SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

IPAL Kota Banda Aceh

PEMBANGUNAN Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kota Banda Aceh telah dibahas oleh Pemko Banda Aceh

IPAL Kota Banda Aceh
MAPESA
Lokasi penggalian salah satu kolam IPAL. Foto direkam aktivis Mapesa pada tanggal 11 Februari 2017 

(Akibat Lupa Sejarah)

Oleh Izarul Machdar

PEMBANGUNAN Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kota Banda Aceh telah dibahas oleh Pemko Banda Aceh dan Kementerian PU sejak lima tahun lalu (Serambi, 20/9/2012). IPAL yang akan dibangun berupa sistem terintegrasi (off-site system) dengan satu sistem pengolahan limbah untuk setiap kawasan (zona).

Dari perencanaan awal, seluruh kawasan Banda Aceh akan terkoneksi dengan sistem perpipaan air limbah (sewerage system). Sistem perpipaan mirip dengan perpipaan PDAM. Pipa air limbah ini hanya membawa air limbah cair domestik dari dapur, kamar mandi, dan toilet. Pipa tidak dianjurkan terkoneksi dengan limbah cair medis, limbah industri, atau bengkel.

Sistem IPAL Kota Banda Aceh dibagi dalam empat zona, yang masing-masing memiliki unit pengolahan limbah tersendiri. IPAL di Gampong Pande yang sedang mejadi polemik saat ini merupakan IPAL untuk Zona-2, yang perencanaan awalnya akan mengolah sumber-sumber limbah cair penduduk dari sebagian Kecamatan Meuraxa, Kutaraja, Baiturrahman, Banda Raya, dan sebagian Kecamatan Kuta Alam. IPAL terintegrasi ini nantinya diharapkan meniadakan septic tank individu.

Kelebihan sistem terintegrasi dibandingkan dengan septic tank individu, di antaranya terjaminnya hasil olahan limbah, mengurangi pencemaran air bawah tanah (banyak septic tank bocor karena pengaruh gempa dan tidak terdeteksi karena bangunan berada di bawah tanah), mengurangi kasus water-borne diseases (penyebaran penyakit dari air), meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan, dan mengefektifkan area tanah (bayangkan luas area satu septic tank sekitar 3 meter persegi dikali dengan ribuan septic tank yang ada).

Pengolahan limbah secara terintegrasi bukanlah metode baru dalam perencanaan pengembangan suatu wilayah. Di negara-negara maju seperti Inggris, metode ini telah ada pada akhir abad ke-19. Di Jepang sendiri, sistem pengolahan limbah cair domestik telah dibangun pada 1884 di area Kanda, Tokyo. Saat itu, Aceh masih sibuk berperang dengan Belanda. Di Indonesia sendiri, ada 12 kota besar yang telah membangun sistem terintegrasi (Status and Challenges of Sewage Treatment System in Indonesia, Machdar, 2012). Tetangga kita, Kota Medan telah memulai sistem ini sejak 1980-an yang dikenal dengan nama Medan Urban Development Project.

Melihat dari sejarah ini, apa yang Pemko Banda Aceh lakukan saat ini untuk membangun IPAL memang terasa sangat terlambat. Tapi ini tidak menjadi halangan, karena kalau dibandingkan dengan kota-kota di kabupaten Aceh lainnya, Banda Aceh sudah bangun dari tidur dalam hal perbaikan sanitasi.

Lupa sejarah (pertama)
Dari sisi desain unit pengolahan limbah, strategi dalam memilih jenis IPAL Kota Banda Aceh termasuk kategori mengulangi kesalahan sejarah yang sama apa yang dialami oleh kota-kota lain di Indonesia. Diketahui bahwa, umumnya proses pengolahan limbah domestik secara terintegrasi di Indonesia menggunakan sistem aerobik (aplikasi mikroba memerlukan oksigen), seperti kolam aerasi (aerated lagoon atau aerated pond), activated sludge, dan rotating biological contactor. Kegagalan sistem ini disebabkan tidak sanggupnya pengelola (pemerintah kota) menyediakan biaya energi listrik untuk aerator. Akibatnya, banyak kolam aerasi dibiarkan begitu saja atau tanpa aerasi yang cukup, sehingga limbah tidak terolahkan dengan sempurna. Ciri-ciri kolam pengolahan limbah kekurangan aerasi adalah timbulnya bau yang menyengat.

Coba baca kembali berita Serambi, sejarah lima tahun yang lalu itu (20/9/2012), dalam pertemuan dengan Pemko Banda Aceh dan Kementerian PU, di sana disebutkan IPAL Kota Banda Aceh direncanakan akan terdiri dari sistem anaerobik bukan aerobik. Biaya operasional sistem anaerobik (aplikasi mikroba tanpa oksigen) relatif lebih murah, karena tidak menggunakan peralatan aerator, produksi lumpur yang rendah (mengurangi biaya pengolahan lumpur), dan sistem ini menghasilkan gas metana (sumber energi).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help