SerambiIndonesia/

VIDEO Warga Banda Aceh Rayakan Kemerdekaan dengan Festival Kuah Beulangong

Acara yang diinisiasi oleh warga Gampong (Desa) Pande Kecamatan Kutaraja ini diikuti oleh sembilan kecamatan yang ada di kota itu.

Laporan Nurul Hayati | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Masih dalam gempita perayaan HUT RI ke-72.

Pemerintah Kota Banda Aceh menunjukkan dengan festival kuah beulangong, Senin (21/8/2017).

Acara yang diinisiasi oleh warga Gampong (Desa) Pande Kecamatan Kutaraja ini diikuti oleh sembilan kecamatan yang ada di kota itu.

Sembilan kuali besar berjejer di bawah seladang sederhana.

Berbekal sendok kayu, sejumlah laki-laki dewasa mengaduk-aduk isi di dalamnya.

Aroma yang ditebarkan menguar menggoda selera.

Kuah beulangong merupakan kuah kari khas Aceh yang dimasak secara beramai-ramai dalam kuali besar.

Lazim digelar saat hari besar seperti halnya maulid nabi atau resepsi pernikahan.

Festival kuah beulangong dihelat untuk memperingati haul Tgk Di Kandang.

Ulama berpengaruh yang berasal dari desa yang menjadi cikal bakal Banda Aceh saat masih menyandang nama Kutaraja.

Baca: VIDEO: Bikin Keringetan, Sedapnya Kuah Beulangong

Hingga kini masyarakat yang dulunya dikenal sebagai pandai besi itu masih setia merawat tradisi.

Lazimnya peringatan haul dimulai dengan pesta rakyat dan dilanjutkan dengan -zikir.

Namun kali ini dikemas dalam bentuk festival yang semakin mengukuhkan identitas Gampong Pande sebagai desa bersejarah.

"Kuah beulangong merupakan kesukaan rakyat aceh. Orang luar belum sah ke Banda Aceh kalau belum makan kuah beulangong. Ini harus kita pertahankan agar menjadi penunjang sektor wisata," papar Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman kepada awak media usai penyerahan piala.

Ia memprogramkan festival kuah beulangong menjadi agenda tahunan setiap perayaan HUT kemerdekaan.

Wali kota pun berharap ke depan ke-90 desa yang ada di Kota Banda Aceh bisa turut serta.

Kali ini dalam festival yang diikuti oleh sembilan kecamatan se-Banda Aceh, Kecamatan Kuta Alam keluar sebagai juara pertama, sementara Ulee Kareng menempati urutan ketiga, adapun tuan rumah Kecamatan Kuta raja harus cukup puas sebagai juara kedua.

Baca: Syiah Kuala ‘Raja’ Kuah Beulangong

Masing-masing kecamatan memperoleh tropi dan uang tunai berturut-turut Rp 3 ,2, dan 1 juta.

Sementara sisanya sebanyak enam kecamatan lainnya memperoleh uang pembinaaan.

Menurut panitia yang juga Camat Kuta raja, Wahyudi yang menjadi penilaian adalah unsur citarasa, warna, dan kebersihan.

Untuk menentukan sang jawara dalam mengolah makanan tradisional itu, pihak panitia menggandeng pihak Tataboga FKIP Unsyiah, SMKN3 Banda Aceh, dan Majelis Adat Aceh (MAA) sebagai panitia.

Atraksi memasak kuah beulangong dimulai sejak sekitar pukul 08.00 hingga jelang pukul 11.00 WIB.

Rata-rata satu wajan mempunyai 200 porsi dan disisihkan sejumlah beberapa piring untuk dicicipi dan dinilai juri.

Sementara sisanya dibawa ke dekat Kompleks Makam Teungku Dikandang untuk disantap beramai-ramai.

Baca: Atraksi Memasak Kuah Beulangong, Kari Khas Aceh yang Melegenda

Antrian mengular sepanjang siang.

Para tetamu yang berjumlah tak kurang dari 1.500 orang itu berbaur dalam pesta rakyat.

Seperti halnya atraksi memasak yang dilakukan secara beramai-ramai.

Sebuah tradisi yang lestari hingga kini. (*)

Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help