SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Gerakan ‘Home Literacy’

BERDASARKAN data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 lalu, angka buta huruf di Indonesia 4,62% (untuk usia di bawah 15 tahun)

Gerakan ‘Home Literacy’
SERAMBI/IBRAHIM ACHMAD
Sebanyak 39 Kakek dan Nenek serta pemuda yang tak pernah mengecap pendidikan formal yang buta aksara direkrut menjadi anggota siswa sekolah Program Indonesia Belajar. Mereka mengikuti program di SDN-II Kuta Blang,Sabtu (20/7). 

Oleh Muazzah

BERDASARKAN data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 lalu, angka buta huruf di Indonesia 4,62% (untuk usia di bawah 15 tahun), 1% (usia antara 15-44 tahun), dan 11,47 % (usia 45 tahun ke atas). Untuk Aceh sendiri, menduduki peringkat ke-17 diantara provinsi se-Indonesia untuk usia 15 tahun ke bawah, urutan ke 11 untuk usia antara 15-44 tahun, dan urutan ke 20 untuk usia 45 tahun ke atas.

Jika kita melihat data tersebut, Indonesia, khusunya Aceh masih harus terus berbenah dalam pemberantasan buta aksara. Menjadi PR kita bersama untuk menjadikan masyarakat Aceh melek huruf dan teknologi. Di saat negara-negara maju sibuk dengan penemuan besarnya, kita masih berkutat pada peningkatan kualitas literasi SDM. Minimnya sumber bacaan bukan lagi satu-satunya penyebab masih tingginya angka buta aksara di Indonesia. Akses buku yang sangat dimudahkan oleh pemerintah hingga menjamah ke segala penjuru daerah bukan lagi isapan kosong belaka.

Pemerintah dengan program buku gratisnya melalui Perpustakaan Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menerima pengajuan proposal tidak hanya untuk perpustakaan sekolah, namun juga untuk segala jenis komunitas baca. PT Pos juga dengan kebijakan “gratis pengiriman buku se-Indonesia” mendukung program pengiriman buku bantuan ke seluruh pelosok negeri.

Meski akses buku kian mudah, namun ketanggapan literasi di berbagai daerah masih sangat kurang. Meski hampir semua sekolah dilengkapi perpustakaan, namun minat baca usia pelajar juga masih sangat rendah. Tak mungkin hal tersebut terjadi begitu saja, tanpa ada sebab atau muasalnya. Segencar apapun program yang diluncurkan oleh pemerintah untuk mendongkrak kualitas literasi masyarakat, khususnya usia pelajar, jika mata rantai permasalahan belum terputus, maka semua akan menjadi sia-sia.

Jika berbicara Aceh, hampir semua kita bersepakat bahwa warung kopi jauh lebih banyak pengunjung ketimbang perpustakaan. Para orang dewasa lebih meluangkan waktunya melepas penat di sela waktu kerja dan selepas bekerja untuk duduk santai di warung kupi ketimbang membaca buku. Atau jika berkunjung ke dunia maya, maka berselancar di Facebook, Twitter, dan ber-WhatsApp ria adalah hal yang paling digemari ketimbang mengunjungi situs-situs ‘berilmu’ lainnya.

Orang tua tanpa sadar memberi contoh pola hidup bagi generasi muda, sehingga anak-anak usia pelajar juga lebih gandrung berkumpul di warung kopi ketimbang menghabiskan waktu di perpustakaan atau berdiskusi di sekolah dan kampus.

Padahal, jauh sebelum kita merdeka, Aceh sangat kental dengan pemahaman keilmuan. Meski tak ada sekolah, namun majelis-majelis ilmu hidup di banyak tempat; meunasah-meunasah, rangkang, dayah, sampai pendidikan pada al-Jami’ah seperti Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Para orang tua pada masa itu sadar sepenuhnya akan pentingnya ilmu dan terlibat langsung dalam pendidikan anak-anaknya. Berbeda jauh dengan kondisi masyarakat kita sekarang. Sehingga bisa dikatakan bahwa kita bukannya mengalami kemajuan, manun kemunduran yang sangat nyata.

Bergerak dari keluarga
Jika saja kita mau lebih peka, maka untuk menyuseskan Gerakan Literasi haruslah bermula dari penguatan pemahaman dan kesadaran keluarga. Membenahi para orang tua terlebih dahulu sembari meningkatkan minat baca anak. Mampu membaca tidak cukup untuk bekal generasi menghadapi tantangan abad 21, namun kecintaan pada buku dan ilmu pengetahuanlah yang sejatinya dibutuhkan oleh generasi mendatang. Butuh orang tua yang peduli dan men-support anak-anaknya untuk cinta buku sejak dini. Bukan dengan memaksa anak-anak untuk bisa membaca sejak dini, akan tetapi merangsang anak agar punya ketertarikan pada buku.

Jika hanya mengaharapkan sekolah sebagai satu-satunya media penumbuh keterampilan literasi, maka secara nyata dapat kita pastikan akan gagal sejak awal. Mengapa demikian? Menurut saya, sistem pendidikan kita yang masih berpola “kejar setoran”. Mengejar ketuntasan materi sebagai persiapan menghadapi Ujian Nasional yang menjadikan cara konvensional “hafal isi buku” justru mematikan akar minat baca. Guru lebih memaksa siswa untuk menemukan jawaban tunggal dari setiap pertanyaan yang diberikan dalam latihan, ulangan, dan juga UN, yang alih-alih membuat siswa tak lagi membutuhkan banyak wawasan dalam menggagas opininya.

Sekolah juga harus mau berbenah untuk sedikit merubah cara men-delivery pembelajaran di kelas. Tidak lagi hanya menyuruh siswa menghafal, namun lebih untuk menumbuhkan critical thinking para siswa. Meminimalkan tes yang meminta jawaban tunggal dan memperbanyak tes yag bersifat terbuka dan mengedapkan rekam proses. Selain itu, sekolah juga tidak dapat bekerja sendiri, butuh kerja sama dengan orang tua untuk menumbuhkan lingkungan yang mampu memupuk minat membacanya.

Orang tua yang sadar pentingnya akan minat baca pasti, bersedia meluangkan waktunya untuk menemani anak-anak membaca dan berdiskusi bersama. Menyadari akan hal penting tersebut, SD Sukma Bangsa Pidie menyisipkan reading day dalam mata pelajaran wajib di sekolah. Meski hanya satu jam pelajaran setiap minggu, namun cukup terasa manfaatnya. Karena satu jam di sekolah, dan sisanya pihak sekolah meminta keterlibatan orang tua dalam reading book di rumah. Siswa diminta untuk memilih buku cerita di perpustakaan SD untuk dibawa pulang ke rumah. Orang tua diwajibkan menceritakan isi buku tersebut kepada anaknya dan sebaliknya anak juga diminta menceritakan kembali isi buku tersebut dan berdiskusi tentang bacaan tersebut bersama orang tua mereka.

Dari kegiatan tersebut, sekolah mencoba merangkul para orang tua siswa SD untuk lebih terlibat dalam peningkatan minat baca siswa. Karena sebelumnya, program reading day seperti “jalan di tempat”. Anak-anak tetap saja kurang tertarik dengan buku meski program ini telah berjalan lebih dari setahun. Sekolah sadar, bahwa untuk membuat anak-anak gemar membaca butuh keselarasan misi antara sekolah dan rumah. Maka dicobalah program lanjutan reading book di rumah yang langsung melibatkan orang tua. Dan hasilnya cukup memuaskan, meski baru jalan hitungan minggu, namun pembiasaan di rumah untuk membaca buku memberikan efek yang sangat positif. Anak-anak lebih sering menceritakan buku-buku yang mereka baca di rumah kepada teman atau guru di sekolah, ketimbang berdiskusi acara tontonan di televisi yang kurang bermanfaat.

Anak-anak usia 2-12 tahun ibarat replika dari apa yang mereka lihat sehari-hari. Mereka memiliki daya ingat dan daya tiru yang mahacepat. Tidak perlu menyuruh mereka untuk melakukan sesuatu yang selalu mereka lihat setiap hari. Mereka akan sangat mahir menjalaninya, bahkan pada hal-hal yang buruk sekalipun. Seperti pepatah lama “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, dengan sangat jelas menunjukkan kehebatan anak-anak meniru perilaku orang dewasa, bahkan bisa lebih. Maka, memberi contoh yang baik dengan menyisihkan waktu untuk selalu berinteraksi dengan buku adalah cara yang sangat efektif untuk menumbuhkan minat baca anak. Ke depan diharapkan lebih banyak lagi keluarga yang sadar akan pentingnya home literacy, sehingga generasi bangsa ini benar-benar siap menghadapi era globalisasi. Salam literasi!

Muazzah, alumnus Master of Teacher Education, Tampere University, Finlandia dan saat ini Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Email: muazzahmuhammad@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help