SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Praktik Ibadah Kurban dalam Perspektif Islam

ZULHIJJAH merupakan satu bulan yang mempuyai banyak kelebihan. Satu ibadah yang dikerjakan pada bulan Zulhijjah yakni udhiyyah (berkurban)

Praktik Ibadah Kurban dalam Perspektif Islam
SERAMBINEWS.COM/YOCERIZAL
daging qurban 

Oleh Luthfi Arongan (Ayah Panti)

ZULHIJJAH merupakan satu bulan yang mempuyai banyak kelebihan. Satu ibadah yang dikerjakan pada bulan Zulhijjah yakni udhiyyah (berkurban). Udhiyyah berasal dari kata dhahwah, yang berarti awal waktu pelaksanaanya yaitu waktu dhuha. Dalam terminologinya, Syekh Khatib Syarbini menyebutkan, kurban itu penyembelihan hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah di Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Zulhijjah). (Syaikh Khatib Syirbini, Mughni al-Muhtaj 6/122, Syekh Ibrahim, Kitab al-Bajuri II:295 Cet. Al-Haramain).

Paparan yang sama juga disebutkan dalam kitab Syarkwi ‘Ala Tahrir (jilid II, hal. 63) dan dalam kitab Tuhfah Al-Muhtaj Syarah Minhaj oleh Syekh Ibnu Hajar al-Haitami (Tuhfah Al-Muhtaj, jiid 9, hal. 400). Hewan yang dibolehkan dalam berkurban hanya an-ni’am (binatang ternak) yang tiga jenis ini, yakni lembu/kerbau, unta, dan biri-biri/kambing. Hal disebabkan udhiyyah merupakan ibadah yang berorientasi khusus kepada hewan, maka terkhususlah kepada hewan yang tiga jenis tersebut, begitu juga persoalan yang sama dalam masalah zakat (Kitab Bajuri II: 295).

Periode waktu yang telah ditentukan syarat penyembelihan hewan kurban adalah setelah selesainya Shalat Idul Adha hingga terbenam matahari pada hari terakhir hari tasyriq (13 Zulhijjah). Sebagian ulama berargumen bahwa waktu berkurban dua hari setelah Idul Adha (10 Zulhijjah). Pendapat ini dipelopori oleh Imam Mazhab yang tiga selain Imam Syafi’i. Berkurban dilarang pada waktu malam, kecuali ada hajat atau kemashlahatan (Kitab Tuhfah Muhtaj 9:412 dan Kitab Nihayah Muhtaj 8:136).

Namun apabila juga melakukan penyembelihan bukan dalam kurun tersebut bukanlah dinamakan dengan kurban, hanya sedekah biasa. Hal ini berdasarkan beberapa hadis Rasulullah saw, “Sesungguhnya yang kami kerjakan terlebih dulu di hari ini (Idul adha) adalah shalat, lalu kami pulang, lalu kami menyembelih. Barangsiapa yang melakukan seperti ini telah sesuai dengan sunnah kami. Dan barangsiapa menyembelih (sebelum Shalat Id), maka itu adalah sekadar daging yang dihidangkan untuk keluarganya, dan bukan bagian dari ibadah kurban.” (HR. Syaikhain).

Dalam hadis lain, Baginda Nabi saw juga bersabda, “Barangsiapa menyembelih sebelum shalat (Idul Adha), maka dia hanya menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah shalat, maka telah sempurna ibadah kurbannya dan sesuai dengan sunat umat Islam.” (HR. Bukhari dari Anas). Namun penyembelihan sebelum sebelum shalat hari raya dibolehkan, dengan syarat terangkat matahari dan telah lalu kadar waktu shalat dua rakaat dan dua khutbah yang ringan keduanya (Syekh Zakaria Al-Anshari, Syarkawi `Ala Tahrir; 2:466, Tuhfah Muhtaj; 9:412).

Hukum berkurban
Telah terjadi perbedaan pendapat ulama tentang hukum berkurban. Sebagian ulama menyebutkan bahwa menyembelih hewan kurban hukumnya wajib bagi tiap muslim yang mukim (menetap) untuk setiap tahun berulang kewajibannya. Pendapat ini dipelopori oleh mazhab Abu Hanifah. Selain itu juga ada Rabi’ah, Al-Laits bin Saad, Al-Auza’I, At-Tsauri dan satu pendapat dari mazhab Maliki. Dasarnya firman Allah Swt, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2). Ayat tersebut ada kata amar (perintah) untuk berkurban, dalam ilmu Ushul Fiqh mutlak amar itu wajib. Makanya menurut mazhab ini wajib hukumnya berkurban (Al-Lubab Syarhul Kitab; 3:232 dan Al-Bada’i; 5:62).

Sedangkan Jumhur ulama (Mazhab Maliki, Hambali dan Syafi’i) berpendapat sunat muakkad berkurban seperti yang diutarakan oleh Syekh An-Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ 8/385) tentang perbedaan pendapat mengenai hukum kurban. Pendapat ini yang dikemukakan oleh mayoritas ulama mazhab, serta disokong oleh Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar. Hal ini berdasarkan hadis, “Apabila telah memasuki 10 (hari bulan Zulhijjah) dan seseorang ingin berkurban, maka janganlah dia ganggu rambut kurbannya dan kuku-kukunya.” (HR. Muslim dan lainnya).

Ketegasan kesunahan berkurban disebutkan bahwa ibadah kurban itu wajib terhadap Rasulullah saw, sedangkan untuk umat beliau hukumnya sunat, pernyataan ini diutarakan dalam hadis: “Ada tiga hal yang wajib bagi saya dan sunah bagi kalian; kurban, witir, dan 2 rakaat shalat Dhuha.” (HR Ahmad dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas). Pendapat ini didukung pula oleh Imam Syafi’i ra sendiri yang dinukilkan dalam kitab Mukhtashar al-Muzani, beliau berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa Abu Bakar dan Umar (pernah) tidak menyembelih kurban karena khawatir akan dianggap wajib.” (Mukhtashar al-Muzani, 8/283).

Dalam mazhab Syafi’i, kesunnahan dalam berkurban adalah sunnat kifayah, seandainya dalam keluarga tersebut satu dari mereka telah menjalankan kurban, maka gugurlah thalab (tuntutan) yang lain, bukan hasil pahala kepada selain pelakunya, namun jika hanya satu orang maka hukumnya adalah sunnat ‘ain. Sunat berkurban ini tentunya ditujukan kepada orang muslim yang merdeka, sudah baligh, berakal dan mampu (Imam Ramli, Nihayah Muhtaj, 8:131).

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help