SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Berkurbanlah tapi jangan Jadi Korban

BERKURBAN mungkin menjadi satu ritual tertua dari seluruh umat manusia

Berkurbanlah tapi jangan Jadi Korban
Manajer Umum/PSDM Harian Serambi Indonesia Erlizar Rusli menyerahkan sekor sapi kurban dari PT Aceh Media Grafika/ Hr Serambi Indonesia 

Oleh Mizaj Iskandar

BERKURBAN mungkin menjadi satu ritual tertua dari seluruh umat manusia. Bagaimana tidak di dalam Q.S, 5:27 telah menceritakan riwayat kurban pertama yang dijalankan umat manusia. Adalah dua putera Adam as yang dituntut oleh Allah Swt mempersembahkan kurban mereka masing-masing. Namun, seorang putera Adam diterima kurbannya oleh Allah Swt, sedangkan dari putera yang lain ditolak persembahannya.

Zaman Mesir kuno
Hikayat kurban kemudian berlanjut di zaman Mesir kuno, di mana saban tahun “dewa penguasa Nil” menuntut sesembahan kurban dari rakyat Mesir. Setidaknya setiap tahun bangsa Mesir harus merelakan dua anak gadis mereka untuk dijadikan kurban bagi “dewa Nil”. Sehingga sampai saat ini dikenal provinsi Mansura di Mesir sebagai `Arisah al-Nil (pengantin perempuan sungai Nil), karena perempuan dari daerah tersebut terkenal jelita, sehingga sangat patut untuk dijadikan sesembahan kepada Nil.

Tradisi ini baru berakhir ketika Islam masuk ke wilayah Mesir di masa pemerintahan Umar bin Khatab. Saat itu terjadi kemarau panjang di Mesir, sampai sungai Nil pun kering. ‘Amr bin ‘Ash yang saat itu menjadi gubernur Mesir dinasihati oleh penduduk pribumi Mesir (bangsa Qibtiy) untuk berkenan mengorbankan dua wanita untuk Nil sebagaimana tradisi nenek moyang mereka.

‘Amr bin ‘Ash jelas menolak usul ini, karena sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Ia pun meminta saran kepada Khalifah Umar. Umar pun menulis sepucuk surat keramat yang berisi ancaman untuk Nil, jika ia tidak mengalirkan air kepada penduduk Mesir, kelak Umar akan menuntutnya di hadapan Allah Swt. Surat itu diperintahkan agar dibuang ke sungai Nil. Sejak saat itu, dan bahkan juga sampai sekarang Nil tidak pernah lagi mengalami kekeringan.

Mungkin cerita kurban paling populer di telinga kita adalah kisah Nabi Ibrahim as dengan puteranya Ismail as. Di mana diceritakan suatu hari Ibrahim bermimpi ia menyembelih Ismail, yang kala itu merupakan satu-satunya putera yang ia miliki, setelah penantian yang begitu panjang. Ketika Ibrahim sudah bersiap melaksanakan sembelihan tersebut, Allah Swt tiba-tiba menggantikan Ismail dengan suatu hewan kurban yang besar (zibhun ‘adzim).

Dari tiga hikayat tentang kurban di atas, ada beberapa point penting yang harus jadi perhatian kita. Pertama, kurban sudah menjadi ritual sejak generasi manusia pertama, yang dalam hal ini diperankan oleh dua orang putera Nabi Adam as. Fakta ini membuktikan kepada kita bahwa Allah Swt memberikan perhatian khusus kepada ritual satu ini.

Kedua, tidak ada kata mahal jika Allah berkendak agar manusia mempersembahkan apa pun yang ia meliki, walaupun itu adalah nyawa diri kita sendiri atau orang yang paling disayangi. Hal ini setidaknya tersirat dari bersedianya orang Mesir kuno menyerahkan nyawa puteri-puteri terbaik mereka dan Ibrahim yang tulus hati menyerahkan nyawa puteranya keharibaan Tuhan Yang Maha Esa.

Ketiga, namun karena Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan yang memiliki sifat maha pengasih lagi maha penyayang (ar-rahman, ar-rahim) yang dipertegas dengan janji-Nya yang tidak akan berbuat aniaya kepada hambanya (wa mallahu bidzallamin lil ‘abid), maka semua jenis kurban yang mengorbankan nyawa diri sendiri maupun nyawa orang lain, ditentang keras oleh syariat Islam. Hal tersebut tercerminkan dari kisah pengorbanan bangsa Mesir kuno yang tidak mendapatkan tempat dalam syariat Islam dan penyembelihan Ismail yang diganti dengan hewan kurban.

Senang berkurban
Dari ketiga cerita kurban di atas, terlihat jelas Allah Swt menuntut manusia agar senang berkurban. Tetapi di pihak lain Allah tidak senang jika manusia menjadi korban dari tuntutannya itu. Oleh sebab itu, Allah sangat murka kepada putera Adam yang membunuh saudaranya, karena kurbannya ditolak oleh Allah.

Allah juga tidak senang dengan praktik kurban yang mengorbankan manusia yang dipraktikkan oleh bangsa Mesir kuno. Juga Allah berkehendak untuk menukargulingkan nyawa Ismail dengan hewan kurban.

Kurban dengan cara memotong hewan di Hari Raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq merupakan simbol agar kita berkenan untuk mengorbankan segala sifat kebinatangan yang terbenam di dalam diri kita. Sudah sepatutnya, selepas Idul Adha semangat berkurban kita wujudkan dalam kepribadian sehari-hari kita. Sehingga sikap selama ini yang cenderung senang mengorbankan orang lain dapat dikikis dari kehidupan kita.

Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya, kepada Allah penulis berserah diri, kepada-Nya dipersembahkan bakti dan kepada-Nya pula penulis memohon ampunan, taufiq, hidayah dan perlindungan. Wallahu a‘lam bi al-haqiqah wa al-shawab.

* Dr. Mizaj Iskandar, Lc., LL.M., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (Ikat) Aceh. Email: mizaj.iskandar.usman@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help