SerambiIndonesia/

Cerpen

Maisarah

KUUTARAKAN isi hatiku pada Maisarah, betapa aku ikut prihatin atas nasib Bakong: Kusta merayap disekujur tubuh

Maisarah

Karya Iswandi Usman

KUUTARAKAN isi hatiku pada Maisarah, betapa aku ikut prihatin atas nasib Bakong: Kusta merayap disekujur tubuh susutnya.Ceritaku membuat Maisarah tersiksa batin. Aku tak perduli. Aku tak ingin memendam kenyataan tentang persoalan yang kurasakan, yakni persoalan cinta. Aku mencintai Maisarah dengan caraku sendiri. Aku ingin mendapatkan perempuan rupawan itu dengan cara apapun. Meski dengan cara yang sadis.

Ketika Bangkong berhadapan dengan penyakit budok itu, dia menanggung penderitaannya sendirian, sampai kemudiandia tewas. Bangkong meninggal dalam keadaan yang sangat menyedihkan, di dalam rumahnya sendiri, tanpa ada seorangpun yang menemani ketika sakratul maut menjemputnya. Budok yang diderita Bangkong bermula dari reuhat yang ditempeldi pakaiannya yang tergantung di tali halaman belakang rumahnya, oleh seseorang yang berhati keji.

Maisarah menyapu kedua pipinya dengan kedua jemari tangannya. Air mata yang meleleh membasahi wajahnya, sesekali ia sapu dengan ujung jilbab berwarna jingga. Sesekali juga terdengar suara Maisarah sesunggukan dalam tangis.Maisarah terus memaksaku agar aku menceritakan semua tentang apa yang kuketahui menyangkut persoalan yang menimpa Bangkong, lelaki tampan yang baik hati itu, pujaan hati Maisarah. Namun keduanya terpisah oleh waktu dan keadaan. Maisrah harus pergi meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan S2 nya di negeri seberang, Singapur. Setelah lima tahun di sana, Maisarah pulang dan menyandang gelar dokter spesialis kulit dan kelamin.

Maisarah sepertinya tak bisa menerima kenyataan. Ketika ia pergi mengejar cita-citanya, Bakong masih terlihat bugar dan kekar, menopang perawakannya yang gagah dan tampan, membuat dia tergila-gila pada pria berbudi luhur itu. Maisarah merindukan Bangkong dimanapun dia berada. Namun saat ia kembali laki-laki pujaannya telah berkalang tanah. Walaupun aku tak tega, tapi aku terpaksa harus bicara. Sebab Maisarah terus memaksaku untuk menceritakan semuanya. Demi mendapatkan kepercayaan dan cinta seutuhnya dari Maisarah,akupun menceritakan yang sesungguhnya tidak pernah terjadi.

Hari itu, ceritaku kepada Maisarah, waktu sudah sore dan mendung. Antara rumahku dan rumah Bakong terdapat sebuah kedai kopi. Suasana hari itu sepi. Bangkong tak ada dirumah. Gembok yang tergantung di pintu depan rumahnya tampak terkunci. Itu tandanya pemilik rumah sedang berpergian. Dalam perjalanan pulang aku berpapasan dengan seseorang yang gelagapan entah karena apa. Aroma dari tubuhnya yang berlawan angin denganku berbau tak sedap, seperti bau air ikan busuk dan bangkai lainnya. Orang itu menyapaku dengan suara yang bergetar, seperti ketakutan.

“Pulang darimana?” tanyanya singkat.

“Pulang dari kedai kopi bang Koma, duduk-duduk di sana,” jawabku apa adanya.

Aku sempat memperhatikan gelagat orang itu yang seolah gugup. Berjalan cepat sambil menundukkan kepala. Kamipun saling menjauh. Aku harus lekas, sebab hari mendung. Khawatir akan hujan, sementara perapian yang harus aku nyalakan nanti malam di kandang kambing belum kubuat.

Dengan cekatan kupotong pelepah kelapa seukuran 1,5 meter. Kutindih tiga, kulipat ujungnya, kuikat di tengahnya dengan nyiur dalam tindihan yang kusisakan tanpa kulipat sebanyak beberapa helai untuk kujadikan tali pengikat suwa. Dua suwa telah kubuat. Cukup menghangatkan kambing-kambingku dan melindungi peliaraanku itu dari nyamuk dengan asap yang mengepul yang berpunca dari sampah yang kusulut api.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help