SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Wukuf; Mengadili Diri di Arafah

ARAFAH adalah bumi merdeka dan bertuah, karena disinilah jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia

Wukuf; Mengadili Diri di Arafah
AFP PHOTO / MOHAMMED AL-SHAIKH
Ribuan umat Islam shalat berjamaah di Masjid Namira, Padang Arafah, dekat kota suci Mekah, Saudi Arabia, berkumpul di Padang Arafah pada puncak ibadah haji, tepatnya 9 Dzulhijjah pada penanggalan Islam 

Oleh Yusra Habib Adul Gani

ARAFAH adalah bumi merdeka dan bertuah, karena disinilah jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia tumpah-ruah, mengawali ibadah haji pada 9 Zulhijjah. Di tengah lautan manusia ini, seseorang menganggap dirinya tidak sedang berada dalam kemajemukan manusia yang memiliki kesamaan dan perbedaan kepentingan; akan tetapi berada dalam kesunyian diri, kesepian, dan kesendirian. Bumi Arafah bukanlah ruang para ilmuwan, cendikiawan, ulama dan pemimpin untuk berdebat atau berdiskusi tentang ilmu pengetahuan, politik, kekuasaan dan urusan dunia lainnya.

Di sini, eksistensi diri sebagai bagian dari kolektif lebur dan terkubur. Tiada siapa pun yang tampak di mata dan hati, kecuali diri Anda (hamba) yang berkomunikasi dengan bahasa menggugah, berharap semoga ratapan, tangisan, permohonan ampun dan maaf didengar oleh Allah Swt. Itu sebabnya, di Arafah tidak ada gerak fisik yang agresif, kecuali gerak hati, perasaan dan mulut --terfokus kepada kuantitas dan kualitas doa yang dipersembahkan ke hadhirat Khaliq (Allah)-- diperebutkan dan dipertarungkan oleh jutaan jamaah haji melalui jaringan komunikasi langsung yang paling tersibuk saat itu, di mana bumi dan langit Arafah menjadi saksi.

Sebenarnya, proses untuk menuju ke tahap kesadaran keimanan di padang Arafah, sebelumnya sudah pun diperkenalkan dengan aksi Tawaf Umrah di Masjidil Haram sejumlah tujuh kali dan melakukan Sa’i Umrah (berlari kecil) antara Bukit Safa dan Marwah, juga sebanyak tujuh putaran. Angka 7 dalam bahasa Arab, selain berarti hitungan 1 s/d 7; juga bermakna tiada terhingga. Dengan perkataan lain, aksi Tawaf yang dikerjakan secara fisik --mengitari sudut Hajarul Aswad, sudut Iraqi, Syami, dan Yamani-- adalah benar tujuh kali putaran.

Akan tetapi nilai keimanan yang diperoleh dari putaran tersebut bukan tujuh kali lipat, melainkan bernilai tidak terhingga, karena aksi yang diperankan oleh Nabi Ibrahim as (ayah) dan Ismail as (anak) sama sekali tidak dapat diukur dari jarak yang ditempuh melakukan Tawaf, melainkan muatan seikhlas mana seseorang melakukan ibadah haji; karena keputusan Ibrahim dan Ismail seperti digambarkan: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab: “Hai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffaat: 102), di mana kualitasnya berada di luar jangkauan imajinasi dan melangkahi tindakan manusia normal yang nilainya tidak terhingga.

Refleksi keimanan
Aksi yang diperankan oleh kedua-dua tokoh dalam ibadah Haji adalah refleksi keimanan transendental yang tiada tara. Itulah sebabnya, siapa pun yang mengerjakan shalat wajib satu kali di Masjidil Haram, fadhilah-nya mencapai 100 ribu kali, berbanding mengerjakan shalat di tempat lain.

Demikian pula gerak fisik ketika melakukan Sa’i antara Safa dan Marwah, adalah benar tujuh kali keliling, yang ide awalnya berasal dari kisah Siti Hajar yang terpaksa berlari meninggalkanatau membiarkan puteranya (bayi Islmail) di Safa keseorangan yang rentan dari ancaman keganasan binatang buas, dapat ditafsirkan sebagai realitas; demi mengejar sebuah fatamorgana ke arah Bukit Marwah yang menjanjikan tetesan air pembasuh darah bayi dan tubuh beliau, adalah harapan. Kehidupan manusia ternyata pertarungan untuk memilih antara realitas dan harapan yang putarannya tiada terhingga. Dalam konteks inilah dikatakan bahwa realitas yang kita saksikan ini sebenarnya bukanlah sebuah atau satu-satunya harapan. Harapan yang sesungguhnya adalah “kehidupan akhir yang lebih baik daripada kehidupan di dunia” (QS. Adh-Dhuha: 4).

Oleh karena itu, bumi Arafah adalah bentuk kesadaran penyerahan diri, mengubur diri ke dalam zikir dan menyerasikan rentak antara fisik dengan moral Anda, menyelam ke dasar lautan iman yang begitu dalam untuk menemukan fragmen keimanan yang paling berharga, dikemas dan diangkat ke permukaan hingga membentuk sebuah kepribadian bernilai abadi, menjadi sosok muslim berbudi mulia, berani, tegas dan rendah hati.

Berangkat dari pemahaman ini, maka langkah seterusnya melakukan Wukuf pada 9 Zulhijjah di Arafah, yang merupakan puncak dari ibadah haji, yaitu proses mengasingkan diri atau menempatkan diri kedalam arena kesunyian --seakan-akan gladi resik Padang Mahsyar-- menunggu giliran dihisab oleh Allah Swt. Oleh sebab itu, walaupun berada di tengah jutaan manusia, tetapi pada hakikatnya, seseorang berada dalam kesendirian, kesunyian, dan kesepian. Tiada siapa pun di Arafah, kecuali Anda yang berzikir, meminta dan Allah yang memberi ampun! Arafah adalah kamp konsentrasi untuk mengubur diri kedalam zikir, merubuhkan bangunan arogansi dan keakuan, sekaligus menukarnya kepada sosok muslim yang tegar, sabar, tawakkal, tulus, membangun percaya diri dan percaya bahwa hanya Allah Swt satu-satunya kuasa pelindung manusia.

Di sini, seseorang tidak melakukan demonstrasi dan orasi, karena lokasi ini merupakan laboratorium keimanan untuk merapatkan dan menghangatkan hubungan antara hamba dan Khaliq, belajar mengenali wajah Arafah dan bukit Jabal Rahmah yang gersang, terjal dan curam, mencari inspirasi demi menghadapi perang akbar pada hari-hari berikutnya (10-13 Zulhijjah) memerangi Jumratul Ula, Jumratul Wusta, dan Jumratul Aqabah di medan perang Mina.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help