SerambiIndonesia/

Nelayan Aceh Dipuji dalam Konferensi Internasional, Kenapa? 

“Tradisi kemanusiaan Aceh harus dilanjutkan terutama yang dipraktekkan oleh para nelayan,”

Nelayan Aceh Dipuji dalam Konferensi Internasional, Kenapa? 
DOK.ODI
Lilianne Fan

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Penyelamatan kemanusiaan  yang dilakukan oleh nelayan Aceh terhadap warga Rohingya yang terombang ambing di laut lepas mendapat pujian dalam konferensi internasional yang digelar di Aula Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (12/9/2017).  

“Tradisi kemanusiaan Aceh harus dilanjutkan terutama yang dipraktekkan oleh nelayan,” Lilianne Fan, Direktur Yayasan Geutanjoe saat menjadi pemateri pada kegiatan yang bertajuk “Peran Pemuda Aceh dalam Memahami dan Menanggulangi Krisis Kemanusiaan Minoritas Muslim Myanmar".

Baca: Pejuang Rohingya Gencatan Senjata

Dia menjelaskan bahwa hukum ada laut di Aceh secara ril telah menyelamatkan ribuan nyawa manusia perahu.

Praktik itu sudah beberapa kali dilakukan, dan terakhir tahun 2015.

“Kami dari Yayasan Geutanjoe snagat terharu atas tindakan nelayan. Kami terus mempromosikan disetiap ada acara, inilah tradisi di Aceh yang sangat murni,” kata dia.

Melalui acara itu, wanita berkebangsaan Malaysia ini mengajak semua pihak untuk peduli dengan nasib warga Rohingya yang diusir oleh pemerintahnya sendiri.

Baca: Dalai Lama; Mereka yang Melecehkan Muslim Rohingya, Harus Kembali Mengingat Budha  

Menurutnya, masalah yang terjadi di Rakhine bukan karena adanya perang senjata tapi lebih diakibatkan kegagalan kebijakan pemerintah dan operasi yang terus berlanjut.

“Seharusnya masyarakat Myanmar agar lebih serius menyelesaikan masalah ini agar krisis ini tidak berkelanjutan. Lebih 300 ribu orang sudah melarikan diri dari Rakhine. Mereka lari dari hutan-hutan ke Bangladesh. Di Bangladesh sendiri tidak memiliki tanah yang cukup untuk pengungsi Rohingya,” tuturnya.

Baca: Aceh Kumpul Beras untuk Rohingya

Pada konferensi internasional tersebut, selain Lilianne Fan ada empat pembicara lainnya yang diundang yaitu Kyaw Win (London -UK/Yangon - Myanmar), Joanne Lauterjung Kelly (Karuna Center for Peacebuilding), Daniel Awigra (Program Manager Advokasi ASEAN HRWG), dan Shadia Marhaban (Mediators Beyond Borders International). (*)

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help