan terpenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara bekerja demikian, orang-orang terlatih di kantor tersebut akan melanjutkan cara kerja tersebut. Demikianlah selanjutnya kerja penuh dosa di sana, walaupun pendahulunya telah tua, pensiun, atau bahkan meninggal dunia. Warisan dosa pelanjut-pelanjutnya akan dibagi juga untuk orang-orang yang telah mewarisi perbuatan tersebut walaupun telah berada di alam kubur dan menuju akhirat. Nauzubillah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help