SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Spiritualitas Ibadah Haji

IBADAH haji merupakan upaya sekelompok manusia yang telah memiliki syarat dan rukun untuk melaksanakan aktivitas

Spiritualitas Ibadah Haji
AFP Photo/Mohammed Al-Shaikh

Oleh Zulfata

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah maha kaya dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)

IBADAH haji merupakan upaya sekelompok manusia yang telah memiliki syarat dan rukun untuk melaksanakan aktivitas penghambaan kepada Allah Swt. Upaya penghambaan ini tidak dapat dibatasi oleh kepentingan negara, politik, suku dan budaya. Tetapi praktik haji adalah ibadah super akumulatif dari potensi kemanusiaan untuk mencapai ma‘rifatullah (mengenal Allah) melalui berbagai praktik simbolis yang dilakukan di Baitullah. Artinya, segala pekerjaan syarat dan rukun haji merupakan instrumen spiritual untuk mengenal hakikat manusia, baik dari sisi personal maupun kolektif. Kajian ini fokus mengontekstualisasikan antara makna spiritualitas ibadah haji dengan stabilitas kedaulatan umat muslim di dunia.

Upaya mengontekstualisasikan tersebut tentunya akan mengungkapkan berbagai makna yang tersirat di balik sejarah dan tujuan pelaksanaan haji. Patut direnungkan bahwa aktivitas haji tidak hanya berimplikasi kepada calon jamaah haji atau subjek yang telah melaksanakan haji, tetapi pembelajaran haji memiliki sifat yang universal. Akan lebih menggugah ketika kita membandingkan semangat umat manusia untuk melaksanakan haji atas kontribusinya terhadap peradaban dunia dewasa ini. Publik telah mengetahui bahwa pelaksanaan haji bukanlah aktivitas yang baru dilakukan oleh umat muslim, dan publik paham bahwa pelaksanaan haji dapat dijadikan sebagai instrumen pemicu perkembangan ajaran Islam di dunia.

Kemuliaan dan keberkahan pelaksanaan haji tidak hanya membentuk ketakwaan personal dan kolektif, tetapi haji juga dapat dijadikan sebagai bahan renungan untuk menggali berbagai kebesaran Allah Swt baik dari sisi sosial, agama, politik dan ekonomi. Betapa tidak, historisitas dari pelaksanaan haji juga mengandung nilai religi, budaya dan politik yang kompleks pada masa Nabi Ibrahim as dan Ismail as. Sehingga tidak jarang ditemukan setiap momentum ibadah haji datang, kisah teladan Ibrahim dan Ismail selalu mewarnai wacana keislaman di berbagai media masa. Sungguh tidak terbatas analisis yang lahir dari pemaknaan ibadah haji, mutliperspektif seperti studi keluarga, mistik, hingga etnis. Fakta ini menunjukkan benarlah bahwa dalam Alquran terdapat prinsip-prinsip berbagai studi ilmu pengetahuan.

Tanpa mendeskripsikan syarat dan rukun tentang ibadah haji, sukses tidaknya pelaksanaan haji bagi suatu negara, sangat tergantung pada kebijakan politik mengenai regulasi haji. Dengan demikian, tidak keliru rasanyanya jika mengatakan bahwa upaya perbaikan politik juga diperoleh dari hikmah spiritualitas politik ibadah haji. Alasannya bahwa melalui kisah teladan Nabi Ibrahim as ketika berhadapan dengan permasalahan raja yang menyukai istrinya, Nabi Ibrahim as mampu menyikapinya dengan strategi politik kebudayaan pada masa itu, sehingga konflik dengan raja dapat dihindari. Jadi, sungguh merugi jika terdapat sekelompok manusia yang tidak mampu belajar dari kisah teladan Nabi Ibrahim as, terlebih dalam memaknakan spiritualitas ibadah haji.

Ibadah haji dan politik tidak dapat dipisahkan selama ibadah haji tersebut masih ditangani oleh pemerintah, Indonesia misalnya, ibadah haji ditangani oleh Kementerian Agama RI. Kualitas dalam menagangi prosesi ibadah haji oleh negara dapat diukur dari sejauhmana pemerintah mampu belajar dari nilai-nilai yang terkandung dalam Ibadah haji, sehingga praktik korupsi atas nama dana haji tidak terdengar lagi oleh publik nantinya. Dan argumentasi ini juga bagian dari proses memaknakan ibadah haji secara sosial politik. Dalam konteks ini, beberapa waktu yang lalu pemerintah Indonesia sempat heboh dalam hal regulasi dana haji untuk membangun infrastruktur negara, sehingga ibadah haji dan negara adalah kajian yang krusial setiap tahun.

Spiritualitas haji
Secara akademis, kata spiritual berasal dari bahasa Latin yang artinya roh atau batin (spiritus), jika pemaknaan secara etimologi, kata spiritualitas diartikan sebagai suatu nilai ilahiah yang terkandung dalam praktik simbolis oleh manusia. Dalam studi tasawuf, makna spiritual tidaklah bersifat tunggal. Artinya bahwa segala isi alam raya ini memiliki dimensi spiritualitas tersendiri. Potensi spritualitas pada suatu objek sangat tergantung pada pengalaman dan kesadaran keagamaan seseorang dalam memahami spiritualitas tersebut. Harus diakui bahwa tidak mudah untuk mengukur makna sebuah istilah spiritualitas ibadah haji, namun demikian, nilai-nilai pembelajaran (iktibar) yang terkandung dalam spiritualitas ibadah haji tersebut dapat dijadikan sebagai pegangan konkret dalam menciptakan klasifikasi tentang spiritualitas.

Dalam konteks batas-batas spiritualitas ibada haji, terdapat tiga pengelompokan: Pertama, spiritulitas religi. Untuk melaksanakan ibadah haji yang mabrur membutuhkan konsekuensi yang terkadang sukar diterima oleh akal yang bersifat positivistik. Demi menunaikan haji, para jamaah haji rela menghabiskan uang, mengantri dan mengeluarkan tenaga untuk mengikuti tahapan-tahapan pelaksanaan haji yang sah. Tentunya semua ini berangkat dari kesadaran jiwa dan pengaruh iman yang diyakini dari ajaran Islam.

Tolak ukur untuk melaksanakan ibadah haji tidak hanya diukur dari sebarapa banyak harta seseorang, tetapi unsur panggilan Tuhan sangat menentukan seseorang untuk dapat menunaikan ibadah haji, seungguh hal ini jauh dari jangkauan nalar umat manusia. Ibadah haji dapat menghilangkan dosa, mennyucikan hati, dan mengetahui jadi diri sebagai hamba untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Wujud takwa tersebut dapat lihat melalui kepribadian subjek yang melaksanakan ibadah haji, baik ketika di tanah suci maupun kembali ke tanah airnya. Sebagai rukun Islam yang ke lima, ibadah haji pada dasarnya bersifat sakral. Sehingga pengalaman pelaksanaan ibadah sangat tergantung pada kesungguhan subjek haji dalam mengambil hikmah di balik semua prosesi ibadah tersebut.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help