SerambiIndonesia/
Home »

Bisnis

» Mikro

‘Sang Kombatan’ Ada di New Zikra

Buku ‘Sang Kombatan’ kini sudah ada di Toko Buku New Zikra, Banda Aceh. Buku ini berisikan kisah

‘Sang Kombatan’ Ada di New Zikra

BANDA ACEH - Buku ‘Sang Kombatan’ kini sudah ada di Toko Buku New Zikra, Banda Aceh. Buku ini berisikan kisah nyata tentang konflik Aceh dan kisah-kisah di balik layar pertempuran GAM-RI yang belum banyak diketahui publik.

Menariknya, buku ini ditulis dalam bentuk novel, membuat pembaca seakan-akan ikut hanyut dalam kisah-kisah yang disajikan. Buku ‘Sang Kombatan’ ditulis dengan alur maju-mundur dan maju, dengan setting tiga tempat, yaitu Aceh, Yogyakarta, dan Malaysia.

“Buku ‘Sang Kombatan’ ini seolah buku nonfiksi yang difiksikan. Kita seperti berada bersama tokoh-tokoh yang diceritakan. Menarik sekali,” kata Manager Toko Buku New Zikra, Lailun Kamal, kepada Serambi, Minggu (10/9).

Lailun mengatakan, buku setebal 647 halaman ini ditulis oleh Murdani Abdullah Musa dengan menggunakan nama pena Musa. Musa sendiri merupakan tokoh utama di dalam buku tersebut, mantan Mahasiswa UGM Yogyakarta yang lebih memilih bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ketimbang menyelesaikan kuliahnya.

“Menurut keterangan penulis, buku ini diangkat dari kisah nyata berdasarkan apa yang dilihat dan dialami Musa. Tokoh-tokoh di dalam buku ini semuanya nyata, seperti Mualem (Muzakir Manaf), Sofyan Dawood, dan sejumlah tokoh GAM lainnya,” sebut Lailun Kamal.

Kisah yang diangkat, antara lain tentang perjuangan GAM dari darurat militer hingga perdamaian dan pemotongan senjata, serta kisah-kisah di balik layar pertempuran GAM-RI yang belum banyak diketahui publik.

Buku ini juga menceritakan tentang William Nessen selama berada di tengah-tengah kombatan GAM, termasuk cerita tolak tarik perdamaian di internal komunitas masyarakat Aceh yang sedang di Malaysia.

“Banyak informasi yang selama ini tidak kita ketahui diungkapkan dalam buku ini. Bagi yang berminat, sekarang sudah dapat membeli di Toko Buku New Zikra. Buruan sebelum kehabisan,” demikian Lailun Kamal.

“Menajdi separatis atau pahlawan bukanlah sebuah pilihan. Perbedaan keduanya sangatlah tipis. Tergantung dari segi mana kita melihatnya.”

“Damai juga bukanlah pilihan bagi para mantan kombatan GAM. Itu adalah peunutoh. Mau tak mau dan siap tak siap, mereka harus menerimanya. Dan berdamai, bukan berarti melupakan apa yang sudah terjadi.”

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help