SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Membangun Aceh dengan Gerakan Iqra’

MOMENTUM peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke-58 (2 September 1959 - 2 September 2017)

Membangun Aceh dengan Gerakan Iqra’
SERAMBINEWS.COM/NUR NIHAYATI

Oleh Zulkifli M. Ali

“Tekad bulat melahirkan perbuatan jang nyata, Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita.” (Presiden Soekarno)

MOMENTUM peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke-58 (2 September 1959 - 2 September 2017) merupakan saat yang tepat untuk merefleksikan kembali spirit ‘tekad bulat’, sebagaimana goresan tangan Presiden Soekarno di Tugu Darussalam saat meresmikan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) itu 58 tahun lalu. Momentum ini juga sekaligus sebagai renungan dan evaluasi dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Aceh, serta melahirkan orang-orang beradab dan cerdas dalam rangka mewujudkan visi-misi Pemerintah Aceh di bidang pendidikan, yaitu Aceh Carong, karena September merupakan tahap awal mulainya tahun ajaran baru bagi segenap institusi pendidikan.

Kemajuan pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemajuan suatu Negara atau daerah. Negara atau daerah yang maju dapat diidentifikasi dengan adanya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, mayoritas penduduknya berpendidikan, memiliki sistem pendidikan yang sangat baik yang didukung oleh kesadaran orangnya untuk berpikir maju, dan minat membaca mereka yang sangat baik. Minat membaca yang baik adalah salah satu aspek fundamental dalam pendidikan. Tinggi-rendahnya kualitas pendidikan juga dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya minat baca. Oleh karenanya, satu faktor pendukung memajukan pendidikan adalah dengan Gerakan Iqra’ atau literasi untuk menumbuhkembangkan semangat dan minat baca.

Gerakan Iqra’
Gerakan Iqra’ didasari perintah Allah Swt untuk membaca, sebagaimana terdapat dalam Alquran (Surat Al-’Alaq). Kata Iqra’ (bacalah) merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, berupa perintah membaca secara komprehensif, meliputi; membaca yang tertulis serta membaca dan menelaah yang tidak tertulis, memahami, menganalisis, mengevaluasi dan meneliti (riset) untuk memahami suatu persoalan serta menemukan jawaban atau jalan keluarnya.

Bagaimana mendorong minat baca masyarakat yang mayoritas Islam menjadi gerakan paripurna merupakan hal yang sangat penting sebagai perwujudan pelaksanaan perintah Allah Swt. Kaum muslimin dapat meningkatkan ilmu pengetahuan sehingga dengannya Allah akan meninggikannya beberapa derajat. Allah Swt juga memerintahkan manusia untuk memperhatikan ciptaan-Nya dan mempelajarinya hingga bermanfaat bagi kehidupan di dunia.

Minat baca merupakan prasyarat sekaligus ciri kemajuan pendidikan suatu bangsa atau masyarakat. Bangsa atau masyarakat yang maju, menempatkan kebiasaan membaca sebagai satu kebutuhan hidup, yang akhirnya meningkat menjadi “gemar membaca” sehingga tercipta “masyarakat membaca”. Ada hubungan timbal balik yang erat antara tingkat kemajuan serta kecerdasan suatu bangsa dengan minat baca masyarakat. Semakin cerdas suatu bangsa, semakin tinggi minat baca masyarakatnya. Begitu pula sebaliknya.

Oleh karenanya, budaya membaca hendaknya menjadi satu faktor penting untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, menyelamatkan manusia dari belenggu kemiskinan. dan membebaskan dari jurang kebodohan. Membaca bukan hanya dapat meningkatkan kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasan spiritual dan sosial. Bahkan sering kita dapatkan seseorang yang hidupnya berubah menjadi lebih baik karena buku yang ia baca.

Di era globalisasi ini, ketersediaan SDM yang berkualitas mutlak dibutuhkan. Meningkatkan minat membaca adalah satu cara untuk menjaring SDM yang berkualitas. Dengan demikian, dapat dipastikan bangsa yang belum menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya dan kebutuhan sehari-hari, akan kalah dan tertinggal dari negara lain. Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk Indonesia tidak sebanding dengan minat membaca. Jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 237,6 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, ternyata minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca (data terbaru UNESCO).

Riset berbeda yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, bertajuk Most Littered Nation In the World, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara soal minat membaca. Ini artinya, Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca sudah lumayan bagus. Hal ini jelas terlihat di lingkungan kita, di mana generasi muda saat ini lebih suka bermain dengan gadget dibandingkan menghabiskan waktu untuk membaca buku.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help