SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Gampong Pande

MEDIA sosial akhir-akhir ini dihebohkan dengan pemberitaan tentang pembangunan proyek instalasi pengolahan

Gampong Pande
SERAMBINEWS.COM/HARI MAHARDHIKA
Pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi A Hamid, mengamati batu nisan peninggalan kerajaan Islam yang saat ini tergusur oleh proyek IPAL di kawasan Gampong Pande - Gampong Jawa, Banda Aceh, Selasa (29/8/2017). SERAMBI/HARI MAHARDHIKA 

Oleh Amir Husni

MEDIA sosial akhir-akhir ini dihebohkan dengan pemberitaan tentang pembangunan proyek instalasi pengolahan limbah (IPAL) di kawasan Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Wilayah ini diyakini sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Aceh pada masa lalu. Keadaan ini tentunya sangat ironis mengingat tinja dari seluruh wilayah Banda Aceh akan mengotori pusat peradaban Aceh, yang pernah bersinar ke penjuru dunia pada masa lampau (baca; Serambi, 30/8/2017).

Keberadaan Gampong Pande sebagai pusat pemerintahan kesultanan Aceh diperkuat dengan penemuan nisan Raja-raja Gampong Pande (Husaini, 2016). Hal ini diperkuat kembali dengan kajian Othman dan Perret tentang batu nisan Aceh. Keberadaan Gampong Pande sebagai pusat Kerajaan Aceh juga diperkuat dengan penemuan koin-koin emas sebagai mata uang Kerajaan Aceh pada 2013 lalu.

Di antara koin-koin tersebut juga dijumpai mata uang dari kerajaan Turki Utsmani. Bukti arkeologi juga meyakini adanya fondasi struktur bangunan dari masa Kerajaan Aceh di wilayah ini. Namun amat disayangkan keberadaan Gampong Pande saat ini seakan menjadi terabaikan.

Pemukiman khusus
Disebut Gampong Pande karena wilayah ini merupakan pemukiman khusus orang-orang pandai seperti ulama, ilmuwan, pekerja seni, birokrat dan kelompok orang pandai lainnya. Mereka ditempatkan secara khusus untuk keperluan dan kebutuhan kerajaan karena memudahkan raja untuk mengakses mereka kapan saja dibutuhkan oleh kerajaan. Wilayah mulai abad ke-15 Masehi di bawah Kesultanan Aceh, Gampong Pande menjadi tempat para ilmuwan, ulama, handcraftman, pusat transformasi ilmu pengetahuan dan ekonomi.

Keberadaan Gampong Pande sebagai pusat para ilmuan dari penjuru dunia disebutkan dalam kitab Bustanussalatin karya Nuruddin ar-Raniry (1636-1641 M). Berdasarkan kajian historis diketahui bahwa banyak ilmuwan dari penjuru dunia, seperti Turki datang ke Aceh pada masa Kesultanan Aceh. Mereka ditempatkan pada pemukiman khusus oleh raja-raja Aceh, yaitu di Gampong Pande. Para ilmuwan tersebut memberi sumbangan besar bagi jalannya pemerintahan dengan memberi pendapat, pemikiran hingga bantuan teknik khususnya dalam hal peperangan.

Di samping itu, Gampong Pande pada masa lalu sebagai pusat keagamaan. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fondasi yang diduga masjid dan makam ulama besar yang bernama Syeh Jamaluddin al-Samarkandi, Uzbekistan. Keberadaan makam Teungku di Anjong yang terletak di Gampong Pelanggahan saat ini juga memperkuat pernyataan ini bahwa Gampong Pande adalah pusat keagamaan Aceh pada masa lampau. Selain itu, Gampong Pande menjadi pusat konsentrasi prajurit sebelum berangkat perang yang diberikan pembekalan oleh para ulama.

Disamping itu, Gampong Pande juga merupakan pusat handcraftman ataupun segala perlengkapan kebutuhan kerajaan. Sebagai contoh, di sana sebagai tempat pembuatan mata uang, alat-alat berperang, baju-baju kerajaan, furniture kerajaan seperti singgasana, segala perlengkapan besi, batu nisan, dan segala kebutuhan rumah tangga kerajaan seperti piring, wajan-wajan, kendi-kendi penyimpanan air, kalung-kalung permaisuri dan cenderamata khas kerajaan Aceh. Perlu digarisbawahi bahwa Gampong Pande hanya memproduksi dan menghasilkan pernak-pernik kebutuhan sultan dan famili kerajaan saja, tidak untuk masyarakat umum.

Terakhir, Gampong Pande dikenal sebagai pusat transformasi ilmu pengetahuan dan ekonomi. Pada masa lalu, Gampong Pande menjadi pusat pertukaran ilmu pengetahuan baru tentang metode pembuatan pedang, meriam, dan alat-alat peperangan lainnya. Selain itu, wilayah ini juga dikenal sebagai pusat penghasil batu nisan, yang diekspor ke semenanjug Malaysia, Pattani di Thailand, Jawa, dan Sulawesi.

Mengingat keberadaan Gampong Pande yang sangat strategis pada masa lalu sebagai pusat pendidikan, keagamaan, kesenian, dan perekonomian, maka sudah selayaknya situs arkeologi tersebut diselamatkan dari pengrusakan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help