SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Ibadah Kurban pada Masa Kerajaan Aceh

SHALAT Idul Adha pada 10 Zulhijjah 1438 Hijriah, saya tunaikan di kampus Jantong Hate Rakyat Aceh, Kopelma Darussalam

Ibadah Kurban pada Masa Kerajaan Aceh
IST

Oleh M. Adli Abdullah

SHALAT Idul Adha pada 10 Zulhijjah 1438 Hijriah, saya tunaikan di kampus Jantong Hate Rakyat Aceh, Kopelma Darussalam, Banda Aceh. Menurut Prof H Syahrizal Abbas MA, yang bertindak sebagai Khatib di Shalat Id itu, hidup ini tidak cukup hanya dengan kesalehan individu. Tetapi perlu juga diimbangi dengan kesalehan sosial dan intelektual. Kesalehan sosial menuntut kita tidak boleh lupa pada kehidupan sosial, sebagaimana tanggung jawab kita sebagai intelektual untuk berkontribusi dalan kehidupan masyarakat.

Khutbah ini mengingatkan saya pada kehidupan sosial masyarakat Aceh saat ini, khususnya di pedesaan, di mana tingkat kesejahteraan yang harus mendapat perhatian. Belum lagi dunia Islam, seperti di Timur Tengah dan Myanmar, di mana umat Islam di sana lagi dibantai dengan tidak berperikemanusiaan. Alhamdulillah, di tengah kondisi demikian, masih ada orang-orang yang berkecukupan menyembelih dan membagikan hewan kurban. Mudah-mudahan ada di antara kita yang mengirim kurban ke negeri-negeri yang menderita tersebut, sebagai kepedulian sesama muslim.

Penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah Swt dengan meneladani kisah Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as. Kurban ini diharapkan akan menanamkan jiwa kesalehan sosial dan rasa peduli terhadap penderitaan di belahan dunia muslim lainnya yang lagi dikejar oleh kaum anti-Islam. Jika kita dapat mengaktualisasikan kesalehan individu dan kesalehan sosial dalam kehidupan sehari-hari, maka pasti akan mendatangkan rahmatan lil ‘alamin.

Kesalehan sosial akan tercapai ketika kita tidak hanya menjadikan hari raya qurban sebagai ibadah ritual. Seharusnya hari raya tidak hanya dimaknai sebatas proses ritual belaka, tetapi juga harus dijadikan momentum peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan sosial kita terhadap orang lain, baik yang berada di sekeliling tempat kita tinggal maupun kaum muslimin nun jauh di sana yang lagi menyelamatkan imannya dari rongrongan kaum musyrikin.

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalam yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Memberikan manfaat bagi orang lain tentunya bisa dilakukan dengan berbagai cara semampu kita, sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing untuk meringankan penderitaan umat.

Menoleh ke belakang
Jika kita menoleh ke belakang, menyangkut ibadah kurban juga diatur dalam konstitusi kerajaan Aceh, yang dikenal dengan Ma Bain-as-Salatin atau Adat Meukuta Alam, yang menjadi grondwet (undang-undang dasar) dalam bernegara di Kerajaan Aceh Darussalam. Konstitusi kerajaan Aceh ini terdiri daripada 176 halaman ditulis dengan huruf Jawi dalam bahasa Melayu ukuran 23,5 x 15,5 cm setiap halaman.

Ada ketentuan yang mengatur tentang tatacara merayakan Idul Adha dan tatalaksana ibadah kurban. Diperintahkah kepada penduduk negeri kerajaan Aceh dan daerah takluknya untuk merayakan Idul Adha pada setiap 10 Zulhijjah dan melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Ritual ini diawali dengan berpuasa pada awal bulan Zulhijjah, shalat Idul Adha, kemudian dilanjutkan dengan ibadah kurban. Ini menunjukkan bahwa di Aceh sebelum datangnya penjajah telah mempunyai hukum sendiri, baik hukum publik (tatacara bernegara) maupun tentang urusan hukum privat.

Biasanya, Sultan Aceh berkurban pada Hari Raya Idul Adha mencapai 500 ekor kerbau, yang disembelih di belakang Masjid Raya Baiturrahman (Blang Padang sekarang), untuk dibagikan kepada warga kota dan orang-orang asing yang berlabuh di Bandar Aceh Darussalam. (baca; Peter Mundy, The Travels of Peter Mundy in Europe and Asia 1608-67, Hakluyt Society pada 1919 di London).

Peter Mundy sempat menyaksikan pelaksanaan shalat Idul Adha dan ibadah kurban tersebut. Kerbau-kerbau yang akan disembelih, dimandikan dengan air bunga mawar, giginya digosok, tubuhnya diminyaki dengan wewangian, bulunya disisir, memberi celak pada kedua matanya, dan kemudian menutup matanya dengan kain putih. Kemudian Sultan sendiri yang menyembelih pertama, kemudian diikuti oleh seorang fakih (ulama). Kalau sudah putus urat lehernya menurut Peter Mundy, maka gong, genderang, nafiri dan seurunee dibunyikan beriringan dengan penyembelihan hewan kurban.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help