SerambiIndonesia/

Masjid Agung Babussalam dan Wisata Religi

PULAU Weh memang berpanorama indah, merupakan objek wisata yang terbilang lengkap

Masjid Agung Babussalam dan Wisata Religi
MASJID Agung Babussalam, Kota Sabang. 

PULAU Weh memang berpanorama indah, merupakan objek wisata yang terbilang lengkap. Katakanlah, pesona alam bawah lautnya, objek wisata air terjunnya, pantai dengan pasir putihnya, pulau-pulau dengan lautan yang jernih, gunung berapi, kolam air panas, wisata religi dimana peninggalan-peninggalan asarama haji dan makam 44 aulia. Namun belum lengkap rasanya bila belum singgah ke Masjid Agung Babussalam, Gampong Kota Atas, atau pusat Kota Sabang.

Mampir ke masjid ini, kesan pertama kita adalah bersih dan rapi, membuat setiap pengunjung betah di dalam masjid ini, baik menunaikan ibadah wajib maupun shalat sunat hingga itikaf. Ada juga wisatawan yang singgah untuk mengabadikan Masjid Agung Babussalam ke dalam cameranya. Atau sekadar berfoto dengan latar masjid ini.

Pengurus yang juga Imam Besar Masjid Agung Babussalam, Tgk M Yakob Saleh mengatakan, masjid ini awalnya bernama Masjid Jamik Babussalam. Masjid ini dibangun tahun 1970 atas prakarsa Tgk Harun Ali Walikotamadya Sabang pertama (1966-1972) bersama beberapa tokoh masyarakat dan ulama sebagai sebuah masjid reprsentatif untuk suatu Kotamadya Daerah Tingkat II yang dapat menampung seluruh jamaah, terutama pada pelaksanaan shalat Jumat sekaligus sebagai Islamic Centre Kota Sabang.

Masjid Agung Babussalam mula-mula dibangun secara bergotong-royong oleh seluruh masyarakat dari berbagai gampong di daerah itu, dengan sumber dana awal dari walikota, dan sumbangan masyarakat.

Kala itu, peletakan batu pertama dilakukan oleh Walikotamadya Sabang H Harun Ali pada 16 Juli 1970 bersama ulama dan tokoh masyarakat. Turut dihadiri oleh tokoh masyarakat Aceh pada waktu itu, Tgk Amir Husen Al Mujahid.

Pada tahap pertama pembangunan mesjid ini terkendala dana. Lantas walikota bersama kalangan DPRD bermusyawarah dengan Badan Otoritas Free Port Sabang (KP4BS) dengan maksud KP4BS bersedia menanggulangi dana pembangunan masjid. Begitu pun selanjutnya diminta agar dialihkan kepada KP4BS.

Tahun 1972 dimulailah pembangunan tahap pertama, dan rampung seluruhnya tahun 1974. Tepat pada Jumat 10 Juni 1974 Masjid Agung Babussalam, menjadi tempat shalat Jumat perdana. dengan khatib Tgk H Harun Ali (mantan Walikotamadya Sabang) dan Imam Tgk M Daud Ali. Maka sejak saat itu kegiatan shalat Jumat dipusatkan di masjid tersebut.

Keemasan
Seiring berjalanannya waktu, pada tahun 2002-2006 Masjid Agung Babussalam direnovasi dengan memperluas bangunan samping kiri dan kanan, masing-masing lima meter dan membangun empat menara segi empat, dan kubah yang dihiasi dengan lapisan tembaga berwarna keemasan, dan ornamen ukiran besi cetak di sekeliling kubah, serta dilingkari tulisan kaligrafi berwarna kuning emas.

Dibangun pula ruang sekretaris mesjid, tempat wudhuk dan WC, hanya saja pada bagian kaki lima mesjid dan saluran air yang masih perlu ditata ulang.

Untuk mendukung aktivitas kemasjidan dibangun fasilitas lain berupa Balee Keurukun, asrama, dan madrasah diniyah. Dilengkapi juga dengan halaman atau pelataran yang luas yang seluruh permukaannya ditutup dengan keramik lantai berpola bintang yang sangat indah.

Keindahan masjid ini menambah pesona pulau Weh yang kaya dengan biota lautnya, juga menjadi salah satu penanda Kota Sabang.

Bentuk arsitekturnya yang unik, menjadikan Masjid Agung Babussalam memiliki ciri khas tersendiri. Tercermin dari pola segi-segi pada dinding yang berjejer di beberapa sisi masjid.

Bentuk-bentuk segi-segi itu memang kerap menarik perhatian pendatang atau turis yang singgah. Tak lain untuk berfoto di depan dan di dalam masjid, yang didominasi pilar-pilar dengan pewarnaan lembut seperti putih dan cokelat.

Sebuah kaligrafi Alquran dalam ukuran besar dilukis langsung di dinding sisi kiblat sebelah dalam mihrab, dan mengelilingi diameter bangunan. Tidaklah heran beberapa bagian di masjid ini menggunakan pola yang sama mengadopsi bentuk-bentuk yang sudah ada. Tampilan ini secara tidak langsung membuat arsitektur masjid nan indah. Tidak saja hanya masjid sebagai rumah ibadah dan segala kegiatan keagamaan, tapi juga ikon kebanggaan Kota Sabang.(azhari syamsuddin)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help