Home »

Opini

Opini

Pemimpin Inovatif

MELALUI Sekolah Pemimpin Muda Indonesia (Kader Bangsa Fellowship Program), saya bersyukur

Pemimpin Inovatif
FACEBOOK AFI NIHAYA FARADISA/KOLASE TRIBUNWOW.COM
Asa Firda Inayah atau nama penanya Afi Nihaya Faradisa diundang Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas gara-gara tulisannya di Facebook yang viral dan beri inspirasi bagi jutaan orang. 

Dari segi dukungan SDM, Banyuwangi terkenal dengan masyarakat yang senang santet dan mitos. Tidak jauh dengan pola berpikir masyarakat Banyuwangi, sepertinya banyak rakyat Indonesia memiliki penilain bahwa masyarakat Makassar memiliki watak yang keras dan doyan berkelahi. Artinya, pemerintahan dan inovasi-inovasi mereka tidak hadir dengan dukungan masyarakat yang modern, cakap teknonologi, dan memiliki peradaban tinggi. Justru mereka memimpin dalam kondisi penuh keterbatasan dan tekanan.

Kedua, satu benang merah yang sangat jelas terlihat kesamaanya di antara mereka, yaitu semangat untuk belajar baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Rata-rata mereka memiliki pendidikan formal tinggi. Tidak hanya itu, budaya membaca dan menulis sangat mendarah daging dalam keseharian mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pemimpin hebat lain yang tidak mengenyam pendidikan tinggi secara formil, tapi sederhananya tidak akan ada inovasi dan kreatifitas tanpa adanya kapasitas pengatahuan yang mampuni.

Latar belakang Pak Danny Pomanto yang mendalami dunia arsitek, beliau mampu merancang bis angkot berteknologi canggih yang beliau beri nama Smart Pete Pete dan juga beliau rancang sendiri pembangunan trotoar dan pedestrian di Makassar yang beliau sebut Bundaratta’. Intinya kreatifitas dan inovasi lahir dari inspirasi-inspirasi yang mereka dapatkan melalui proses pembelajaran baik membaca, mendengar, melihat, membaca, menulis dan berjejaring.

Hal ini terbukti dari testimoni Bapak Anas yang menyebutkan bahwa banyak pemerintah daerah lain dari Indonesia yang datang ke Banyuwangi dan meng-copy ide-ide yang ada di Banyuwangi. Namun pada saat diterapkan di daerahnya, ide-ide tersebut tidak berjalan dengan lancar atau tidak mendapatkan hasil yang sama seperti yang terjadi di Banyuwangi. Menurut saya, satu penyebabnya adalah tidak adanya kebaruan dalam penerapannya, yang ada hanya copy-paste. Susah untuk mendapatkan ide yang baru jika mereka tidak meningkatkan kapasitas mereka.

Ketiga, mereka adalah pemimpin yang berani, tidak hanya berani dalam berorasi tetapi berani mengambil risiko. Mereka tidak bekerja secara linear (meminjam istilah Pak Jokowi) atau menoton mengikuti rutinitas. Kebijakan-kebijakan mereka penuh gebrakan dan berlawanan arus (out of the box). Hebatnya mereka siap dengan risiko dari setiap gebrakan yang mereka putuskan dan mereka jalankan.

Pak Anas mengakui bahwa di awal kepemimpinannya, beliau didemo lebih dari 40 kali atas berbagai kebijakan dan terobosan yang beliau ambil. Pak Wali kota Makassar pernah dipanggil oleh seorang menteri dan mengancam akan memecat beliau karena satu kebijakannya. Tapi mereka tidak menyerah dengan tantangan dan tekanan tersebut, karena mereka sadar bahwa apa yang mereka putuskan membawa kemaslahatan untuk rakyat yang mereka pimpin.

Terakhir, saya sepakat bahwa mereka bukanlah pemimpin yang sempurna, masih ada kekurangan dan kelemahan di sana sini. Akan tetapi bangsa ini tidak bisa dibangun dengan hanya berfokus pada kekurangan dan masalah. Inovasi dan terobosan mereka sangat layak untuk diapresiasi. Nah, DNA yang ada dalam tubuh dan pola kepemimpinan merekalah yang seyogiayanya dikloning ke dalam pemimpin-pemimpin daerah lain termasuk Aceh, guna melahirkan inovasi dan kreatifitas. Semoga bermanfaat!

* Muhammad Adam, alumnus Flinders University Australia, saat ini sebagai Konsultan Leadership dan Management Pendidikan. Email: adamyca@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help