SerambiIndonesia/

Tafakur

Menghargai Waktu

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya

Menghargai Waktu

Oleh Jarjani Usman

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal salih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin (bahwa janji-Mu adalah benar)” (QS. as-Sajdah: 12).

Cara pandang insan tentang waktu sungguh sangatlah beragam. Cara pandang itu mempengaruhi bagaimana cara mempergunakan waktu.

Orang-orang yang dikarunia pengetahuan yang benar, seperti ulama, lazimnya memandang waktu hidup di dunia ini sangat singkat. Merasa waktunya singkat, mereka berusaha untuk memaksimalkan penggunaannya dengan beragam aktivitas yang bermanfaat. Setiap celah waktu menjadi menghasilkan pahala untuk bekal kehidupan di akhirat. Waktu yang berlalu pun disyukuri, karena telah memberi kesempatan untuk berbuat banyak kebaikan dan berhasil mengendalikan diri di jalan Allah.

Sedangkan orang-orang awam cenderung memandang waktunya sangat banyak dan bahkan berlebihan. Buktinya, banyak yang lalai dengan kegiatan-kegiatan yang tak bermanfaat untuk kehidupan akhiratnya. Dan bahkan ada yang melakukan perbuatan-perbuatan yang bersifat merusak waktunya dengan perbuatan jahat. Makanya orang-orang seperti ini dianggap telah mati sebelum mati.

Dihargai atau tidak, waktu terus berlalu. Namun ketika maut datang menjemput, barulah kita menyadari betapa penting dan singkatnya waktu. Makanya ada insan yang ingin dikembalikan ke dunia agar bisa memanfaatkan waktu walau sejenak. Tentunya tak memberi kesempatan lagi. Apalagi Allah telah bersumpah dengan waktu bahwa bagi siapa saja yang tidak memanfaatkannya pasti akan rugi besar dan menyesal.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help