SerambiIndonesia/

Tafakur

Saudara Rohingya

Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh

Saudara Rohingya
Warga Rohingya melarikan diri dari kejaran tentara Myanmar dengan masuk ke perbatasan Teknaf, Bangladesh dan pengungsi yang baru tiba mendirikan tentara di kamp perbukitan Kutupalong, Ukhiya dan melaksanakan Shalat Idul Adha pada Sabtu (2/9). 

Oleh: Jarjani Usman

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” (HR. Muslim).

Saudara kami Muslim Rohingya, perasaan kami menjadi tanda seberapa kuat atau lemah tali persaudaraan kita. Seperti perasaan kami yang muncul tatkala mendengar betapa kejamnya kalian diperlakukan di negeri kalian lahir dan dibesarkan, Myanmar.

Sakit hati dan fisik yang dahsyat tak tertahankan kami rasakan saat mendengar kalian disiksa, itu pertanda kalian merupakan bagian tak terpisahkan dari kami juga. Mendengar kalian disiksa, tak mungkin tak muncul reaksi-reaksi dari kami untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan penderitaan kalian sesegera mungkin. Apalagi reaksi untuk membela juga merupakan tindakan untuk mempertahankan marwah kita sebagai umat Islam yang satu di seluruh muka bumi ini.

Memang harus diakui, ada di antara kami yang tak merasakan apa-apa saat mendengar kalian diinjak-injak. Itu pertanda bahwa kalian belum dirasakan sebagai bagian dari mereka. Hal ini bukan terjadi begitu saja, tetapi ada hubungan kuat dengan keadaan iman.

Sebagaimana disebutkan dalam Alquran dan hadits, bagi orang-orang yang benar beriman, perbedaan tempat tinggal, warna kulit, bahasa, dan berbagai perbedaan lain, bukan merupakan faktor yang memisahkan hati. Tetapi itu semua menjadi faktor pemersatu dan penguat persatuan, karena hamba-hamba yang beriman disatukan hati oleh Allah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help