SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Aceh Miskin tapi Bahagia

MASIH teringat dalam memori kita, ketika belum lama ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kemiskinan

Aceh Miskin tapi Bahagia
serambitv

Oleh Mustafa Ibrahim Delima

MASIH teringat dalam memori kita, ketika belum lama ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kemiskinan provinis-provinsi di Indonesia. Aceh pada waktu itu masuk dalam “10 Besar Provinsi Termiskin” di Indonesia dengan persentase kemisikinan sebesar 16,89%, sementara rata-rata Nasional sebesar 10,64%. Bahkan, Aceh menempati posisi puncak sebagai provinsi termiskin nomor wahid di pulau Sumatera.

Banyak pihak yang menghubung-hubungkan antara kemiskinan itu dengan dana Otonomi Khusus (Otsus). Menjadi ironis karena bagaimana bisa kemiskinan semakin mangkrak, padahal pada saat yang sama dana transfer dari pemerintah pusat yang diterima Aceh dari tahun ke tahun semakin bertambah. Sejumlah pihak pun mensinyalir adanya ketidakberesan (inefesiensi) dalam penggunaan dan alokasi anggran di APBA, sehingga ada pihak-pihak tertentu yang merasa “dikambing-hitamkan”.

Menjadi viral
Tentang kemiskinan Aceh menjadi viral setelah kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh, melalui Harian Serambi Indonesia, mengungkapkan bahwa faktor penyebab kemiskinan di Aceh adalah rokok. Pejabat Bappeda itu beralasan, akibat pengeluaran untuk rokok telah menggerus daya beli yang ada pada suatu rumah tangga miskin hingga menyebabkan berkurang pengeluaran untuk kebutuhan dasar.

Pernyataan pejabat Bappeda Aceh itu sebenarnya dapat dimaklumi bila penyebab kemiskinan dilihat dari faktor pengeluaran rumah tangga. Metode ini juga yang dipakai BPS dalam mengukur kemiskinan di Indonesia. Namun rupanya sebagian para warganet (netizen) tidak dapat menerima alasan tersebut. Alasan rokok sebagai “alasan lepas tangan” pihak pemerintah. Warganet sepertinya mengharapkan adanya alasan yang lebih konprehensif dan bertanggung jawab mengenai penyebab terjadinya kemiskinan di Aceh dari sekadar menyalahkan sebatang rokok.

Terlepas dari polemik soal penyebab kemiskinan, baru baru ini BPS merilis Indeks Kebahagian Indonesia, yaitu suatu indeks yang menyatakan tingkat kebahagiaan seseorang yang ditinjau dari tiga dimensi kehidupan, yaitu meliputi: dimensi kepuasan hidup (life satisfaction); dimensi perasaan (affect), dan dimensi makna hidup (eudaimonia).

Indek kebahagian kepuasan hidup sendiri diperoleh melalui Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) yang dilaksanakan pada April 2017 lalu. Ternyata, provinsi Aceh memiliki prestasi terbalik dari dari rilis BPS ini. Sebelumnya, Aceh dinyatakan termasuk dalam 10 Besar Provinsi Termiskin di Indonesia. Namun, dalam hal kebahagiaan, Aceh berada di atas rata-rata Nasional dan termasuk dalam “13 Besar Provinsi Terbahagia” di Indonesia dengan poin 71,96.

Indeks Kebahagiaan Indonesia sendiri sebesar 70,69. Komposisi Indeks Kebahagiaan Aceh sendiri tersusun dari indeks dimensi Kepuasan Hidup sebesar 72,95; Indeks dimensi Perasaan sebesar 68,56, dan indeks dimensi Makna Hidup sebesar 74,05. Bahkan, paling mencengankan adalah Aceh masuk tiga besar provinsi dengan penduduk paling bahagia setelah stetelah Sumatera Barat dan Sumatera Selatan di pulau Sumatera.

Tampaknya, idiom “biar miskin asal bahagia” cocok dengan apa yang terjadi di dalam masyarakat Aceh. Bagi masyarakat Aceh, terutama di pedesaan yang notabene sebagai orang yang paling akhir (the last) dan paling sedikit (the least) menikmati “kue pembangunan”, sepertinya miskin bukanlah alasan untuk tidak bahagia. Budaya meuseuraya (gotong royong) masih menghiasi keseharian mereka. Tegur sapa sesama tetangga menjadi hidup lebih hangat dan bermakna. Kebahagian bukanlah seberapa banyak kita mendapat proporsi dari program aspirasi, namun lebih sejauh mana kemauan untuk berbagi.

Kemiskinan adalah tentang keterbatasan seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya materi. Sedangkan kebahagian adalah suasana batin sebagai reaksi atas pemahaman dan pengamalan nilai-nilai yang menjadi pengangan hidup. Kebahagian juga tujuan hidup itu sendiri.

Materi bukan segalanya
Keberadaan materi bukanlah syarat satu-satunya untuk memperoleh kebahagiaan. Betapa banyak orang yang berlimpah harta, tapi mereka justru terpenjara dengan harta yang dimilikinya. Sebagai contoh kasus baru-baru ini, bagaimana seorang pemilik satu perusahaan travel ternama di Indonesia terpaksa berurusan dengan aparat penegak hukum akibat dugaan penggelapan dana jamaah umrah. Sebelumnya juga ada seorang yang mengaku kyai dan mampu menggandakan uang, akhirnya masuk bui.

Kebahagiaan erat kaitannya dengan suasana batin, sebagai reaksi atas bebagai hal yang menjadi kepercayaan dan pengalaman. Secara umum masyarakat Aceh dikenal masyarakat yang sangat agamis nan religius, nilai-nilai ajaran agama selalu menjadi landasan gerak bagi berbagai akvitas masyarakat.

Prilaku personal masyarakat Aceh yang tidak terlepas dari ajaran agama Islam sebagai keyakinan mayoritas, telah mengajarkan bahwa kunci kebahagiaan seseorang muslim adalah kemampuan ia bersyukur ketika mendapat rahmat, dan kesediaannya bersabar ketikan mendapat ujian. Selain itu ritual ritual keagaaman seperti shalat dan zikir juga menjadi faktor penentu kebahagiaan. Allah swt berfirman yang artinya, “Hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang”.

Tentu, indeks kebahagiaan yang dirilis oleh BPS sebagaimana kita singgung di atas, hanya sebatas kebahagiaan duniawi; kebahagian yang tesusun dari angka-angka numerik yang sifatnya relatif. Artinya, bisa saja berubah sesuai dengan perubahan zaman dan pengalaman dan pengamalan. Dan kebahagiaan sejati adalah kebahagian ketika kita bertemu dengan Sang Khaliq dan kita mendapatkan ridha-Nya.

* Mustafa Ibrahim Delima, SE., Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banda Aceh periode 2006-2007, sekarang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pidie. Email: mustafa@bps.go.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help